Kucoba hilangkan lelah dengan membaca beberapa lembaran Al Qur’an. Sejak malam kemarin hingga tadi sore membersamai Bapak Endy M Bayuni, editor senior koran berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia, Jakarta Post. Cerita 2 hari ini (21-22 Februari 2012), bermula dari keinginan Mbak Jim, koordinator pendidikan publik CRCS UGM yang tak lain adalah atasan langsungku di kantor, untuk meningkatkan kualitas web CRCS. Lahirlah ide untuk membuat sebuah workshop penulisan di media online.

Berbekal rekomendasi uda Donny Syofyan dosen sastra Inggris yang telah menorehkan rekor menulis hampir 70 artikel opini di The Jakarta Post, kudapatkan email Pak Imanuddin Razak, salah satu editor The Jakarta Post. Beberapa kali berkorespondensi, ternyata agenda workshop yang kurencanakan mendapat sambutan antusias. Tidak tanggung-tanggung, Pak Imanuddin menghubungkanku dengan Pak Endy M. Bayuni.

Endy M. Bayuni adalah nama yang asing bagiku. Tetapi setelah googling, barulah mataku terbuka lebar. Ternyata beliau adalah jurnalis hebat yang telah malang melintang di media berbahasa Inggris. Sebutlah AFP, Reuters, dan The Jakarta Post. Nama terakhir inilah tempat labuhan pertama dan terakhir Pak Endy.

Selepas menamatkan kuliah S1 di Kingstone University Inggris, Pak Endy menjadi perwakilan biro perjalanan Natrabu di London. Selang beberapa waktu, Margareth Tratcher, perdana menteri Inggris kala itu, mengetatkan regulasi kerja bagi pendatang. Karena agak terlambat mengurus perizinan, beliaupun terpaksa kembali ke Indonesia.

Sebagai lulusan luar negeri dengan ijazah sarjana ekonomi beliaupun disarankan untuk melamar ke beberapa Bank asing yang membuka cabang di Indonesia. Secara tidak sengaja, saat hunting lowongan pekerjaan di koran Kompas, ada sebuah kolom kecil yang menarik perhatian Pak Endy. “Dibutuhkan jurnalis yang bisa berbahasa Inggris”. Sang pemilik iklan itu adalah The Jakarta Post yang saat itu mula berdiri. Bukan karena tidak diterima di tempat lain. Tetapi, panggilan pertama kali dari koran berbahasa Inggris itu, beliaupun memutuskan untuk bergabung di dunia yang agak berbeda dari latar belakang pendidikan sarjananya.

Mengawali karier sebagai wartawan baru yang buta dengan peta Jakarta, karena sekian tahun melanlang buana di luar negeri mengikuti karier ayahnya yang berstatus sebagai diplomat, Pak Endy beberapa kali dikibulin sama rekan-rekan wartawan senior. Suatu ketika beliau diminta untuk meliput kebakaran yang terjadi di sebuah tempat di Jakarta. Sebagai wartawan muda, perintah atasan itu langsung ditaati. Apa ayal? Ternyata daerah liputan yang dituju adalah lokalisasi pelacuran terkenal di Jakarta dan kebakaran yang terjadi hanya kebakaran kecil yang sebenarnya ngak layak muat di koran bahasa Inggris sekelas Jakarta Post.

Perjalanan karier Pak Endy terus bergulir ke Reuters, AFP, dan kembali lagi ke Jakarta Post hingga menduduki posisi puncak sebagai pimpinan redaksi. Memang jadi wartawan tak terlalu menyejahterakan secara finansial dibanding profesi lain. Akan tetapi, menjadi orang pertama yang menghadirkan berita kepada masyarakat adalah sebuah kepuasan tersendiri. Belum lagi pertemuan dengan banyak orang dari berbagai lapisan. Pak Endy sendiri sudah berjumpa dengan tokoh-tokoh terkenal di dunia. Namun bagi beliau, pertemuan dengan masyarakat biasa lebih inspiratif karena kisah mereka lebih jujur dan menghadirkan kesadaran akan realita yang berbeda.

Satu hal menarik yang sempat diungkapkan Pak Endy adalah terkait pandangan beliau tentang tinjauan ideologis bekerja di perusahaan asing. Banyak orang yang mencibir pilihan itu tidak nasionalis dan menyuburkan praktik-praktik kapitalis. Di sisi lain, ada juga yang menghalalkan tanpa sikap selektif. Dengan bijak beliau mengatakan,

“Selama perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia taat dengan aturan hukum dan membayar pajak, saya pikir pilihan bekerja di sana boleh-boleh saja. Apalagi pengalaman dan gaji yang diberikan lebih menjanjikan. Kalau kita cermati, para top manajer bank-bank terkenal di Indonesia kebanyakan pernah bekerja di Citi Bank. Tapi memang ada perusahaan-perusahaan asing itu yang sekedar mengeksploitasi kekayaan alam negeri ini, bahkan meninggalkan kerusakan lingkungan yang sedemikian parah. Saya punya teman di Freeport. Beberapa tahun bekerja, kemudian dia memilih keluar karena hatinya terus gelisah. Jadikanlah hati nurani sebagai penimbang, karena sesuatu yang baik itu pasti bisa dirasakan.”

Perjalanan Jakarta – London di tahun 1981 menjadi awal kisah romantis itu terjadi. Waktu tempuh yang lumayan jauh, membuat kesempatan berbincang dengan awak pesawat lebih panjang. Seorang pramugari yang sempat diajak ngobrol, ditinggali Pak Endy sebuah kartu nama yang berisi alamat beliau di London. Sambil meninggalkan pesan kalau ada waktu luang untuk bersilaturahim. Ida Rusdati Ismail, nama pramugari Garuda Airways yang cantik itu, memberanikan diri berkunjung. Perlahan timbul rasa cinta. Setelah 2 tahun berpacaran, Pak Endy-pun melamar Bu Ida. Awalnya beliau berkata pada diri sendiri, saya tidak akan menikahi gadis Minang. Dari perkenalan awal, beliau hanya tahu bahwa keluarga Bu Ida tinggal di Palembang. Tetapi Pak Endy merevisi kembali pendiriannya, karena keluarga Bu Ida berasal dari Batusangkar Sumatera Barat.   Itulah kekuatan cinta, mengalahkan semua.

Dengan kerendahan hati, Pak Endy bilang, apa yang beliau capai hari ini hanyalah penerus perjuangan keras Ayah beliau. Rasyid Bayuni, putra Bukittinggi yang ketika itu berusia 17 tahun (1936) memantapkan hati meninggalkan ranah Minang menuju pelabuhan Belawan. Menumpang sebuah Kapal, mulailah hari-hari sebagai anak rantau. Terlunta-lunta di Karachi karena kehabisan bekal, melanjutkan perjalanan ke Mekkah, hingga menginjakkan kaki di Baghdad pada tahun 1939. Karena kemauan keras dan prestasi cemerlang, Angku Rasyid memperoleh beasiswa Sekolah Menengah di Baghdad dan melanjutkan kuliah di University of Baghdad. Bersama dengan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang ada di sana, Angku Rasyid terus menggalang simpati dunia atas perjuangan Indonesia. Dari tahun 1946 beliau menjadi pimpinan redaksi sebuah tabloid yang menyuarakan pengakuan internasional atas proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hingga di tahun 1949, Agus Salim meminta beliau untuk mempersiapkan pendirian perwakilan Indonesia di Baghdad. Pada tahun 1950 berdirilah KBRI Irak dengan Rasyid Bayuni sebagai Kedubesnya.

Rasyid Bayuni dan Endy M. Bayuni adalah Ayah dan Anak yang menjadikan perantauan sebagai media pembelajaran diri untuk memberikan peran dan mengukuhkan eksistensi keberhasilan orang Minang yang merantau. Lewat tulisanlah mereka mampu melejitkan diri dan menjadi sosok-sosok yang memberikan warna bagi Indonesia.

Pak Endy, terima kasih atas 2 hari berkesan di Jogja

Mersi, mulai ditulis pada hari Rabu malam 22 Februari 2012 menjelang acara syukuran wisudamu Adinda. Kuselesaikan pada Ahad Pagi 26 Februari 2012..