Persis 2 tahun lalu. Saat aku persis berada dalam posisimu. Diwisuda oleh Rektor di gedung paling megah di Universitas Gadjah Mada, Grha Sabha Pramana. Hari ini aku hadir dalam kebinggungan. Beberapa hari lalu, aku pikir tidak akan datang. Tapi tadi siang, sungguh keinginan untuk memberikan selamat kepadamu begitu mengebu. Setelah meminta izin kepada Mbak Lina, sang kepala kantorku yang baik hati, akupun segera mencari sosokmu di antara puluhan ribu orang yang hiruk-pikuk di tengah terik mentari yang cukup panas.

Setengah jam aku memutari gedung berarsitektur Joglo, hasilnya nihil. Aku tidak menemukanmu. Hingga di tengah keputusasaan, aku putuskan untuk kembali balik ke kantor. Di gerbang menuju fakultas Ilmu Budaya, terdengar suara yang memanggil namaku. Timbul rasa gembira. Engkau tampil cantik dengan jubah hitam wisuda yang tak sembarang orang yang bisa memakainya. Sejenak aku terpaku. Riuh teman-teman asrama menertawakan kita. Sambil membuang rasa nervous, akupun mengeluarkan kamera kantor yang kupinjam sama Mbak Lina. Teman-teman asrama sontak mendekatimu. Akupun sibuk dengan mencari fokus yang bagus untuk mengambil gambar.

Tiba-tiba dirimu mendekat. Sekejap, engkau sudah ada di sampingku. Kucuba ulurkan tangan. Engkau menyambut, meskipun kurasakan engkau masih canggung. Mungkin karena norma-norma agama yang masih terpatri di dalam alam bawah sadarmu. Kiki, teman angkatanmu di asrama, memotret kita yang sedang berdiri berdampingan. Kemudian, engkaupun pamit karena memang harus segera menuju perpisahan di fakultas.

Sesampai di kantor setelah sholat Dzuhur di Masjid Kampus UGM. Hatiku merasakan gemuruh. Anganku melayang ke 6,5 tahun lalu, ketika engkau datang pertama kali di Jogja. Gadis pemalu dengan jilbab besar. Apalagi ternyata engkau memiliki suara yang teramat merdu. Saat engkau mengalunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, saat itulah aku merasakan getaran tak biasa.

Aku semakin masyuk dengan perasaanku, karena engkaupun ternyata seorang penggemar Siti Nurhaliza. Biduanita Malaysia yang telah membuatku tergila-gila sejak kelas 1 SMP lewat alunan “Betapa Ku Cinta Padamu”.

Beberapa waktu ini, harus kuakui, ada rasa kesel karena silaturahim dan obrolanmu bersama teman-teman asrama agak kelewatan. Aku kecewa karena engkau agak berubah dari sosok gadis pemalu yang dulu pernah kukenal. Tapi kadang aku tak menyadari banyak peristiwa yang membuatmu menjadi seperti sekarang. Inilah yang cuba kuinsyafi saat ini. Sama seperti keinsyafanku tentang pergulatan pemikiran yang kualami. Hingga akhirnya aku bisa menerima dan memahami dirimu yang sekarang.

Selain 2 hal itu, tiada kutemui cela dalam dirimu. Sungguh engkau adalah gadis impianku selama ini. Wajahmu nan teduh, jilbabmu yang masih lebar, kecerdasanmu, kepintaranmu dalam memasak, dan tentunya suara merdumu yang selalu hadirkan kesejukan hati.

Hujan perlahan mereda di sore ini, saat aku menarikan jemari untuk menuliskan bait-bait ini. Aku masih larut dalam riak-riak hati yang tak menentu. Kasih, izinkanlah kukirimkan sebuah bait lagu Kak Siti, Gelora Cinta:

Pertemuan yang tak diduga
Renunganmu mempesona
Memukau hati dan minda
Menerbitkan suatu rasa di jiwa

Gemuruh tiba-tiba jiwaku
Gentar menyambut salam darimu
Tidak terlahir kata-kata
Senyuman pengganti bicara

Kiranya dulu ku pernah terluka
Dalam bahagia hati ku tersiksa
Dalam ceria aku sebenarnya gerhana

Hadirnya kau dalam hidupku
Membawakan sinar baru
Dan kini rindumu
Sering datang untuk bertemu

Apakah kau merasakannya
Bagai ada gelora asmara
Bahangnya melodak di jiwa
Hingga tak tertanggung rasanya di hatiku