Artikel ini telah dipublish oleh Buletin “Sukriya” Atase Pendidikan KBRI di India

80 produsen pulp dan kertas yang beroperasi di Indonesia (berdasarkan data Kementerian Perindustrian), berhasil memproduksi 12,178 juta ton kertas (data Asosiasi Pengusaha Kertas Indonesia pada tahun 2008), dengan 3 kelompok kertas: kertas budaya (tulis, cetak, koran, majalah, buku dan sebagainya), kertas industri (liner, kraft, board dan lainya) serta kertas khusus (tissue, sigaret, kertas uang dan sebagainya). Dari jumlah itu, 42%-nya berupa jenis kertas budaya.[1] Namun sampai detik ini, pemenuhan konsumsi kertas itu masih bergantung pada deforestasi yang menimbulkan dampak lingkungan dan sosial luar biasa, seperti perubahan iklim karena efek rumah kaca, hilangnya habitat hewan, terusirnya masyarakat pedalaman, dan konflik karena perebutan lahan antara masyarakat dengan perusahaan seperti kasus Mesuji yang hangat beberapa bulan yang lalu.

Komitmen dan janji perusahaan kertas untuk melakukan reboisasi dan memperluas tanaman hutan industri membutuhkan waktu yang lama untuk perealisasiannya. Sehingga, penebangan hutan-hutan lindung menjadi pilihan ekonomis dan praktis yang digunakan oleh pelaku bisnis kertas. Hal ini senada dengan rilis yang disampaikan oleh Greepeace Indonesia terkait rencana kebijakan dari Kementerian Kehutanan, Pertanian dan Kementrian ESDM yang mengungkapkan ekspansi sektor-sektor industri pulp pada sampai tahun 2030 akan membuka 28 juta hektar lahan baru untuk perkebunan kayu yang termasuk di dalamnya kayu untuk pulp.[2]

Maka, jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini adalah merubah paradigma konsumsi. Industri kertas terus tumbuh dikarenakan permintaan yang terus meningkat. Situasi akan lain jika ada alternatif baru. Produksi kertas sebenarnya bisa kita kurangi dengan peralihan budaya lama yang masih mengandalkan produk print out menuju budaya elektronik. Di titik inilah saya hendak mengatakan bahwa penemuan e-reader yang marak beberapa tahun ini menjadi solusi atas persoalan lingkungan yang saya uraikan di atas.

The Association of American Publishers (AAP) mencatat peningkatan 202% pembelian ebook di Amerika selama bulan Februari 2011 dibandingkan periode Februari 2010. Sementara penjualan print book mengalami penurunan sebesar 25% dengan perbandingan periode yang sama. Namun, untuk konteks Indonesia rasanya kecanggihan e-reader dengan koleksi ribuan buku masih menjadi barang mewah. Bayangkan saja harga beberapa e-reader yang saat ini menguasai pasar Indonesia dijual dengan harga lumayan mahal untuk kantong sebagian besar orang Indonesia. Merek Kindle,Kobo,Nook dan iPad dijual antara kisaran 1 juta sampai 5 juta.

Kabar gembira datang negeri tetanggga, India, yang belakangan menguncangkan dunia lewat produk-produk industrinya. Untuk menjembatani kesenjangan pendidikan, sejak tahun lalu pemerintah India mengeluarkan investasi besar-besaran untuk riset pengembangan teknologi tablet di pusat-pusat teknologi akademik mereka. Hasilnya, ditemukan Aakash Tablet dengan spesifikasi menyerupai iPad 2 yang berbandrol $499 (hampir 5 juta rupiah). Sementara Aakash hanya dijual seharga $35 (sekitar 300-an ribu rupiah) untuk pelajar/mahasiswa dan 2500 rupee (sekitar 450 ribu) untuk konsumen biasa.

Kehadiran produk dari negara-negara bukan pemain lama teknologi informasi memang masih menyisakan keraguan banyak orang. Kampanye gencar Aakash juga tak lepas dari kritik. Zeenews misalnya, pada 13 Januari 2012 lalu merilis artikel “10 reasons why Aakash tablet can be a failure”[3] yang menguraikan kelemahan Aakash dari sisi kerentanan kerusakan prosesor, kapasitas memori rendah, daya tahan baterei, tampilan yang buruk karena memantulkan cahaya, touchscreen yang terlalu resistif, cepat panas, tidak didukung fasilitas Bluetooth, tidak ada upgrade aplikasi, hardware tidak akan didukung upgrade konektivitas Wi-Fi yang masih minim di India, dan tidak memiliki speaker eksternal.

Pandangan sinis ini langsung direspon Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia India, Kapil Sibal. Dengan bersemangat Kapil mengungkapkan komitmen untuk meningkatkan fitur Aalkash 1 atas kritik dan masukan dari pengguna. Iapun memastikan bahwa versi terbaru (Aalkash 2) yang direncanakan dirilis pada bulan April 2012 nanti, akan jauh lebih baik. Proses perbaikan dan pengembangan ini mengandeng Indian Institute of Technologi (IIT).[4]

IIT adalah pusat pendidikan yang didesain untuk melahirkan ilmuan dan teknisi mumpuni di bidang teknologi. Sejak 60 tahun yang lalu dengan keberadaan IIT pertama di Kharagpur (1951), pemerintah India terus memperluas keberadaan IIT di berbagai kota di India. Mulai dari IIT Bombay di Mumbai (1958), IIT Madras di Chennai (1959), IIT Kanpur di Kanpur (1959), IIT Delhi di New Delhi (1963), IIT Guwahati di Guwahati (1994), IIT Roorkee di Roorkee (2001), IIT Ropar di Rupnagar (2008), IIT Bhubaneswar di Bhubaneswar (2008), IIT Gandhinagar di Gandhinagar (2008), IIT Hyderabad di Hyderabad (2008), IIT Patna di Patna (2008), IIT Rajasthan di Rajasthan (2008), IIT Mandi di Mandi (2009), dan IIT Indore di Indore (2009). Tak sekedar mencetak para tenaga kerja yang siap pakai oleh industri, IIT digiring untuk menopang perkembangan ekonomi dan sosial India. Sepak terjang IIT bukan sekedar narsisme India belaka. Pada tahun 2010, pemerintah Inggris mempercayakan uang £9.2 million untuk riset teknologi komunikasi digital yang melibatkan IIT.[5]

Indonesia boleh dikatakan cukup familiar dengan produk-produk digital buatan China. Gelondongan berbagai barang elektronik dari China memenuhi pasar Indonesia dengan tren merek yang silih berganti. Kita tentu boleh-boleh saja menaruh curiga, ekspansi Aalkash mirip dengan produk China, “Harga Murah Kualitas Rendah”. Namun keterlibatan IIT bisa membuang pemikiran apatis itu. Produk digital China kebanyakan merupakan hasil industri rumah tangga. Tentu akan berbeda dengan kualitas inovasi IIT yang telah diakui secara internasional sebagai pusat riset teknologi.

Daripada sibuk memikirkan kawasan hutan mana lagi yang akan digunduli, rasanya lebih arif apabila perusahaan kertas di Indonesia mencoba mengalihkan investasinya untuk pengembangan e-reader, baik itu melalui kerjasama bisnis maupun kerjasama pendidikan. Tenaga kerja potensial yang mereka rekrut dari lulusan terbaik perguruan tinggi yang ada di negeri ini, bisa dikirimkan ke IIT untuk belajar pembuatan e-reader yang berkualitas dengan harga murah. Perguruan tinggipun bisa mendukung lewat penyedian e-book berkualitas melalui modifikasi skripsi, tesis, disertasi, ataupun hasil penelitian dosen dan mahasiswa yang selama ini lebih banyak bertumpuk, penghias perpustakaan. Saya pikir, pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri melalui KBRI India, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan bisa memfasilitasi.

Kita semua bisa membayangkan efek positif dari inovasi e-reader murah berkualitas dengan keterlibatan pengusaha, akademisi, dan pemerintah. Tidak saja menyelamatkan sisa-sisa hutan yang sangat diharapkan masyarakat internasional sebagai pelindung dari bencana pemanasan global, tetapi juga meningkatkan gairah membaca yang nantinya akan berpengaruh juga produktifitas karya tulis.

Menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan quote dari Margaret Fuller, “Today a reader, tomorrow a leader.” Hari ini membaca, besok menguasai dunia. Hari ini kita mengembangkan e-reader murah meriah, agar nanti bisa tersenyum cerah karena menjadi orang-orang yang cerdas.

[1]http://duniaindustri.com/umum/478-pulp-dan-kertas-indonesia-kuasai-25-pasar-dunia.html?tmpl=component&print=1&page=
[2]www.greenpeace.org/seasia/id/
[3]http://zeenews.india.com/business/technology/10-reasons-why-aakashtablet-can-be-a-failure_36995.html
[4] http://aakashtablet.org/
[5]http://www.timeshighereducation.co.uk/story.asp?storyCode=413450&sectioncode=26