Kamis Sore, 19 Januari 2012 terasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bukan karena hujan tak turun (sejak Ahad lalu, Jogja terus diguyur hujan ketika sore), tapi kemunculan tak terduga Dr. Mochtar Naim, sosiolog kenamaan Indonesia, di kantorku. Kedatangan ilmuwan dan pejabat hebat sebenarnya adalah hal yang biasa di CRCS UGM. Selama 10 bulan aku bekerja di CRCS UGM hampir setiap hari ada tamu-tamu keren. Sebutlah Prof. Anthony Reid (Sejarawan Asia Tenggara), Prof. David Reeve (Peneliti tentang sejarawan Indonesia ONG HOK HAM), Prof. Willem B. Dress (guru besar filsafat agama dari Leiden University), Prof. Robert Hefner (Indonesianis dari Boston University), Prof. Anna M Gade (Muslimah yang menjadi pengajar di University of Wisconsin-Madison USA) dan Hon Anne Tolley (Menteri Pendidikan Selandia Baru) serta sederetan nama lainnya.

Pertemuan ini menjadi begitu spesial karena baru pertama kali aku bertatap muka langsung. Nama beliau sudah begitu familiar bagiku, terutama sejak bergabung dengan mailing list orang Minang se-dunia, Rantau Net. Belakangan, secara khusus Dr. Mochtar Naim meng-cc setiap email yang berisi artikel-artikelnya ke emailku.

Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa gerangan beliau mampir di kantor. Setelah dipersilahkan bergabung dalam obrolan beliau bersama Dr. Zainal Abidin Bagir, direktur CRCS UGM, aku tercenung beberapa saat. “Saat ini saya berpacu dengan waktu. Saya punya 2 keinginan sebelum meninggal. Merampungkan 10 jilid kajian tematik Al Qur’an dan membukukan seluruh karya-karya yang pernah saya tulis,” lirih suara kakek yang sudah berumur 79 tahun pada 25 Desember 2011 lalu itu.

BERPACU DENGAN WAKTU. Kata-kata itu diucapkan beliau dengan tegas meski tersimpan kekhawatiran keburu dipanggil Allah. 10 jilid tematik Al Qur’an tinggal 2 jilid lagi yang belum rampung, yakni tentang etika dan aqidah.  “Aqidah adalah sesuatu yang berat untuk diulas meskipun menjadi hal terpenting dalam Islam,” argumen beliau.

Sementara 700 judul tulisan-tulisan beliau yang belum dibukukan bertebaran di mana-mana. Jika dikumpulkan bisa setebal 7000 halaman buku. “Saya ingin tulisan-tulisan saya dibukukan seperti teman-teman yang lain. Karena sayang rasanya jika tak dikumpulkan jadi satu.”

Menyelesaikan Master di bidang Islamic Studies di Universitas Mc Gill, Montreal Kanada tanpa ijazah sarjana adalah kisah unik yang juga beliau sampaikan kemarin. Berawal dari kedatangan Prof. Wilfred Cantwell Smith (Direktur Pusat Kajian Islam di Mc Gill) di tahun 50-an ke Yogyakarta. Mochtar Naim muda yang saat itu sedang bergiat di HMI bersama teman-temannya ditawari untuk mempelajari Islam di Kanada. Kesempatan emas itu tak beliau sia-siakan. Dengan bekal surat rekomendasi dari Buya HAMKA, Mochtar Naim diterima sebagai mahasiswa Master Islamic Studies.

Tamat dari Mc Gill tahun 1960, beliau kemudian terbang ke USA untuk meneruskan studi doktor bidang sosiologi di New York University. Semua mata kuliah selesai diambil, tetapi Pak Mochtar tak sempat menyelesaikan disertasi. Atas kebaikan seorang sahabat lama yang saat itu menjadi direktur Ford Foundation, Mochtar Naim berhasil akhirnya memperoleh gelar doktor di National University of Singapore pada tahun 1974 dengan disertasi yang melambungkan nama beliau,  Merantau: Minangkabau Voluntary Migration.

Entah karena bawaan pendidikan surau ala Minangkabau yang beliau dapatkan, atau memang karena umur yang sudah larut senja (laruik sanjo), di pertemuan sore kemarin tampak jelas keyakinan beliau bahwa Islam adalah solusi dari segala persoalan di dunia saat ini. “Orang-orang di Eropa sudah kehilangan akal. Teori-teori yang mereka sampaikan tak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Dan saat ini, mereka mencoba melirik Islam. Kita harus menjadi subjek. Kita rangkul semua agama, tapi kitalah yang tampil ke depan.”

Pertemuan dengan Dr. Mochtar Naim semakin menyadarkanku tentang sosok manusia Minangkabau yang sebenarnya. Berbasah-basah dengan pemikiran barat, tetapi Islam tetap nomor satu di hati. Bukankah banyak kita lihat orang-orang yang berkesempatan kuliah di luar negeri, kemudian malah berbalik menyerang Islam.

Obrolan dengan Dr. Mochtar Naim semakin menguatkan tekadku untuk meneruskan proyek website Filsafat Minangkabau. Terus berkarya hingga tutup usia Pak. Mudah-mudahan di usia Bapak ke 80 tahun nanti, cita untuk merampungkan 10 jilid kajian tematik Alqur’an dan penerbitan buku tulisan-tulisan Bapak dikabulkan oleh Allah. Amien