Hujan belum jua reda. Padahal sudah lewat jam 4 sore. Sebenarnya aku bisa saja pulang, karena membawa mantel hujan. Tapi keberadaan Mas Anam yang sedang duduk di parkiran Sekolah Pascasarjana UGM, mengurungkan niatku untuk cepat-cepat pulang. Cerita mengalir, tanpa terduga dan tak dibatasi oleh tema.

Mas Anam adalah guruku sewaktu mengambil kelas Intermediate Conversation di Jogja English Dormitory Gowok sekitar bulan Mei 2010 yang lalu. Setelah kelas berakhir, kami tak pernah lagi bertemu. Sampai suatu hari ia datang ke CRCS untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru. Kebetulan juga, saat itu aku mulai bekerja sebagai web admin CRCS.

Di tengah obrolan ngalor-ngidul tadi sore, Mas Anam memberitahuku sebuah film bagus, Confessions of a Shopaholic, sebuah film komedi romatik Amerika keluaran  2009 yang diangkat dari Novel Shopaholic karya Sophie Kinsella. Film yang berkisah tentang Rebecca, seorang jurnalis gardening magazine yang terbelit hutang karena gila belanja lewat kartu kredit. Bukan soal pesan moral penghematan yang menarik bagi Mas Anam, tetapi keputusan Rebecca menolak tawaran Alette, sebuah majalah fashion terkenal yang sudah diimpikannya sejak lama.

“Kadang kita tidak sadar bahwa kesempatan yang kita dapatkan saat ini diincar oleh ratusan, ribuan bahkan jutaan di luar sana”, kata Mas Anam. Kesempatan yang didapatkan Rebecca, bekerja di Alette adalah impian banyak jurnalis. Tetapi ia malah membiarkan kesempatan emas itu  berlalu begitu saja.

Aku tercenung dengan kalimat Mas Anam. Akhir November lalu, aku hendak mengundurkan diri dari CRCS UGM. Karena kesadaran akan keterbatasan diri, belitan editan buku yang harus dirampungkan dan stigmatisasi liberal yang dilekatkan banyak orang pada CRCS. Kusampaikan semuanya kepada atasan.

Soal keterbatasan dijawab dengan, “Gun, kami memilih kamu karena tulisanmu itu punya nyawa dan pengalamanmu mengurus blog. Kelemahan bahasa Inggrismu, bisa kami maklumi. Tapi kamu bisa memaksimalkan potensi untuk menutupi kelemahan itu kan?” Stigmatisasi liberal dijelaskan panjang lebar langsung oleh Direktur. Disampaikan blak-blakan tanpa ada yang ditutup-tutupi, hingga aku sadar akan apa yang diperjuangkan oleh CRCS, dunia yang damai demi kebahagiaan umat manusia.

Keesokan harinya aku kembali dipanggil. Ditanyakan lagi apakah niatku untuk resign mau diteruskan? CRCS masih memberiku kesempatan untuk tetap bekerja. Pilihan tergantung diriku, mau keluar silahkan, mau terus diperbolehkan. Setelah kupikir ulang, akhirnya aku putuskan untuk bertahan.

Benar apa yang disampaikan oleh Mas Anam. Dengan segala kelemahan, aku beruntung bisa bergabung dengan sebuah program studi bertaraf internasional yang dicari-cari dan ingin dimasuki banyak orang.

Hampir 8 bulan aku bekerja,  tak terhitung lagi ilmuwan-ilmuwan hebat, para peneliti beken, dan pejabat-pejabat negara asing yang datang di CRCS. Pengalaman yang tak akan  mungkin kudapatkan jika terus menjadi pengangguran atau bekerja di tempat lain.

Atas dasar itulah aku sangat bersyukur dengan apa yang kuperoleh hari ini. Tidak saja perlahan melepaskan ketergantungan finansial dari orang tua, tetapi terbukanya cara pandang baru dalam melihat dunia lewat perkenalan dengan orang-orang hebat yang ada di CRCS. Benar-benar anugerah istimewa yang merubah jalan hidupku.

Hujanpun mulai reda. Hingga kamipun memutuskan untuk beranjak pulang. Terima kasih Mas Anam. Sungguh obrolan sore tadi membuatku tersadar akan hal-hal luar biasa yang selama ini kuanggap biasa-biasa saja…