Ka ratau madang di ulu,
Babuah babungo balun,
Ka rantau dagang (bujang) daulu,
 Di rumah baguno balun”

Pepatah ini sering dikutip oleh banyak penulis ketika berbicara tentang kebudayaan merantau pada masyarakat Minang, baik dalam bentuk disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku-buku, ataupun sekedar artikel singkat. Sayangnya, pepatah ini lebih banyak disisipkan begitu saja tanpa sebuah penelusuran lebih jauh. Hanya sebatas “diklaim” sebagai “motivasi adat”, kenapa orang Minang merantau.

Padahal jika dicermati lagi, ada indikasi filosofis dari ungkapan “Ke rantau bujang dahulu, di rumah (kampung) belum berguna”. Apa itu? PRAGMATISM, sebuah paham filsafat yang mengatakan sesuatu bermakna ketika memiliki implikasi praktis di tengah-tengah kehidupan. Eksistensi yang didasarkan kepada “kebergunaan”. Jarang dijelaskan apa yang dimaksudkan dengan “baguno” (berguna) dan apa parameter seseorang dianggap “baguno”. Apakah materi, ilmu pengetahuan atau apa? Tapi potret  realita menunjukkan orang kampung lebih mengelu-elukan orang rantau kalau bisa membawa mobil dan meninggalkan setumpuk uang pas lebaran daripada tawaran pemikiran baru.

Beban psikologis sebagai orang teralineasi memang melipat-gandakan semangat bekerja orang rantau. Kalau tak berhasil di suatu tempat, maka pindah ke tempat lain. “Kok iduik tambah sangsaro, eloklah rantau dipajauah”, begitu alunan syair lagu-lagu Minang memprovokasi.

Di sisi lain, muncul fenomena unik dimana orang-orang rantau yang sukses malas pulang kampung .Bukan karena faktor ketidakmujuran nasib. Di antara mereka adalah tokoh nasional atau saudagar-saudagar kaya. Tetapi lebih memilih “mati” di negeri orang karena tak lagi “nyaman” di tanah kelahiran sendiri.

Oleh karena itu, saya menilai pepatah di atas kurang relevan dijadikan sebagai landasan orang Minang merantau. Baik dari sisi kesulitan verifikasi maknanya maupun dari sisi implikatifnya. Saya lebih cenderung melirik pepatah lain, “Baniah indak tumbuah di pasiangannyo” (Benih tidak tumbuh di tempat persemaiannya). Ketika benih padi setinggi 10-30 cm, petanipun mulai memindahkan mereka ke petak-petak sawah. Di tempat yang baru itu mereka memulai hidup baru, tumbuh, melawan hama, bertarung dengan cuaca hingga akhirnya berbuah. Menghasilkan bulir-bulir padi yang siap dipanen setelah melewati masa-masa sulit.

Di antara padi itu, ada yang ditumbuk menjadi beras. Dikirim ke berbagai daerah untuk dikonsumsi banyak orang. Sebagian disisihkan untuk dijadikan benih. Agar sawah bisa ditanami kembali. Jeraminya ada yang dibakar, dibuat kompos, ataupun diolah untuk makanan ternak. Sementara tunggul-tunggul yang tersisa dibongkar dengan bajak/traktor, hingga akhirnya lebur bersama tanah.

Sebagian perantau Minang berhasil menjadi orang besar. Kehadirannya melewati batas-batas etnisitas. Ada yang harus kembali pulang ke asal, mengabdikan diri di tanah kelahiran agar sawah tak terlantar dan digantikan lahan-lahan bisnis oleh developer perumahan. Ada yang melarat di negeri orang, hilang tak tahu rimbanya. Ada yang jadi anak buah orang untuk bertahan hidup. Ada yang menjadi penjahat karena kehilangan akal untuk mencari uang dengan cara-cara halal.

Pepatah “di rumah paguno balun” menyiratkan pengusiran secara halus kepada anak laki-laki Minang (bujang) yang secara adat memang tak berhak atas harta warisan. Mereka dididik untuk bisa survive tanpa harus menyusahkan keluarga.

Dalam perspektif Freudian, pilihan merantau adalah cara terbaik untuk mengatasi persoalan Oedypus Complex antara anak laki-laki dengan bapaknya dalam memperebutkan cinta sang ibu. Tapi adat pula yang mengekang mereka tak boleh menikah dengan wanita asing di tanah rantau demi pemertahanan garis keturunan. Situasi yang amat dilematis. Namun apa daya, itulah nasib laki-laki Minang. Disuruh pergi kala dianggap belum berguna tapi tetap diikat pilihan-pilihan pribadinya.

Pepatah lahir dari alam bawah sadar. Oleh karena itu, muatan pragmatisme merantau ala Minang tidak akan hilang jika masih banyak yang terus mengutip pepatah-petitih tanpa sikap kritis. So, jika demikian pantaskah “Ka ratau madang di ulu………” tetap kita dengung-dengungkan dan banggakan???