Pertanyaan besar yang selalu menggelayuti pikiranku, “Kenapa bangsa ini tak kunjung maju?” Beberapa orang merasa puas dengan melemparkan penyebab kepada orang lain, tanpa pernah mau sedikit berkaca pada diri sendiri. Sering orang mengatakan kehadiran ilmuwan asinglah yang mengekalkan penjajahan lewat determinasi Neo Kolonialisme. Tetapi apakah itu benar sepenuhnya?

Momen bedah buku di hari Selasa yang lalu, 22 November 2011 di Gedung Pascasarjana UGM. Ungkapan curiga Prof. Suhartono (Sejawaran UGM) terhadap tendensi ilmuwan asing dijawab dengan pernyataan mencenggangkan seorang Indonesianis Australia, Ibu Jennifer Linsday. “Pekerjaan sejarah adalah pekerjaan siapa saja, bukan soal orang dalam atau orang luar. Semua berangkat dari semangat mengungkap apa-apa yang selama ini tersembunyi.” Jennifer menambah, “Di Australia sendiri orang lebih suka mempelari teknologi. Sejarah tidak lagi menjadi jurusan favorit di perguruan tinggi. Bahkan Pemerintah saya sendiri (Australia) juga bodoh tentang sejarah.”

Tidakkah kita berani untuk mengakui, keterpurukan negeri ini lebih dikarenakan kita memelihara sifat MUNAFIK. Bukan karena sekedar meninggalkan Sholat Shubuh dan Isya (konteks Islam) sebagaimana yang selalu didengungkan oleh para pengkhotbah kita di mimbar-mimbar masjid. Tetapi lainnya hati dengan perkataan dan ketidaksinkronan perbuatan.

Seseorang yang digadang-gadang sebagai tokoh Reformasi begitu bersemangat  menjelek-jelekan Presiden Indonesia periode ini dengan berbagai macam sumpah-serapah di malam Ramadhan yang agung Agustus lalu. Anehnya, kemarin Kamis dia dengan suka-cita menjadi saksi pernikahan putri Ketua Umum Partainya dengan anak Presiden yang pas Ramadhan dulu dihujatnya.

Teman-teman yang dulu menjadi aktivis Islam dan tahu benar dengan fatwa ulama yang menetapkan keharaman bunga Bank, tetapi menikmati gelontoran gaji sekian puluh juta dan tak berani berhenti. Padahal dengan kemampuan dan kepintaran yang dimiliki, ia sangat mungkin untuk mencari ataupun membuka usaha yang lebih selamat dari praktek ribawi.

Ustadz yang tampak alim menyampaikan Qur’an dan Hadist Nabi di TV sama-sama berapi-apinya berkomentar di infotaiment selebriti. Ajaib sungguh ajaib. Ia melewati pagi-paginya dengan khutbah-khutbah surgawi, tetapi di siang hari membeberkan aib mantan istri sendiri.

Teman-teman yang dulu anak MAPALA. Saban hari bercerita tentang penyelamatan lingkungan hidup. Tetapi “melacurkan diri” bekerja di perusahaan kertas dan kelapa sawit yang membabat habis jutaan hektar hutan di negeri ini. Mereka punya alibi, perusahaan saya kan punya program penanaman kembali. Tetapi apakah semua itu sebanding dengan kerusakan hutan-hutan lindung yang dulu masih asri, pemanasan global yang membuat dunia ini tidak lagi nyaman ditempati, dan para petani yang kebinggungan menentukan waktu tanam disebabkan kaburnya musim hujan dan musim kemarau.

Para pejabat kita tak pernah sadar untuk mengundurkan diri. Padahal jangankan perbaikan yang dilakukan, malah selama ia memimpin keadaan semakin runyam. Berbagai pembelaan disampaikan untuk menutupi kekurangan. Kalau perlu sewa retoris hebat yang bisa memutar balikkan fakta. Tidak seperti orang Jepang yang rela melepaskan jabatan hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tak sepenuhnya menjadi kesalahan dia. Tapi rasa tanggung jawab sebagai pimpinan teratas, ia lebih memilih pergi daripada sibuk berapologi.

Orang-orang kaya di negeri ini lebih asyik menghabiskan duit untuk haji dan umrah. Padahal Nabi hanya mewajibkan sekali saja seumur hidup. Tak hanya sekedar mengabaikan puluhan juta orang miskin yang tampak jelas di depan mata, tetapi juga medzalimi saudara-saudara sesama muslim lain untuk menjalankan kewajiban syar’i karena kerakusan mereka menyerobot jatah kuota.

Sekarang pertanyaannya cuma satu, apakah kita berani untuk melepaskan semua kemunafikan itu meskipun harus melepaskan semua kenikmatan hasil aksi bermuka dua?  Apakah kita mau sengsara demi idealisme dan nilai-nilai agama yang kita yakini? Kalau TIDAK, usahlah bicara tentang kejayaan Indonesia. Karena yang membuat kehancuran bangsa ini bukanlah penjajah asing, tetapi sifat kemunafikan pribumi yang lebih durjana dari kompeni.