22 November 2011 pagi. Aku tak menyadari ada telepon masuk dari Doni, sahabatku yang kerja di Bank Mandiri Jakarta. Saat itu, aku masyuk dengan uraian yang disampaikan oleh Kelli Swazey, dosen CRCS berkewarganegaraan USA tentang 3 pendekatan dalam penelitian antropologi (primordialism, perennialism dan constructialism). Kukirimkan pesan, menanyakan apa gerangan. “Gun, Papa Elsa meninggal dunia.” Aku langsung shock. Beberapa menit kemudian setelah kelas Miss Kelli berakhir, kutelpon balik Doni. “Elsa lagi nyari tiket pesawat Gun. Tadi pas Doni telpon ia masih nangis.”

Ya Allah, hatiku langsung ngak karuan. Jika ada uang berlebih, ingin aku menemani Elsa pulang kampung. Tapi keuanganku minus. Tak ada yang bisa kulakukan. Ingin ku memaki diri sendiri. Menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa di saat Elsa menghadapi musibah ini.

Pikiranku terbang menuju momen beberapa bulan yang lalu. Saat kesempatan pulang lebaran. Aku masih sempat ngobrol dengan Papa Elsa. Beliau tampak sumbringah karena kedatangan putri-putrinya yang bekerja di Jakarta. Kebahagiaan beliau tampak lengkap dengan kehadiran cucunya yang imut-imut dan lucu. Sebuah kebahagiaan yang sampai hari ini belum bisa kuberikan kepada orang tuaku.

Aku dan Elsa bertetanggaan. Rumah kami cukup dekat di sebuah kelurahan kota kecil yang terkenal di Sumatera Barat dengan berasnya. Aku dan Elsa sama-sama bersekolah di SD Pertiwi Sinapa Piliang. Elsa adalah murid yang cerdas hingga bisa menembus SMP favorit di kota kami, SMPN 1 Kota Solok. Sementara aku, hanya diterima di SMP kelas dua, SMPN 4 Kota Solok. 3 Tahun kami berpisah, kemudian bersua lagi di SMAN 1 Kota Solok. Aku beruntung satu kelas lagi dengan Elsa. Tapi tetap saja Elsa lebih unggul dariku. Elsa masuk 10 besar teratas, sementara aku hanya masuk kelompok 10 besar terbawah. Sering aku datang ke rumah Elsa sekedar menanyakan PR ataupun meminjam buku dan catatan pelajaran. Maklumlah, di sekolah aku adalah siswa pemalas yang sering kena marah oleh para guru. Saat-saat kedatangan itulah Papa Elsa, Pak Syawal, yang membukakan pintu untukku. Sambil menunggu Elsa memasang jilbab di kamar, Pak Syawal-lah yang menemaniku nan tampak kebinggungan di dekat pintu. Maklumlah, aku masih sangat culun dan pemalu kala itu.

Musholla Al Munawwarah dekat rumah kami adalah tempat aku menghabiskan waktu selepas Magrib sampai menjelang adzan Isya. Ngobrol dengan Papa Elsa dan jama’ah lain. Rutinitas yang masih berlanjut sampai saat ini, dimana aku lebih suka ngobrol dengan orang-orang tua daripada teman-teman seumuranku.

Ramadhan 1999, aku mendapatkan proyek untuk membersihkan jejak-jejak cat di jendela kaca musholla dari Pak Syawal. Dikasih uang lelah yang lumayan. Seingatku itulah momen pertama kali aku menikmati uang hasil keringat sendiri.

Papaku dan Pak Syawal, sebelum Departemen Penerangan dibubarkan, adalah rekan kerja. Secara bergantian mereka berputar-putar dengan mobil kantor untuk memberitahu event-event yang diadakan oleh Pemerintah Daerah, baik itu turnamen sepakbola, pemutaran layar tancap, ataupun pengumuman yang perlu disampaikan kepada khalayak.

Agustus 2002. Aku terbang ke Jogja karena dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Filsafat UGM. Menjelang keberangkatan, aku sempat pamitan dengan beliau di Musholla Al Munawwarah. Sejak itu, hilanglah kebiasaanku duduk-duduk berbincang selepas Magrib sampai masuknya waktu Isya. Karena di Jawa, aku tidak menemukan chemistry itu lagi.

Beberapa kali kesempatan pulang kampung, Musholla Al Munawwarah adalah tempat yang paling ingin kudatangi. Pak Syawal, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu jama’ah masih seperti dulu. Masih menyapaku dengan wajah kegembiraan. “Kapan sampai di kampung Gun? Lama-lamalah tinggal di kampung”, itulah pertanyaan dan komentar mereka saat wajah tak asingku kembali mereka temui. Dengan Pak Syawal obrolanku lebih panjang. Karena beliau selalu menanyakan perkembangan kuliahku di Jogja sambil menyela-yelakan berita tentang keadaan Elsa, putri bungsu beliau yang tak lain adalah sahabat masa kecilku. Setiap akan balik ke Jogja, beliau selalu mengingatkanku untuk segera menyelesaikan kuliah.

Kepulangan yang kubuat-buat heroik lebaran lalu, menumpang kapal dari Tanjung Priok ke Teluk Bayur karena hendak meniru roman-roman Angkatan Baru, menyimpan sebuah keinginan untuk menyampaikan sesuatu kepada Papa Elsa. Ya, aku ingin melamar Elsa untuk jadi istriku. Tapi niat itu akhirnya batal karena Elsa tak memberi izin. Hingga aku kembali ke Jogja dengan linglung karena tak sampai maksud hati yang sudah kupendam cukup lama.

Berita duka kemarin pagi yang kuterima, sungguh menyesakkan. Terlalu cepat rasanya. Aku memang telah mencoba mengalihkan hati kepada gadis lain setelah Elsa menyatakan tak bisa menerimaku sebagai pendampingnya. Tapi jauh di lubuk hati ini, cinta dan pengharapan itu masih ada. Hanya satu orang yang bisa mengugurkan tekadku untuk menikah sebelum merampungkan S2. Siapa lagi kalau bukan Elsa.

Ahhh. Entahlah.. Hidupku perlahan hancur. Seperti jasad Pak Syawal yang juga perlahan hancur setelah dikebumikan selepas Ashar kemarin di tanah kelahirannya, Kenari kata Papaku lewat sms-nya siangtadi. SMS-ku tiada dibalas Elsa. Telponku juga tak diangkat. Padahal aku hanya ingin menyampaikan perasaan sedih karena kehilangan sosok Bapak yang dulu selalu memberikan semangatku di sela-sela Magrib dan Isya di Musholla Al Munawwarah.

Tapi kuyakin, bukan karena Elsa benci padaku. Suasana duka yang teramat mendalam tentu sangat berat baginya. Elsa butuh menyendiri. Elsa butuh suasana sepi untuk perlahan bangkit dan melupakan takdir sedih ini. Aku tahu betul, hati Elsa begitu lembut. Kelembutan yang membuatku begitu sayang padanya…