Kerja di kantor berantakan. Editan buku terbengkalai. Kursus Bahasa Inggris di Sanata Dharma kacau. Membuatku benar-benar berada di titik lemah. Kuberharap dengan ikut Lomba Blog yang diadakan oleh Pusat Studi Pancasila UGM bisa membuatku bangkit. Tapi raihan peringkat 16 membuatku patah semangat seraya bertanya apakah aku memang punya kemampuan di bidang penulisan.

Sering pikiran untuk menghentikan usaha penerbitan muncul. Tapi aku takut, jika aku diberhentikan dari CRCS apalagi jalan buatku untuk bertahan di Jogja. Kadang timbul juga keinginan untuk berhenti bekerja di CRCS sehingga bisa konsentrasi dengan usaha penerbitan dan kursus di Sanata Dharma untuk persiapan mencari beasiswa S2. Tapi aku terlanjur senang dengan atmosfer intelektual di sana.

Dilema, itulah yang kuhadapi saat ini. Pulang kerja di sore hari telah membuat letih tak bertenaga di malam hari. Waktu berharga di weekend lebih banyak terpakai untuk mengurus percetakan buku, pengiriman pesanan buku, pengajian, dan kewajiban bersih-bersih di asrama.

Aku tak ingin mengkhianati janji-janjiku pada sosok-sosok hebat sekaliber Mas Gonda, Buya Mas’oed, dan Pak Asmun yang sampai hari ini pengerjaan editan buku  mereka masih setengah jalan. Aku ngak mau jadi orang munafik. Aku ingin menyelesaikan amanah dan menjaga kepercayaan mereka. Apalagi masih kuat keinginanku untuk melanjutkan S2 Publishing Studies.

Di sisi lain, aku tak ingin kesempatan berharga yang diberikan oleh CRCS terhenti segera. Karena banyak kesempatan belajar dan pandangan baru yang kudapatkan. Belum lagi perjumpaan dengan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia yang sangat tidak mungkin kudapatkan kalau aku tidak bekerja di sana.

Saat dilema inilah, aku membutuhkan kehadiranmu dek. Karena cinta yang telah membuatku berhasil melewati sempadan hidup selama ini. Lewat cinta Greaty aku bisa menembus UGM dan meraih gelar sarjana. Bersama harapan yang diberikan oleh Elsa, aku bisa terus bertahan melalui masa-masa setahun lebih menjadi pengangguran. Namun, Greaty sekarang sudah menikah dan Elsa-pun telah memilih untuk bersama dengan yang lain.

Hari ini, aku menyandarkan harapanku kepadamu. Sebuah harapan besar. Karena setiap kali kulihat fotomu, saat itu pula dirimu seolah berkata, “Ayo, Uda bisa mengerjakan itu semua…”  Perlahan cinta bertahta di hatiku sekaligus menjadi setetes embun saat aku letih dan haus di tengah perjalanan di bawah terik mentari siang.

Besok adalah ulang tahunku yang ke-27. Aku tak ingin terbelit dalam status remaja galau yang terus-menerus diliputi kebimbangan. Aku telah memutuskan bahwa aku akan tetap menunggumu selama dirimu memberikan aku kesempatan. Aku akan bangkit untuk mengerjakan yang terbaik di kantor, menyelesaikan amanah editan buku, dan kembali bersemangat mengikuti kelas-kelas Bahasa Inggris di Sanata Dharma demi perjuangan mendapatkan beasiswa S2. Karena ku tahu hanya pemuda istimewa yang berhak untuk menjadi pendampingmu. Dek Reno, izinkan aku untuk menjadi pemuda istimewa itu.