Saat teman satu kamar yang dulu jarang sholat ke masjid, lebih asyik pacaran daripada baca alqur’an tiba-tiba berubah menjadi sangat religius, tiap hari sholat malam; rutin ngerjain puasa sunnah; saban waktu membersihkan masjid dekat asrama membuatku tercenung dengan apa yang terjadi dengan diriku belakangan ini. Dulu, aku seorang penganut Salafi dengan jenggot panjang dan celana cingkrang. 3 tahun lalu berubah menjadi “Orang Muhammadiyah”, masih rajin ngaji tapi tak lagi menyisakan atribut Salafi. Beberapa bulan belakangan perubahan itu semakin drastis. Aku larut dalam pemikiran yang oleh teman-temanku yang sholeh disebut sebagai “aliran liberal”. Lebih asyik mengejar dunia karena kupikir akan membuat bisa mewujudkan impian-impianku selama ini.

Aku masih sholat. Masih ikut pengajian minimal sekali seminggu. Tidak ada pergolakanku kepada Tuhan sebagaimana yang terjadi dengan Achmad Wahib. Tetapi aku dilanda sebuah kebinggungan yang teramat besar tentang situasi dunia yang membuatku kehilangan kekuatan untuk terus mempertahankan prasangka baik.

PERJUANGAN MENUJU DUNIA TANPA KEBENCIAN DAN RASA CURIGA. Namun, rasanya perjuangan menuju dunia baru yang damai tak lebih dari sekedar wacana utopis di tengah pertarungan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai. Di tengah hegemoni negara-negara adikuasa terhadap dunia ketiga.

Percampuran antara agama dan budaya lama dianggap sebagai kecerdasan masyarakat beradaptasi dengan perubahan. Padahal budaya lama itu menyisakan paham-paham feodal dan membuat orang terbelenggu dengan berhala-berhala manusia. Golongan minoritas yang coba dibantu ternyata semakin eksklusif dan menganggap orang-orang di luar kelompoknya juga sesat. Apalagi yang mesti diperjuangkan?

Saat kutanyakan kepada Prof. Yunahar Ilyas terkait persoalan kebenaran agama, sebenarnya bukanlah hal yang relatif. Semua yang ada di dunia ini bisa dikomparasikan kebenarannya. Kita bisa menguji kebenaran agama itu dari sisi kitab suci yang diklaim sebagai wahyu Tuhan. Manakah di antara kitab-kitab suci itu terjaga dari pemalsuan? Manakah yang masih menggunakan bahasa asli dari mula diturunkan hingga kini? Manakah yang sekedar “mimpi” orang-orang paranoid yang ingin dipuja dan manakah yang benar-benar murni dibawa oleh sosok suci yang memang telah dipilih Tuhan untuk menyampaikan pesannya kepada umat manusia?

Memang ada yang mengatakan bahwa agama itu soal metafisik. Soal bagaimana manusia menangkap pesan-pesan Tuhan. Makanya terjadi  keberagaman agama di dunia ini. Tetapi apakah logis ketika pesan itu berbeda satu sama lainnya? Apakah kita menutup mata dari catatan sejarah tentang keberadaaan pemimpin-pemimpin agama yang jahat yang merobah pesan Tuhan untuk kepentingan nafsunya belaka? Tak bisakah kita menggunakan akal kita untuk mencari kebenaran agama?  Jika ilmu pengetahuan bisa kita verifikasi, maka agama yang menyangkut keyakinan seharusnya lebih patut kita analisis dengan pertimbangan-pertimbangan logis. Memang akal itu punya keterbatasan. Tapi akal yang jernih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika tidak bisa, apa bedanya kita dengan hewan?

Aku teringat dengan sebuah firman Tuhan: ”Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An Nahl : 93)

Secara harfiah, ayat ini bisa dipahami bahwa Tuhanlah “aktor” utama yang membuat manusia tersesat. Jika demikian, berarti manusia tak lebih sekedar wayang yang mengikuti permainan tangan sang dalang. Kalau begitu, kenapa Tuhan harus menghukum orang yang ia sesatkan? Ataukah sebenarnya maksud dari ayat ini adalah bentuk kemarahan Tuhan kepada orang-orang yang telah membunuh para nabiNya, merubah ajaran yang telah disampaikanNya, dan orang-orang ingkar yang lebih mendahulukan nafsunya daripada perintah Tuhan?

Entahlah… Aku juga masih mencari-cari jawaban atas semua pertanyaan itu…