Tahukah teman-teman, ketika memasukan kata “Pancasila” di search engine paling populer di dunia, Google, ada 26,200,000 link yang bisa diklik baik berupa berita, artikel, diskusi, gambar, video, dan buku. Coba bandingkan dengan raihan yang “Boyband Indonesia” yang saat ini “digilai” anak-anak muda Indonesia, cuma terkoneksi sekitar 6,100,000 jaringan atau “Boyband Korea” baru menembus angka  4,550,000 link. Artinya popularitas Pancasila di dunia maya tidak perlu dikhawatirkan. Sayapun percaya ketika Ibu/Bapak dosen di perguruan tinggi atau Ibu/Bapak guru memberikan PR untuk mata kuliah/mata pelajaran Pancasila, mahasiswa/i dan siswa/i kita lebih banyak berselancar di internet daripada membaca buku-buku Pancasila yang kebanyakan isinya persis sama meskipun berbeda penerbitan. Apalagi mata kuliah Pancasila dan Kewargaan atau pelajaran PKN ada subjek wajib yang “dipaksakan” untuk diambil.

Saya tidak sedang berhipotesis bahwa mata kuliah/pelajaran yang berbau Pancasila itu tidak penting. Tetapi hanya mencoba melihat imbas “paksaan” itu yang menjadi persoalan kita. Di satu sisi, mahasiswa dan pelajar yang terjerat dengan paham-paham transnasional menempatkan Pancasila tak lebih sebagai “berhala”. Secara pribadi saya pernah bersinggungan dan terbelenggu jeratan pemikiran “Agama (Islam) vis a vis dengan Pancasila” ini. Di sisi lain, ada anak-anak muda yang menganggap Pancasila cuma artefak kuno yang tak terlalu penting bagi masa depan mereka. Maka tak salah, dalam satu kesempatan acara Book Fair di Yogyakarta saya mendapati seorang siswa SMA yang menyebut “Persatuan Indonesia” sebagai sila pertama Pancasila ketika menjawab quiz berhadiah yang diadakan oleh panitia.

Marilah kita sedikit mengalihkan pandangan ke lapangan hijau Gelora Bung Karno Senayan yang beberapa minggu ini menjadi venue Sepakbola SEA GAMES ke 26. Para suporter dengan atribut merah putih memadati stadion yang pembangunannya dibiayai dana pinjaman dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS pada tahun 1958 itu. Belum lagi ratusan juta pasang mata yang terpaku di depan televisi. Para “pahlawan baru” yang menghadirkan harapan baru itu dijuluki “Garuda Muda”. Memang tidak ada status “Pancasila” di berbagai media online. Tapi histeria kegembiraan berkat kemenangan yang mereka raih telah menghiasi facebook anak-anak muda di negeri ini dengan berbagai variasi kata.

“Garuda Muda” adalah kolaborasi anak-anak negeri berbakat dari berbagai suku di negeri ini. Ada Oktovianus Maniani, Stevie Bonsapia, Patrick Wanggai, Titus Bonai, dan Lucas Mandowen yang tampil “menggila” meski di tanah kelahirannya sedang terbakar konflik Papua Merdeka. Ada Diego Michiels, ekspatriat yang rela meninggalkan kehidupan menyenangkan di negeri Belanda (termasuk bermain di Liga Belanda dan kewarganegaraan Belanda) demi membela negeri tanah leluhurnya. Mereka bahu-membahu dengan 14 pesepakbola berbakat lainnya dari berbagai penjuru negeri ini: Kurnia Meiga, Andritany Ardhiyasa, Gunawan Dwi Cahyo, Septia Hadi, Yericho Cristiantoko, Hasyim Kipuw, Abdulrahman, Egi Melgiansyah, Mahadirga Lasut, Ferdinand Sinaga, Yongky Aribowo, Andik Vermansyah, Ramdhani Lestaluhu, dan Hendro Siswanto.

Sebuah pertanyaan besar hadir, kenapa mereka lebih disambut heroik oleh masyarakat Indonesia dan dielu-elukan anak muda daripada kuliah berbusa-busa yang telah susah payah dibuat menarik oleh para dosen dan guru-guru kita? Jawabnya cuma satu, BUKTI. Mereka tidak menyajikan sederetan kalimat-kalimat mutiara tentang Pancasila. Mereka hanya berlari – menendang bola sekuat kemampuan dan tenaga yang dipunya. Patah dan cidera tak menjadi halangan demi meraih kemenangan. Walaupun kalau kita bandingkan dengan pengorbanan nyawa para pejuang 45, apa yang diberikan “Garuda Muda” belum apa-apa. Tetapi, mereka telah menghadirkan semangat nasionalisme baru lewat sepakbola.

Diskusi panjang lebar tentang makna dan urgensi Pancasila hanyalah menjadi obrolan kosong tak berbekas. Apalagi di tengah perilaku para pemimpin negeri yang menjadikan jabatan sebagai lumbung untuk menambah pundi-pundi kekayaan pribadi. Kontradiksi yang membuat anak-anak muda semakin apatis. Sekarang, di era multimedia, yang dibutuhkan anak-anak muda kita adalah kisah-kisah inspiratif yang membuat mereka optimis menghadapi masa depan. Mungkin cerita itu tak terlalu terlalu banyak “mengumbar” kata-kata Pancasila, tapi secara intrinsik mampu menjelaskan Pancasila dalam ranah praktis.

Di titik ini, saya akan membawa teman-teman ke belantara lain. Seorang penulis muda hebat yang masih berusia 30 tahun, Agustinus Wibowo. Dengan genre baru di bidang penulisan “traveling writing”, ia mampu memukau banyak orang lewat karya petualangannya di Asia Tengah atau negeri-negeri berakhiran -TAN (Afganistan, Tajikistan, Turmekistan, Kirgistan, Uzbekistan) yang telah diterbitkan oleh Gramedia: “Selimut Debu” dan “Garis Batas”. Suatu kali dalam kesempatan Bedah Buku di kantor tempat saya bekerja (CRCS UGM), sang penulis muda ini menyampaikan keprihatinannya akan kelatahan orang Indonesia dengan bahasa Inggris. Semua diInggriskan seolah tak menaruh kebanggaan dengan bahasa Indonesia. Agustinus adalah keturunan Chinese yang masa kecilnya dikerubungi ejekan para “pribumi”. Ia menguasai 11 bahasa. Tapi ia tetap cinta Indonesia dengan semangat “Perjuangan terberat kita adalah melebur garis-garis batas yang telah menorehkan sejarah panjang penuh darah di negeri ini.” Tapi Indonesia masih beruntung daripada Afganistan katanya. Indonesia masih punya Pancasila yang paling tidak telah menahan perpecahan di negeri ini.