Tadi malam pekerjaan editanku terhenti karena sebuah tayangan di Metro TV. Program Suara Anda yang biasanya berisi komentar pirsawan atas beberapa cuplikan berita, dimodifikasi dengan tajuk bulanan baru “Sarasehan Anak Negeri“. Tayangan yang mengundang tokoh-tokoh penting di negeri ini untuk berbicara tentang persoalan bangsa. Ada Jusuf Kalla, Yusril Ihza Mahendra, Fahmi Idris, Eep Saefullah Fattah, Bambang Soesatyo, Yunarto Wijaya, Tjipta Lesmana, Indra J Piliang, Iwan Piliang, Sabam Sirait, Nurul Arifin, Ganjar Pranowo, Yusron Ihza Mahendra, Johnson Panjaitan, Endarto, AM. Fatwa, Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto, Soetiyoso, Din Syamsuddin, dan sejumlah orang-orang “hebat” di negeri ini.

Meskipun telah disetting demikian rupa, namun jam tayang yang berpacu dengan iklan membuat siaran ini tak lebih dari kilasan komentar-komentar 1-2 menit yang tak bisa menjelaskan persoalan secara komprehensif. Tak salah apabila sarasehan live itu terkesan “Pengadilan in Absentia” yang lebih banyak “mencaci maki” daripada memberikan solusi. Sebagian besar berbicara bak pahlawan, dan memposisikan diri sebagai orang “bersih”, Rekomendasi yang dibacakan di akhir acarapun lebih kepada seruan moral agar pemimpin nasional lebih bersikap tegas dan tak lamban. Entah seberapa efektif “menyadarkan” pihak-pihak yang hendak diberikan nasehat?

Ada beberapa lontaran aneh yang nir makna seperti perkataan Sabam Sirait yang menjurus kepada konsep Parlementer dengan mencontoh periode Soekarno yang “dibantu” perdana menteri, atau ungkapan Nurul Arifin yang terlalu mempersoalkan citra politisi muda di mata masyarakat dan tudingan munafik yang disandarkan kepada Alqur’an oleh Din Syamsuddin kepada SBY. Bahkan ada yang lebih “seram” dengan menakut-nakuti bahwa negara ini sudah dikuasai mafia dan sedang bergerak menuju negara gagal.

Jika dengan bubarnya Indonesia dan kemudian rakyat mulai mencari penghidupan baru yang lebih baik dari hari ini, rasanya tak perlu merasa berdosa kepada para pahlawan bangsa. Mereka berjuang mengorbankan nyawa karena tak rela melihat rakyat menderita. Tetapi ketika proklamasi kemerdekaan hanya momentum mengalihkan penjajahan bangsa lain dengan penindasan oleh bangsa sendiri, apalah arti hidup bernegara? Namun, tentu saja kita tidak ingin bangsa ini hancur. Karena tak ada jaminan negara baru akan membuat rakyat lebih makmur. Semua tidak akan berarti apa-apa apabila penyakit kekuasaan tetap menjakiti para pemimpin baru.

Pernahkan mereka menengok dan sedikit berefleksi tentang para si mbah yang tetap mengumbar senyum mengendong sayur ke pasar sebelum subuh datang meski seringkali rugi karena orang-orang lebih suka datang ke supermarket dan minimarket; para pemulung yang tak letih mengais tumpukan sampah busuk agar bisa membeli sepiring nasi; para pengemis kecil yang bertarung dengan panasnya mentari siang dan hirupan asap beracun di tengah para pengemuda kendaraan yang enggan memberikan uang recehan; para siswa yang tetap rajin sekolah, meskipun terus disodori beban pelajaran tak masuk akal demi lulus ujian nasional; para mahasiswa masih setia mendatangi kampus, meskipun angka pengangguran sarjana terus naik?

Mereka tetap bersemangat, sambil terus bertahan karena tak mau menyerah dengan keadaan. Jika demikian, pantaskah para elite itu membawa semangat keputusasaan? Padahal yang sedang memegang kendali adalah mereka. Yang menandatangani proyek-proyek menghabiskan uang negara adalah mereka.  Yang membuat rakyat sengsara adalah mereka. Yang menjual berbagai macam sumber daya di negeri ini adalah mereka. Kita percaya mereka bisa mengemban amanah yang kita berikan melalui PEMILU untuk menyejahterakan kita. Tapi setelah mereka memiskinkan kita, mereka kemudian membunuh harapan kita akan masa depan?

Di titik ini saya menemukan kebenaran ucapan Fahri Hamzah beberapa waktu lalu, rakyat bisa mengurus dirinya sendiri, tidak perlu menyerahkan kekuasaan pada segelintir orang dengan asumsi mereka akan memperjuangkan nasib rakyat. Memang begitulah realita yang ada. Orang-orang kampung berangkat ke luar negeri meski hanya jadi pembantu rumah tangga. Para dosen mengabdi di negeri tetangga, karena pemerintah mengabaikan mereka.  Para sarjana mencoba merintis usaha baru daripada menunggu tanpa kepastian kapan lowongan baru akan dibuka. Rakyat Indonesia sudah cukup adaptif untuk bisa survive dalam keadaan sesulit apapun. Karena mereka masih percaya Tuhan, yang akan tetap memberikan rizki selama mereka masih berusaha. Jadi, wahai para elite, cukuplah membuat rakyat sengsara dengan kelakuan anda. Tapi jangan bunuh harapan yang sampai detik ini mereka jaga…