UNTUK SEMUA,
UNTUK AKTIF AJAK SEMUA PEMILIK HAK PILIH DI KOTA YOGYA
AGAR SEMUA FAHAM DAN JUGA AJAK YG LAINNYA
AGAR ZUHRIF YANG NOMOR SATU DIPILIH, BELIAU TERBUKTI AMANAH DAN BERPENGALAMAN URUS ANGGARAN, BIKIN PERDA2 KOTA YOGYA DUA PERIODE DLL
AYO SEMUA SEMANGAT ! BARANG SIAPA TUNJUKKAN YANG TERBAIK UNTUK SEMUA, MAKA BAGINYA PAHALA BERLIPAT DUNIA DAN AKHIRAT

Sepenggal kalimat persuasif itu adalah status yang ditulis oleh ustadz Nashir Harist, salah petinggi PKS di Jogja. Zuhrif Hudaya yang berpasangan dengan Aulia Rezza (disebut-sebut sebagai kader Nasional Demokrat) adalah nama yang diusung oleh PKS untuk bertarung dalam Pilkada Jogja 25 September 2011 nanti. Kader internal yang digadang-gadang mampu menyaingi Hanafi Rais (putra sulung tokoh yang katanya reformis, Amien Rais) dan Haryadi Suyuti, incumbent yang saat ini menjabat Wakil Walikota Jogja.

Tanggapan heroikpun berdatangan di bagian komentar fb sang ustadz. Salah satu yang membuatku “tertawa” adalah komentar seorang akhwat yang kayaknya cukup religius, “Semoga Allah meridhoi, untk kemenangn da’wah di jogja,, smg diberi yg terbaik.amin.” Bukan hendak memperolok-olok do’a sang pemberi komentar, tapi hal yang sama tentu dido’akan oleh pendukung kandidat lain yang juga beragama Islam. Tuhan tentu tidak akan binggung do’a mana yang mesti dikabulkan. Tapi perang do’a di langit tentu menjadi fenomena menarik untuk dibahas.

Okelah, saya tidak akan masuk dengan masalah metafisik yang jelimet tadi. Kali ini, saya hendak membawa pembaca sekalian pada bahasan yang lebih teknis. Bertajuk Pilkada JOGJA, saya sangat berharap pesta demokrasi di kota yang dihuni ratusan ribu intelektual ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dari Pilkada di daerah-daerah lain yang “kurang intelek”.

Alih-alih berharap sesuatu yang lebih, malahan saya mendapati situasi sebaliknya. Kampanye terbuka dengan jurkam orang-orang Jakarta yang secara kasat mata tampak wah, tak lebih dari pembuktian bagaimana uang Jakarta membanjiri Jogja. Aksi klaim dukungan dari Raja Mataram, Sri Sultan Hamengkubuwono dan Walikota saat ini, Heri Zudiyanto yang dinilai banyak pihak sukses memimpin Jogja 10 tahun terakhir, semakin mengentalkan nuansa feodalistik. Jejeran spanduk dan pamplet yang serampangan di jalan-jalan, fasilitas umum, lingkungan kampus, bahkan ada yang terpampang di rumah-rumah ibadah, merusak nuansa estetis kota yang menyebut dirinya sebagai “Kota Budaya” ini. Bagi-bagi paket, bingkisan, parcel dan uang, sama saja dengan money politik – mempengaruhi pemilih lewat kepedulian sosial.

Masyarakatpun terpecah pada salah satu calon berdasarkan kedekatan kepentingan dan beberapa karena faktor kesamaan ideologis. Sebagian besar antusias menyaksikan idolanya bercuap-cuap menyampaikan berbagai janji dan semakin sumbringah ketika dititipi kado perpisahan. Hanya sedikit yang masih punya harga diri menolak pemberian berpamrih dari sang calon.

Orang-orang kampuspun turut terpecah dengan jagoan masing-masing. Para pakar yang biasanya bicara garang mengkritik pemeritah pusat, berubah aneh dan pendiam. Cuma satu dua yang masih memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang bahaya demokrasi transaksional. Kebanyakan orang kampus terjerat penyakit apatis, karena sudah muak melihat perilaku politisi yang tak berubah, baik pemain lama maupun pemain baru yang memakai cara-cara lama.

Politik itu memang menghadirkan euforia dan kemeriahan plus gelontoran uang. Tapi tak pernah masyarakat diberikan infomasi darimana para kandidat memperoleh uang kampanye dan bagaimana penggunaannya? Adakah uang haram, adakah yang menyandera BUMN, adakah yang berkongsi dengan pengusaha, adakah sumbangan asing?

Beranikah mereka memampang laporan keuangan selama kampanye seperti kepedean mereka menunjukkan senyum manis di koran-koran yang kita baca tiap hari? Sekedar untuk membuktikan atas ucapan moralis dari moncong mereka, “Saya anti money politic – Saya anti korupsi Saya berhati fitri, Saya shaleh dan jujur”. Jika tidak, Pilkada Jogja tak punya arti apa-apa, kecuali menjadi bagian sistem defisit demokrasi yang sedang kita alami saat ini.