Tangisku pecah dinihari ini. Bukan karena mengingat kisah patah hati yang kualami, bukan pula karena tahajud malam menginsyafi banyaknya dosa yang telah kulakukan. Tapi film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” film keluaran tahun 2010 yang baru kutonton kali ini di SCTV.

Menangis karena putus cinta, tiada gunanya. Menitikkan airmata karena dosa, tapi tetap saja melakukan kesalahan yang sama, tidak akan berarti apa-apa.

Dinihari ini aku menangis karena merenungi apa yang telah kuberikan untuk bangsa ini? Menangis karena masih banyak rakyat negeri ini yang harus berjuang demi sesuap nasi.

Aku tersadar akan sebuah tanggung jawab sebagai anak bangsa. Setelah selama ini dilanda skeptis, hingga menjadi egois memikirkan hidup sendiri.

Para sarjana berjubel mencari kerja. Yang beruntung, bisa memperbaiki nasib dan merubah status menjadi kelas menengah baru. Jika bekerja di tempat yang basah, merekapun telah melonjak menjadi orang kaya baru dengan titel “eksekutif muda”.Tapi sumbangsih apa yang bisa mereka berikan, jika lebih banyak menghabiskan hari untuk plesiran dan menghaburkan uang membeli berbagai barang merk terkenal??? NOTHING…

Kita tidak bisa belajar dari mereka yang hanya memikirkan  nasib sendiri itu. Memang benar, mereka kaya karena mereka berusaha. Tidak salah jika mereka menikmati jerih payah selama ini. Sekolah yang rajin, kuliah yang rajin, dan kerja di tempat bonafit adalah buah dari kerja keras. Toh apa salahnya menghamburkan uang sendiri?

Sementara para sarjana pengangguran hanya terpaku pada nasib. Syukur-syukur orang tua mereka punya uang yang cukup untuk tetap memberikan subsidi ataupun membiayai mereka untuk ambil S2. Kalau tidak, hidup tak jelas, celaan dari tetangga, mau tak mau harus diterima.

Tapi adalah di antara kita para sarjana sukses ataupun para sarjana pengangguran itu yang mau seperti Muluk. Sarjana yang menganggur 2 tahun, karena tak pernah lolos seleksi kerja, kemudian “tersadarkan” lewat pertemuan dengan seorang pencopet belia.

“Tersadarkan oleh pencopet mungil” sebuah anomali di tengah kebanyakan orang insyaf ketika mengalami penderitaan, atau ketika mendengar pengajian. Otak sarjananya berputar. Tumbuh sebuah ide untuk melakukan gerakan perubahan, “dari copet menjadi pedagang asongan”.

Tak mudah. Benar-benar tak mudah. Harus menyakinkan Sang Bos Copet, mesti berhadapan dengan anak-anak bandel yang teramat bloon, sampai kesulitan mencari teman yang mau “berjuang” untuk mewujudkan misinya. Samsul, temannya yang bertitel sarjana pendidikan tapi masih berstatus pengangguran  dan lebih banyak menghabiskan waktu bermain kartu dengan para preman kampung, serta Pipit, anak pensiunan Depag yang juga belum dapat kerja, akhirnya mau ikut bergabung untuk mengajar para gerombolan copet-copet kecil.

Ketika momen transformasi dari copet menjadi pedagang asongan dimulai, Muluk terpukul ketika Bapaknya kecewa karena selama ini ia membawa uang haram ke rumah lewat persenan hasil copetan yang dikumpulkan. Muluk berhenti mengurusi gerombolan itu dan mengikuti saran Bapaknya untuk kursus menyetir biar nanti bisa jadi sopir di Saudi.

Tak disangka, saat memulai kursus nyetir, Muluk bertemu dengan salah seorang pencopet cilik yang dulu pernah ia didik. Suprise, karena pencopet cilik itu telah berubah menjadi pedagang asongan. Apalacur, operasi pembersihan pedagang asongan dan pengemis di jalanan merubah segalanya. Pencopet cilik berhasil kabur, tapi Muluk digelandang oleh Satpol PP karena dianggap menghalangi aparat menjalankan tugas.

Muluk, sang sarjana pengangguran itu, mau berkorban demi anak-anak pencopet yang sejak kecil harus bertarung dengan kerasnya hidup di Jakarta. Mendidik mereka biar punya masa depan. Karena paling mentok masa depan copet hanya penjara. Bukan untuk menjadi pintar, kemudian menjadi koruptor ketika besar. Tapi merubah cara pandang mereka, merubah tingkah laku mereka, dan menunjukkan kepada mereka mana yang halal dan mana yang haram.

Muluk memang cuma sedikit peduli dengan mereka. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Ibu Pertiwi tersenyum. Sekarang pertanyaan besar yang harus kujawab adalah BISAKAH AKU SEPERTI MULUK? Dengan segala keterbatasan memberikan sesuatu yang berarti buat negeri ini. YA, AKU HARUS BISA…