Flu dan batuk memang belum berhenti mengerogoti tubuhku, namun secara psikis aku sudah sedikit pulih dari sakit karena cinta. Kesibukan di kantor dan dimulainya perkuliahan di Sanata Dharma berhasil mengalihkan pikiran dari tangisan cenggeng karena seorang gadis yang kupikir akan menghadirkan kebahagiaan dalam hidupku.

Teman-teman di kantor lagi bersemangat mengikuti kursus IELTS yang dimulai hari ini. Sapaan mbak Maya yang juga adik kelasku di Filsafat UGM, menjadi suprise sore tadi sebelum aku meninggalkan kantor. Ternyata Mbak Maya adalah instruktur Cilacs UII yang mulai tadi sore mengajar rekan-rekan kerjaku di CRCS. Sebenarnya mas Endy menawariku untuk ikut, tapi berhubung kelas EEC di Sanata Dharma sudah mulai sejak kemarin, akupun tak menyambut tawaran staf peneliti hebat di CRCS itu.

Ketika rekan-rekan itu mulai berjalan menuju kelas, Bu Irma (koordinator akademik CRCS yang S2 di McGill Canada dan S3 di Melbourne University) mencegat, “He2.. he2.. Pada kursus IELTS ya. Nanti harus bisa mengalahkan score IELTS saya.. 8….” Aku yang masih duduk di meja kerja, tersentak ketika Bu Irma bilang IELTSnya 8. Tentu saja kaget, karena score segitu sangat tinggi dan sangat sulit untuk diraih.

Kantorpun mulai sepi. Sudah lewat pukul 15.00. Setelah pamit ke Mas Helmi (seniorku di kantor jago desain dan memperbaiki komputer) dan sholat Ashar, akupun melaju menuju Sanata Dharma. Hari ini aku ada kelas Fluenty Practice bersama kelas 1B. Miss Nora yang dulu mengajarku di kelas Listening A, sekarang kembali menjadi dosenku di Fluenty. Jadi, Miss satu ini adalah salah dosen cantik yang ada di EEC. Tak salah, tadi anak-anak baru pada over acting di depan Miss cantik itu.

Tapi aku senang dengan keagresifan mereka. Paling tidak bisa memeriahkan suasana dan menghilang lelah setelah seharian bekerja. Di antaranya ada mahasiswa FIK UNY yang pernah ke Kuala Lumpur. Meskipun bahasa Inggrisnya masih belepotan, tapi kepedeannya patut diacungi jempol. Satu lagi adalah gadis Aceh yang terdengar fluent ketika berbicara. Katanya, dia banyak belajar dari para relawan asing ketika Tsunami melanda Aceh beberapa waktu lalu.

Terima kasih Ya Allah. Aku kembali menemukan semangat dan bertemu dengan teman-teman yang penuh semangat. Teman-teman CRCS yang sudah biasa ngobrol sama bule masih saja pengen kursus IELTS. Teman-teman di Sanata Dharma yang cukup mahir merangkai kalimat, masih saja menyempatkan diri untuk mengambil kursus. So, tak ada lagi alasan bagiku untuk bermalas-malasan kalau tak ingin terus terkunkung dalam kebodohan seperti sekarang.

Soal cinta??? Lebih baik lupakan saja. Kalau Tuhan berkehendak, aku pasti bisa menemukan gadis yang lebih baik dari Elsa. Sekarang, saatnya untuk belajar lebih keras lagi. Biar dapat nilai A di Sanata Dharma dan bisa menaikkan kualitas kerja di CRCS. Ya Allah, bimbinglah langkah hambaMu ini.. Amien…