Kembali kucoba merangkai kata di tengah migrain yang mendera kepalaku sejak sahur tadi. Bukan karena kurang tidur beberapa hari ini, tapi lebih disebabkan beban pikiran yang melandaku sejak Ahad lalu. Ketika Elsa menyatakan jawaban ketidaksediaannya untuk menikah denganku. Ungkapan yang sangat menyakitkan, karena begitu besar harapanku kepadanya.

Setelah Greaty pergi, tiada lagi aku pernah merasakan cinta begitu dalam kecuali ketika dekat dengan Elsa. Perlahan aku bisa menghapus luka. Bangkit melupakan kisah lama yang teramat membebani selama ini. Membuatku bisa kembali menemukan optimisme setelah sekian tahun dilanda keputusasaan.

Tapi jawaban Ahad itu membuang semua. Elsa tidak berkenan menerima dengan alasan ia tidak bisa mencintaiku. Sejenak selepas jawaban itu, tubuhku lunglai. Pikiranku kosong. Semua seolah kelam. Aku binggung kemana lagi harus melangkah.

Penolakan Elsa menggenapkan semuanya setelah beberapa hari sebelumnya kutemui perubahan status Greaty di facebook dari “Berpacaran” jadi “Menikah”.

Aku mungkin masih bisa mengeluarkan tawa ketika di keramaian. Tapi aku tak bisa menahan sakit perih karena cinta tak sampai. Bujukan lagu-lagu cinta dan film-film FTV hanya mampu mengalihkan pikiranku sesaat saja. Perih itu kembali hadir ketika aku terpaku sunyi mengingat semua yang terjadi.

Langkahku kian goyah. Aku kehilangan kemudi sehabis dihantam gelombang bertubi. Ini hanyalah tubuh tanpa rasa yang berjalan karena kewajiban untuk bertahan hidup.

Ah, mungkin ini takdirku. Biarkan ku lalui sendiri…