Selasa malam, 26 Juli 2011. Semula aku ragu mau berangkat. Tapi karena ngak enak ingkar janji sama mbak Inggrid yang udah sejak dua minggu lalu memberitahu dan menguber-uber, akhirnya kuberanikan diri berangkat ke rumah Pak Bernie (Prof. Bernard Adeney Risakotta). Selepas sholat magrib di Masjid Pogung Raya, akupun segera meluncur menuju daerah Karangayam. Sebenarnya aku tak tahu persis dimana rumah Pak Bernie. Pertemuan tak sengaja dengan mas Dicky Sofyan yang sering terlihat ketika ada tamu-tamu penting di CRCS-ICRS UGM membuatku berhasil menemukan tempat hajatan akan dihelat.

Aku langsung takjub ketika memasuki beranda depan rumah Pak Bernie. Pendopo khas Jawa berpadu dengan kolam dan gemiricik air pancuran. Beberapa saat aku menikmati keremangan malam, kemudian memasuki ruangan utama. Pak Bernie sebagai tuan rumah tampak asyik menerangkan sebuah lukisan di atas yang penuh simbol-simbol Jawa. Beliau adalah teolog Protestan berkebangsaan Amerika Serikat yang sangat mengagumi Jawa. Bahkan menikahi gadis Indonesia (Dr. Farsijana) dan sudah 20 tahun tinggal di Indonesia.

Malam itu diadakan acara perpisahan 6 mahasiswa luce exchange student yang selama 2 bulan ini mengikuti summer school di kantorku. 3 American (Kellyan, Jellian dan Mike), 2 Korean (Keongil dan Daesop) dan 1 Ukraine (Zeyneb). Mereka punya keunikan masing-masing. Kellyann yang kalem dari New Jersey, Jellyan yang pernah mengajar di Abu Dhabi UEA, Mike penganut Yahudi yang nyentrik, Keongil yang bahasa Inggrisnya masih berbau dialek Korea, Daesop yang jago main futsal, dan Zeyneb yang penampilannya membuat heboh seantero kantor.

Di antara mereka, aku cuma sempat berbincang dengan Daesop. Tiga kali kami main futsal bareng di Juragan Futsal Pogung. Meski sudah cukup berumur, tapi Bapak satu ini cukup tangguh. Tidak saja umpannya yang keren, tapi sulit dijebol ketika diplot menjadi kiper. Kata mahasiswa Ph.D Graduate Theological Union US ini, ia punya jadwal main bola bareng dengan para expatriat Korea yang ada di San Fransisko US setiap minggu.

Pertemuan 2 hari yang lalu itu merupakan momen internasional paling berkesan yang pernah kuikuti selama 4 bulan bekerja di CRCS UGM. Makan malam bersama belasan bule, seumur-umur baru kali ini kualami. Suasana semakin meriah ketika Mbak Inggrid (staf yang ngurusin tamu-tamu asing di CRCS-ICRS) mulai memetik gitar dan melantunkan lagu-lagu merdu. Karena forum internasional, lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu Inggris. Dari The Beatles sampai The Corrs.

Sekitar jam 9.15 malam, acarapun berakhir. Dalam perjalanan pulang, aku masih belum percaya hadir di tengah-tengah orang-orang hebat yang hadir malam itu. Serasa seperti mimpi. Ah, betapa aku ingin segera terbang ke luar negeri sana. Merasakan suasana baru yang berbeda dari Indonesia. Ya Allah, kabulkan permintaanku agar bisa kuliah di luar negeri. Amien…