“Nazaruddin kembalilah, kembalilah ke tanah Air,” itulah ungkapan presiden kita yang bernama Susilo Bambang Yudoyono, seorang Jenderal Purnawirawan Angkatan Darat Tentara Nasional Indonesia, dengan nada memelas. Setelah perintahnya kepada Kapolri dan KPK untuk menangkap dan membawa pulang Nazaruddinke Indonesia masih menemui jalan buntu. Permintaan yang mengalirkan bagaikan sebuah syair kerinduan seorang Ibu pada anaknya nan jauh di rantau. Bukan seperti seorang komandan yang sedang marah karena prajuritnya telah membuat kesalahan. Kita jadi bertanya, apakah himbauan “lemah lembut” itu cukup efektif meluluhkan hati anak bandel seperti Nazaruddin?

Berkoar lewat media menjadi pilihan Nazaruddin untuk menjelaskan perkara yang sedang menerpanya. Perlahan, ia membuka satu per satu rahasia yang menjadi misteri bagi publik selama ini. Jika sebelumnya mencakar kemana-mana, sekarang semua serangan mengerucut kepada Anas Urbaningrum. Penyelewengan dana APBN, uang panas Hambalang dan lobi-lobi dengan petinggi BUMN adalah sebagian tuduhan yang dialamatkan kepada Ketua Partai Demokrat ini. Anas mengerang, dan meminta Nazaruddin pulang untuk menjelaskan semua di depan pengadilan. “Justru lebih bagus pulang ke Indonesia untuk menjalani proses hukum. Serahkan bukti itu ke aparat hukum, sederhana kan,” balas Anas.

Mudah-mudahan kita masih ingat ketika Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan keinginannya untuk lari ke luar negeri, apabila ditetapkan sebagai tersangka kasus Sismibakum. Baginya tuduhan korupsi adalah trik baru (sekaligus jitu) pemerintah sekarang untuk menjatuhkan karier seseorang. “Andaikan saya diadili dengan dakwaan yang ngawur dan tak jelas, maka waktu yang akan saya habiskan menghadapi perkara ini mungkin akan sekitar lima tahun lamanya,” begitu ungkap guru besar hukum tata negara ini ketika direkomendasikan banyak pihak untuk mengikuti mekanisme hukum yang sudah ada, daripada bersitegang dengan perkara administratif.

Mudah-mudahan kita juga masih ingat, dengan kasus Antasari dan Susno Duadji. Seorang Ketua KPK sangat mudah dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pembunuhan karena perebutan seorang candy girl yang tak cantik-cantik amat. Seorang perwira polisi bintang tiga digelandang oleh aparat berpangkat rendah, karena membongkar kasus Century.

Yusril yang lama malang melintang di dunia birokrasi dan menjadi desaigner sejumlah peraturan perundang-undangan di negeri ini masih enggan untuk dijerat ke pengadilan, apalagi Nazaruddin. Tentu ia tidak mau menjadi tumbal untuk menutupi skandal orang-orang yang sedang berkuasa di negeri. Nazar tidak mau menjadi pesakitan seperti yang dialami Antasari dan Susno yang mau menyelesaikan perkara melalui prosedural hukum.

Bukan saja beban sosial yang harus ditanggung, tetapi uangpun harus dikorbankan untuk menghadapi rangkaian persidangan. Membayar pengacara terbaikpun belum jadi jaminan bisa divonis bebas. Karena jaksa di negeri ini cukup pintar untuk mencari bukti-bukti fiktif, para hakim di negeri ini masih banyak yang belum amanah, dan tentu saja penguasa tak mau kehilangan muka jika sebuah perkara membawa-bawa namanya.

So, biarkanlah Nazaruddin terus membeberkan semua fakta yang diketahuinya tentang borok-borok para petinggi yang tak layak memimpin negeri yang dibangun di atas darah para pejuang ini. Biarkan semua episode terus berjalan tuntas seperti FTV Agar semakin jelas wajah para setan yang lagi bertopeng malaikat. Agar memori kita sedikit lebih kuat, setelah selama ini terlalu mudah dibutakan oleh senyuman serigala.