Dua minggu ini, secara tak sengaja saya bersinggungan dengan 3 kandidat yang akan bertarung Pilkada Jogja yang akan dihelat pada 25 September 2011 nanti: Ahmad Hanafi Rais-Tri Harjun (FITRI), Haryadi Suyuti-Imam Priyono (HATI BERIMAN), dan Zuhrif Hudaya-Aulia Reza Bastian. Senin malam 11 Juli 2011, Adik Haryadi Suyuti (Mas Aris, Lulusan Universitas Damaskus Syiria) memanggil saya untuk datang di sekretariat pasangan HATI untuk membicarakan counter atas black campaign “berbau PKI” yang konon telah tersebar di kalangan Muhammadiyah. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu saya menulis reportase pertemuan dengan Pak Zarkowi Soejoeti, mantan Dubes RI untuk Saudi Arabia dan Syiria dengan tajuk “Mengenang Ruyati, Andai Dubesnya Pak Zarkowi“, yang tak lain adalah ayahanda dari Pak Haryadi Suyuti. Ahad malam, 17 Juli 2011, giliran Mas Hanafi Rais yang bertandang ke asrama saya dalam rangka menghadiri Pengajian Akbar Ikatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta yang disponsori oleh Walikota Padang, Dr. Fauzi Bahar, yang juga menjabat Ketua DPW PAN Sumatera Barat.

Selasa malam, 18 Juli 2011, obrolan tak sengaja dengan alumni asramaku, Uda Roviza Utama, mengantarkanku pada informasi tentang Aulia Reza Bastian. Ternyata Uda Roviza pernah dimintai advise oleh Aulia. Usulan membidik siswa-siswi baru yang disampaikan oleh Uda Roviza awalnya dipandang apatis oleh team sukses Aulia, karena siswa SD, SMP, dan SMA berkisar pada usia 5-15 tahun, yang tentu saja tidak memiliki hak memilih, akhirnya dijalankan setelah dijelaskan bahwa yang dibidik adalah orang tua dari siswa-siswi baru itu.

Ahmad Hanafi Rais adalah putera sulung tokoh reformasi dan Muhammadiyah, Amien Rais, yang memperoleh gelar master dari National University of Singapore. Koleganya, Tri Harjun merupakan birokrat berpengalaman, lulusan Southampton University. Sementara, Haryadi Suyuti yang saat ini menjabat Wakil Walikota Jogja menyelesaikan studi di Ilmu Administrasi UGM. Imam Priyono ialah kader PDIP yang saat ini menjadi Direktur PDAM Tirta Marta Yogyakarta. Zuhrif Hudaya merupakan sekretaris umum DPW PKS DIY, jebolan Teknik Nuklir UGM. Aulia Reza adalah kader Nasional Demokrat yang saat ini sedang menyelesaikan program Doktor Bidang Pendidikan di UNY. Artinya, ketiga pasangan ini memiliki latar belakang yang mumpuni.

Pasangan FITRI diusung oleh PAN, PPP, Gerindra, Demokrat, dan Koalisi Mataram 1 (partai gurem yang tidak mendapat kursi di DPRD). Kalkulasi perolehan suara yang diraih oleh partai-partai ini pada tahun 2009 yang lalu hampir mencapai 50%. Sementara HATI dibackup oleh PDIP dan GOLKAR yang berhasil memperoleh 35% pada PILEG 2009. PKS dan Koalisi Mataram 2 yang mengorbitkan kadernya sendiri, Zuhrif Hudaya, hanya mampu mengumpulkan sekitar 15% suara. Hitung-hitungan dari hasil PILEG 2009 ini memang agak lemah karena konteks PILKADA sangat berbeda. Mungkin hanya PKS, yang terkenal dengan militansi para kadernya, mampu mempertahankan suara 90% dari keseluruhan 12% perolehan PILEG.

Bagaimana dengan tesis lama yang diungkapkan oleh Geertz (santri dan abangan) agak untuk menganalisis basis suara yang akan diperebutkan oleh tiga kandidat? Golongan santri di Yogyakarta terbagi dalam banyak varian. Yang dominan memang Muhammadiyah. Tetapi komunitas NU yang ditandai dengan eksistensi Pesantren Krapyak dan para santri di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga tidak bisa kita abaikan. Selain itu, gerakan anak muda Islam yang berafiliasi dengan PKS telah menjadi kekuatan baru yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Jogja. Kita juga tidak bisa mengabaikan kehadiran gerakan Islam “anti” politik praktis, yang berkontribusi pada membesarkan suara golput yang mencapai 50% pada Pilkada 2006 yang lalu. Terkait dengan Abangan, agaknya HATI memiliki kans yang besar untuk merebut suara dari kelompok ini. Tetapi ketidakadaan laporan statistik tentang jumlah 2 golongan ini, lagi-lagi membuat kita sulit untuk membuat hitungan matematis.

Sekarang kita bergerak pada pemilik suara lain yang sangat potensial yaitu komunitas perantau dan saudagar China. Sebagian besar penduduk Jogja adalah para pendatang baik dari kalangan mahasiswa yang sudah ber-KTP Jogja ataupun para perantau yang menjadi warga Jogja. Kekuatan ekonomi Jogja juga tidak bisa dilepaskan dari kekuatan saudagar China. Pertarungan meraih simpati dua komunitas ini menjadi point penting kemenangan para kandidat. Saya melihat, gebrakan yang dilakukan oleh Hanafi Rais dengan mendekati komunitas Minang lewat jaringan PAN dan keluarga istrinya yang berdarah Minang serta kedekatannya dengan pengusaha besar China di Jogja menjadi kartu truf kemenangan. Saya tidak tahu persis, bagaimana pergerakan kandidat lain dalam membidik para perantau dan komunitas saudagar China.

Slogan Jogja sebagai kota pendidikan dengan kehadiran institusi pendidikan berkualitas mengantarkan kita pada sangkaan bahwa orang Jogja akan mengarahkan pertimbangan pada visi dan misi masing-masing kandidat. Namun, analisis berdasarkan kehebatan program kerja ini agak kesulitan dijadikan sebagai parameter karena semua kandidat membawa isu yang relatif sama: perhatian pada pendidikan, kesehatan, kaum miskin dan marjinal, budaya, serta pembangunan berbasis kampung.

Pertarungan politik sangat kental dengan trik dan penuh intrik. Dibutuhkan dana yang besar untuk merealisasikan tujuan. Saya melihat masyarakat Jogja tidak terlalu larut dengan euforia demokrasi satu ini. Apalagi, masa kampanye diawali dengan Ramadhan. Semua kandidat menjanjikan yang terbaik. Mudah-mudahan yang terbaiklah yang akan memimpin Jogja berhati nyaman.

Iklan