Cukup memicingkan mata untuk mengisi lembar jawaban, dijamin bisa lulus. Mengapa tidak, seringkali kuota kursi yang tersedia lebih besar dari pendaftar. Bisa dipastikan, siapapun yang memilihkan jurusan ini tak perlu bersusah payah untuk mempersiapkan diri. Ya, Sastra Minangkabau adalah jurusan yang dimaksud. Alasan prospek masa depan yang tidak jelas dan terkenal tidak keren membuat banyak lulusan SMA kehilangan selera memilih jurusan satu ini.Tapi semua alasan ini terbantahkan oleh Uda Suryadi.

Siapakah Suryadi? Beliau adalah Putra Pariaman Sumatera Barat yang saat ini menjadi dosen di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania (Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië/TCZOAO), Universiteit Leiden sejak September 1998. Spesialisasinya adalah naskah-naskah kuno nusantara terutama yang beraksara Arab Melayu. Syair Lampung Karam (2010), Sejarah pengajaran bahasa Minangkabau (2009), Sepucuk surat dari seorang bangsawan Gowa di tanah pembuangan (Ceylon) , Syair Sunur: teks dan konteks ‘otobiografi’ seorang ulama Minangkabau abad ke-19 (2004), Naskah tradisi Basimalin: pengantar teks dan transliterasi (1998), Dendang Pauah: cerita orang Lubuk Sikaping (1993), Rebab Pesisir Selatan: cerita Zamzami dan Marlaini (1993) adalah sebagian karya-karya beliau yang bisa dinikmati oleh pembaca di tanah air.

Tahun 1986 lewat Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang dilaunching Depdikbud pada tahun 1983), setelah menganggur satu tahun karena tak ada biaya kuliah, Uda Suryadi diterima di jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang, yang menurut penuturannya “hanya pilihan kedua”. 5 tahun kemudian lewat skripsi “Dendang Pauah”, beliau meraih doktorandus. Diminta untuk mengabdi di almamaternya, Uda Suryadi pun mulai menjalani profesi baru sebagai asisten dosen. Tak kunjung memperoleh kepastian status, dan sebuah tawaran menarik dari Lukman Ali (alm) dan filolog senior Achadiati Ikram, beliau pun pindah ke Universitas Indonesia Jakarta (1994) dengan gaji pertama 35.000 sebulan. Angka yang teramat kecil di tengah kehidupan “serba mahal” Jakarta. Untuk kontrakan saja tak cukup, apalagi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Demi bertahan di tengah kerasnya hidup di Jakarta, Uda Suryadi harus mencari pekerjaan tambahan, di antaranya bekerja dengan Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi Lisan.

Sebuah lowongan mengajar dari Universitas Leiden yang terpampang di Fakultas Sastra UI, menarik hati Uda Suryadi. Lamaran dimasukan, meski saat itu beliau belum bisa berbahasa Belanda. Yang dibutuhkan memang native speaker untuk mengajar bahasa Indonesia. Leiden tertarik dengan portofolio Uda Suryadi. Bak pepatah orang Minang, “kalau nasib alun barubah, elok rantau di pajauah” (kalau nasib belum berubah, lebih merantau lebih jauh), berangkatlah beliau mengadu nasib ke negeri Belanda.

Selain mengajar, Uda Suryadi menghabiskan waktu bersama naskah-naskah kuno yang berjejer panjang di perpustakaan Leiden. Mulailah karya demi karya lahir, baik dalam bentuk buku maupun artikel di berbagai jurnal internasional.

Keputusan langsung pulang ke asrama sehabis ngantor kemarin sore mengantarkanku bertemu langsung dengan Uda Suryadi, setelah selama ini lebih banyak kontak lewat facebook dan milis Rantaunet . Kebetulan, salah satu adik asramaku, Furqan, punya hubungan famili dengan beliau. Berangkatlah kami dari asrama menuju Hotel All Season, hotel baru di daerah Dagen Malioboro. Pertama kali, Uni Lis (istri Uda Suryadi) yang kusalami. Setelah itu baru Uda Suryadi, yang ternyata hafal dengan nama lengkapku. Ada sesuatu yang asing bagiku, ketika Reisha (putri sulung uda Suryadi) ngobrol dengan Papi dan Maminya dengan bahasa Belanda. Jelas saja aku ngak ngerti.

Waktu Isya pun berlalu. Dengan menaiki becak, Aku, Furqan, Uda Suryadi, Uni Lis, Resha, dan Farel (putra Uda Suryadi yang masih berumur 1,5 tahun) meluncur ke Malioboro Mall buat makan malam. Sebenarnya pengen cari makanan ala Jogja, tapi berhubung anak-anak Uda Suryadi tak terbiasa dengan masakan Indonesia, maka foodcourt yang ada KFC-nya menjadi pilihan.

Perjalanan malam tadi semakin panjang ketika Uda Suryadi dihubungi oleh Mas Ahsan (Adik Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah). Janjian ketemuan di Taman Budaya Jogja, kami pun meluncur menuju Alun Selatan yang terkenal dengan 2 “beringin keramat”. Reisha melewati sela-sela di antara beringin, sementara Uni Lis berjalan menjauh.

Sebuah cerita miris yang disampaikan oleh Uni Lis, “Ada satu artikel Uda Suryadi yang sudah dipublish sebuah Jurnal Internasional di Malaysia diplagiat oleh seorang Doktor Indonesia yang ngebet pingin jadi profesor. Oleh teman-temannya, Uda Suryadi direkomendasikan untuk memperdatakan kasus ini. Tapi Uda Suryadi cuma tersenyum dan tak mau ambil pusing.”

Ungkap Uni Lis pula, banyak artikel-artikel yang dikirim uda Suryadi ke berbagai media di tanah air yang dilepas tanpa memperhitungkan honor yang didapatkan. Termasuk, soal royalti buku-buku yang beliau tulis. “Kalau ditransfer – Alhamdulillah, kalau ngak –  ya lillahi ta’ala saja.” Begitu ujar Uda Suryadi merespon sikap”tak terhormat” media dan penerbitan di Indonesia itu.

3 jam bersama Uda Suryadi sungguh pengalaman yang sangat berharga bagiku. Belajar banyak dengan sosok sederhana. Tak ada sekat, seperti bertemu dengan teman sendiri. Tak ada titik-titik kesombongan. 12 tahun di Belanda tidak menjadikan Uda Suryadi menjadi asing. Ia tetap bersahaja dengan logat Pariamannya yang tak hilang.

Terima Uda Suryadi, Uni Lilis, Reisha, Farel, Mbak Raras, Mas Ahsan, dan Furqan atas pertemuan yang indah tadi malam.