Orang yang kalah adalah orang kehilangan harapan akan masa depan. Orang yang terbelenggu dengan kekurangan diri, kemudian menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Bahkan lebih tragis, memilih jalan nekad mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Hari ini aku belajar akan banyak hal. Mulai dari arti kebersamaan di kantor CRCS UGM, perjuangan mengibarkan kebanggaan untuk tanah kelahiran, dan makna kesyukuran dari tayangan inspiratif Kick Andy barusan.

Diterima sebagai bagian dari keluarga besar CRCS UGM, program studi S2 berkualitas internasional, membuatku terharu. Kalau dibandingkan dengan kemampuanku yang pas-pasan, rasanya tak layak aku bergabung. Tapi kesempatan berharga ini menghampiri tanpa pernah kuduga sebelumnya. Prasangka sinis karena omongan negatif yang sebelumnya kudengar, hilang seketika. Aku tak pernah tahu, apakah ada institusi yang cukup toleran dengan kebebasan menjalankan agama, selain yang terjadi di CRCS? Akupun tak pernah tahu, apakah institusi Islam atau orang yang bernaung atas nama Islam memberikan gaji yang layak kepada karyawannya sebagaimana yang dilakukan oleh CRCS? Kalaupun training 3 bulanku berakhir dengan pemberhentian, akupun cukup bersyukur. Karena CRCS telah membuka mataku akan sebuah dunia yang baru, dunia yang lebih real, membuyarkan dunia prasangka yang menyelimuti hidupku selama ini.

Tampil dengan persiapan minim, tanpa pernah menemukan formasi yang tepat, akhirnya perjuanganku bersama teman-teman berbuah manis. Team Sepakbola Sumbar yang kubela bersama teman-teman Minang yang ada di Jogja, berhasil menjadi Runner Up Turnamen Sepakbola Antar Provinsi yang digelar sejak tanggal 2 Juni yang lalu. Berjuang demi kebanggaan buat Sumatera Barat di perantauan, walaupun harus membagi energi dengan kerja, dan mengorbankan ujian kursus Bahasa Inggris di Sanata Dharma. Meski hari ini kalah di final, tapi Juara 2 adalah hasil maksimal yang layak disyukuri.

Aku berjuang dengan satu mata. Setelah tradegi 15 tahun lalu yang mengambil mata kiriku. Tapi Tuhan masih mengizinkanku untuk menjadi pemain bola, lulus dari kampus terbaik di negeri ini serta mampu bertahan berjam-jam di depan komputer untuk mengedit dan menulis tulisan. Kadang aku berpikir, apakah karena cacat mata inilah yang membuat aku tak pernah berhasil meraih cinta? Namun, tayangan Kick Andy malam ini membuang jauh semua prasangka burukku pada Tuhan. Yudi, seorang bocah kecil kelas 5 SD yang terpilih menjadi pemeran utama “Serdadu Kumbang” karena bibirnya yang sumbing, menyentakkan kesadaranku akan misteri hidup bahwa di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Nia dan Ari yang menjadi produser film itu tak menyangka bisa bertemu dengan bocah ajaib bernama Yudi, yang tak pernah nonton bioskop karena Ayah dan Ibunya hanya orang kecil yang bertarung hidup di Jakarta, tetapi bisa berakting luar biasa, tanpa canggung, dengan aktris dan aktor kawakan Indonesia.

Terima kasih Ya Allah yang telah memberikan renungan berharga malam ini. “Sesungguhnya Allah tidak melihat wajah dan rupamu, tapi dia melihat iman yang ada dalam hatimu…”