Suaranya masih lantang meskipun sudah berusia 75 tahun. Selama 2 jam ia kuat berdiri di atas podium gedung termegah di UGM, Graha Sabha Pramana. Beberapa kali airmata menetes, mendengarkan orator beliau. Sosok tua yang masih bersemangat itu adalah Prof. Dr. Ing. Baharuddin Jusuf Habibie yang hadir tadi pagi di UGM, memberikan Presidential Lecture dalam rangka memperingati Dies Natalis UGM ke 62 dan Dies Natalis Sekolah Pascasarjana UGM ke 30.

Habibie adalah generasi emas Indonesia yang terpilih berangkat ke Jerman pada tahun 1954 untuk belajar teknologi sebagai planning Bung Karno yang menginginkan Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Tak seperti mahasiswa saat ini yang mendapatkan begitu banyak kemudahan beasiswa, Habibie harus berjuang untuk bertahan hidup di Jerman. Dalam buku “Habibie & Ainun”, kita bisa menemukan penuturan beliau tentang kisah Ibunya yang harus berkorban untuk menutupi kebutuhan Rudi (nama kecil Habibie) semasa kuliah.

Selesai merampungkan doktoral di RWTH Aachen, Habibie mulai bekerja di Jerman. Kemampuan dan prestasi yang dia tunjukkan, telah membawanya mencapai puncak karier sebagai Wakil Presiden perusahaan penerbangan terbesar di Jerman, Messerschmitt-Bölkow-Blohm. Ketika itulah, Pak Harto memanggil. Habibie teringat dengan pesan Bung Karno yang dulu mengirimkannya sekolah ke Jerman, “Sekarang anda berangkat untuk belajar. Nanti harus siap pulang kapan saja apabila bangsa membutuhkan.” Dengan tekad yang bulat karena panggilan Ibu Pertiwi, pulanglah Habibie bersama keluarga.

Mulailah pusat-pusat penelitian didirikan. Habibie bersama ribuan putra-putri terbaik bangsa mulai bekerja. Tahun 1989 lewat riset kerjasama dengan Spanyol, IPTN ikut serta dalam Air Show di Paris. CN 235 membuat banyak orang tercenggang. Bagaimana mungkin negara yang baru saja lepas dari perang saudara dan tertatih-tatih mengurusi problem dalam negeri, bisa tampil dalam pameran pesawat tingkat Internasional. Beberapa teknokrat asing mendatangi Habibie. Mereka bertanya, “Apa rencana anda selanjutnya?” Dengan optimis beliau menjawab, “Saya akan membuat pesawat yang lebih canggih dari ini.”

Sejak momen itu, Habibie terus bekerja bersama para ilmuwan anak negeri sendiri mempersiapkan kado spesial untuk 50 tahun kemerdekaan Indonesia. 10 Agustus 1995, perhatian tertuju pada pertunjukkan spesial. N 250 Gatot Koco mengudara memecah cakrawala, 55 menit terbang tanpa cacat. Setahun berikutnya Gatot Koco menyita perhatian dunia karena digerakkan oleh teknologi brilian yang belum pernah ada sebelumnya, fly by wire, pertama di dunia di Indonesian Air Show 1996 (Pameran Pesawat Terbesar Ketiga di Dunia kala itu) Cengkareng. Antrian pemesanan mulai berjejer. Apalagi pesawat ini sudah melewati pengujian 900 jam terbang. Industri pendukung yang terletak di Oklohama dan Stuggart sudah bersedia menyediakan tempat untuk produkis massal N 250.

Tapi, krisis ekonomi 1997 meluluhlantakkan impian besar itu. IMF yang datang sebagai juru selamat menyisipkan klausul penghentian dana untuk IPTN. Tak hanya proyek N 250 yang terhenti, IPTN-pun mulai dibunuh perlahan. Tak ada jaminan keberlangsungan kerja, membuat sebagian engineer terbang ke luar negeri. Dari 48.000 karyawan menyusut drastis menjadi 16.000 karyawan.

Beberapa waktu yang lalu Pak Habibie didatangi oleh anak-anak muda progresif yang mengutarakan keinginan mereka untuk mengadakan Air Show di Indonesia. Beliau marah. Di lain kesempatan, datang pula mahasiswa yang mengundang beliau untuk menghadiri kejuaraan roket air. Dan beliaupun marah. Bukan tak menghargai kreativitas anak-anak muda, tapi “Jika pada tahun 1995, kita sudah bisa menerbangkan N 250 ciptaan putra-putri negeri sendiri, kenapa sekarang kalian cuma bisa membuat even ini. Saya malu.”

Pada tahun 2009, penjualan mobil di Indonesia mencapai angka 486.000 unit. Setahun kemudian, meningkat menjadi 700.000 unit. Penjualan sepeda motor pada tahun 2009 menembus angka 5,8 juta. 2010 melonjak menjadi 7,5 juta. Yang menyedihkan adalah semua produk impor. “Jika pada tahun 1995 saja kita sudah bisa membuat pesawat, masak saat ini untuk kebutuhan mobil dan motor kita masih impor?”

Habibie tampak sedih dengan kondisi bangsa yang semakin hari menjadi mainan para VOC kontemporer. Sebenarnya beliau mau pensiun dan menyerahkan estafet kepada generasi baru anak-anak negeri ini. Tapi apa boleh buat, kondisi semakin parah. Industri-industri strategis dibunuh satu per satu. IPTN yang kemudian berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia, dan Puspitek hendak ditutup karena dinilai merugikan keuangan negara. Habibie Marah Besar. “Kita berjuang selama 45 tahun untuk mendirikan IPTN ini, tapi pemerintah tanpa berpikir panjang hendak menutupnya. Mereka menuding ini adalah proyek Habibie. Sementara Habibie itu adalah orang Orde Baru. Ah… Saya ini lahir di era perjuangan kemerdekaan. Saya diberangkatkan oleh Bung Karno sekolah ke Jerman. Saya menerima panggilan Pak Harto untuk menunaikan janji saya pada Ibu Pertiwi. Saya mengawal reformasi di saat keadaan teramat genting. Lebih baik, buang saja tudingan-tudingan tak berdasar itu.”

Beberapa orang tersenyum sinis kepada Habibie. “Buat apa bikin pesawat, sementara kebutuhan beras saja tidak terpenuhi.” Dari ceramah tadi, aku menemukan jawaban cerdas atas pertanyaan itu. “Bangsa ini adalah bangsa besar yang terdiri dari ribuan pulau. Negara ini dipersatukan oleh kapal dan pesawat. Selain itu, kita butuh industri strategis. Industri yang menggerakkan industri-industri lain. Kita mendidik anak-anak kita di perguruan tinggi. Tapi kita tidak menyiapkan lapangan kerja untuk mereka.”Atas logika yang jernih itulah keberadaan industri strategis perlu dipertahankan. Meskipun untuk membangunnya membutuhkan dana yang besar. Tapi ketika berhasil, nilai tambah yang dihasilkan jauh melebihi dari dana awal yang investasi.

“Saya sebenarnya pengen mengikuti Bu Ainun. Agar saya bisa bersatu lagi dengan orang yang saya cintai. Tapi tentu Ibu Ainun pasti bertanya, kenapa terlalu cepat menyusul saya, padahal masih banyak masalah yang membelit Ibu Pertiwi.”

Pak Habibie kembali turun gelanggang, karena ingin menggelorakan kembali semangat anak-anak muda. Karena beliau percaya, orang tua berhasil jika menjadikan generasi baru lebih baik dari pencapaian yang pernah diraihnya.

Sempat juga aku mendengarkan selentingan menyakitkan, “Apa sieh hebatnya Habibie, kecuali berhasil melepaskan Timur-Timor dari Indonesia?” Aku memang tak mampu menjawab. Tapi antrian panjang ketika 2000 tiket dibagikan secara gratis oleh Sekolah Pascasarjana UGM dan tepukan meriah setiap segmen pidato beliau membuat aku yakin bahwa Habibie dicintai dan dikagumi oleh banyak orang. Karena beliau adalah tokoh besar, tak seperti orang-orang yang melemparkan stigma negatif terhadap Habibie.

Semoga Allah memanjangkan umur Pak Habibie, sampai beliau bisa kembali mewujudkan impian yang tercerai-berai oleh orang-orang bermental inlander dan menjadi perpanjangan tangan VOC untuk terus menghancurkan bangsa ini. Amien…

“Kita adalah keturunan bangsa pejuang. Yang tidak mengenal lelah dan kalah.” (Habibie, Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 26 Mei 2011)

NB: Silahkan download audio pidato Pak Habibie