Bergulat dengan banyak orang membuatku semakin menyadari bahwa dunia terlalu luas untuk dipilah-pilah berdasarkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Semenjak meninggalkan Salafi, aku terus bergerak menuju ranah abu-abu. Skeptisisme menjadi panduan dalam memandang sesuatu.

Satu minggu saja sudah banyak dilema kenyataan yang kutemukan. Dimulai dari Seminar Internasional yang menghadirkan Anwar Ibrahim, Amien Rais, Priyo Budi Santoso dan Mohammad Ibrahim Mutorqi selasa kemarin, yang membuatku berpikir kembali tentang keberadaan Syiah. Padahal dulu, salah satu alasanku meninggalkan HMI adalah kedekatan teman-teman HMI MPO FE UGM dengan teman-teman Rausyan Fikr (sebuah organisasi Syiah di Jogja), yang kebetulan sekre kita  berdekatan. Suara-suara sumbang tentang Syiah diceramahkan oleh banyak Ustadz selama ini menjadi buyar. Prof. Yunahar Ilyas bahkan mengatakan beberapa sekte dalam Syiah masih berada dalam lingkaran besar Islam meskipun mereka memiliki beberapa pemahaman yang menyimpang. Artinya peluang rekonsialiasi Sunni sebagai mazhab terbesar di Indonesia dengan Syiah sangat terbuka sebagaimana yang disampaikan oleh Buya Syafi’i Ma’arif dalam Autobiografinya dan Prof. Quraish Shihab di buku Sunni-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?

Ketika perhelatan wayang kulit semalam suntuk oleh calon walikota Jogja, Ahmad Hanafi Rais, lagi-lagi otakku berpikir kencang. Aku tidak mempermasalahkan soal kapabilitas dan intelektual seorang Hanafi Rais. Tapi yang membuatku melamun panjang adalah darimana biaya untuk mengadakan acara lumayan wah yang mungkin menghabiskan dana 100-an juta itu? Belum lagi dengan acara-acara wah yang diadakan sebelumnya. Tidak mungkin semua itu ditalangi dari gaji Hanafi Rais yang hanya sebagai dosen muda di UGM. Pasti ada penyandang dana? Siapa dia? Apakah terjadi transaksi kuasa di antara mereka? Saling menyandera sebagaimana yang ditunjukkan panggung sandiwara di tingkat pusat saat ini?

Kebinggunganku berlanjut dengan pertemuan tak terduga dengan Prof. Yunahar Ilyas di Sunday Morning UGM. Sudah menjadi kebiasaanku sehabis mendengarkan kajian Ustadz Ridwan Hamidi di Masjid Kampus UGM, mampir dulu di Palanta membeli beberapa makanan Padang. Tapi melihat Ustadz Yun di Palanta yang hadir di tengah hiruk-pikuk Sunday Morning adalah pengalaman pertama. Terus dimana menariknya?

Teman-teman sekalian, Sunday Morning adalah pasar tumpah hari Minggu di UGM yang dipenuhi oleh para pedagang (baik pedagang makan ataupun pedagang pernak-pernik dan pakaian) berkolaborasi dengan orang-orang yang menikmati udara pagi Jogja. Keramaian yang kemudian semakin meriah dengan kehadiran para pengamen profesional (termasuk waria) ataupun pengamen dadakan (biasanya mahasiswa). Di sana teman-teman akan menemukan berbagai macam ragam orang. Dari yang berpakaian lengkap, sampai yang mengumbar aurat. Laki-laki dan perempuan bercampur-baur.

Tentu kehadiran seorang Ustadz sekaliber Prof. Yunahar Ilyas di tempat abu-abu diselingi berbagai kemaksiatan adalah fitnah yang besar. Apalagi buat Ustadz-Ustadz yang sangat menjaga muru’ah pergaulan laki-laki dan perempuan. Sekilas aku terpana, dan bertanya dalam hati, kenapa Ustadz Yunahar berada di tempat seperti itu? Tapi ketika aku menerusi perenungan, barulah aku paham bahwa sebenarnya tak ada tempat yang diharamkan oleh Tuhan di muka bumi ini. Bukankah dulu Nabi Muhammad sering berkunjung ke Pasar Madinah? Bukankah ini adalah pasar Indonesia yang masih cukup sopan menjaga etika, tak seperti mall-mall di Saudi dimana banyak pria jelalatan sehingga para Ulama harus mengeluarkan fatwa bahwa setiap pemuda yang hendak ke mall dan pasar harus ditemani oleh ibu atau saudara perempuannya?

Kebinggunganku semakin memuncak selepas mengikuti sebuah dialog di kantor tadi sore tentang fenomena dinamika pergerakan karena tarik-ulur dana yang mereka terima. Tersebutlah Muhammadiyah yang bermain dua kaki. Di satu sisi getol menolak liberalisasi tapi sisi lain menadahkan tangan untuk mendapatkan dana dari Asian Foundation dan World Bank. Tersebutlah JIL yang tak lagi bergema dan tokoh-tokohnya berpindah ke Partai Politik, karena sokongan dana dari AS tak lagi diterima. Tersebutlah nama Ustadz yang dulu berjaya, tapi sekarang mati gaya karena petro dollar sudah enggan menghampirinya.

Sementara teman-teman gerakan Kiri yang dicap sebagai orang yang beragama/tak tahu agama malah punya sikap yang tegas dan selektif dalam menerima dana. Jika ada funding yang berniat membantu, tapi masuk dalam lingkaran neolib, maka mereka serta merta menolak. Sebuah dosa struktural, begitu mereka mengatakan tentang kesediaan menerima dana dari pihak-pihak yang selama ini mereka musuhi itu.

Akhirnya aku semakin paham, kenapa Bapak dulu berhenti berceramah ketika menjadi anggota DPRD tingkat kota. Agama jika dicampuri kepentingan lain (apalagi kepentingan politik) hanya melahirkan kemunafikan. Bukan karena agama tak mampu menjadi stabilitator dan regulator, tapi lebih kepada jiwa-jiwa manusia yang rakus, kemudian menjual agama untuk kepentingan sesaatnya.

Ya, begitulah dunia yang penuh bias-bias warna. Menjadikan kacamata kuda sebagai instrumen penglihatan dan pikiran pendek untuk melihat persoalan hanya membuat kita semakin terjebak dalam pemahaman dangkal. Cinta dangkal cuma berefek sakit hati sementara. Tapi pemikiran yang dangkal akan memakan banyak korban akibat kesalahpahaman. So, aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa dari tulisan ini kecuali mengajak teman-teman semua, marilah kita terus belajar , serta tidak terlalu sombong dengan apa yang kita percaya saat ini.