Tak boleh jadi orang cenggeng lagi. Itulah tekad yang kupatrikan ketika resah melanda jiwa. Aku mulai menghentikan membuat tulisan-tulisan putus asa yang membuat diri semakin lemah tak berdaya. Menyesali kekurangan dan kesalahan masa lalu, tak akan merubah apapun. Bukankah berusaha berubah dan terus belajar untuk menutupi kelemahan adalah jalan yang mesti ditempuh untuk menggapai masa depan yang lebih baik?

Soal sakit karena cinta, aku sudah bisa melupakan jejak-jejak kelam dulu. Jika akhirnya tak ada seorangpun gadis yang tak menyukaiku, aku tidak akan bersedih. Kulalui semua, karena takdirku sudah digariskan oleh Tuhan.

Sosok Anwar Ibrahim yang untuk pertama kalinya kutemui hari Selasa yang lalu pada pembukaan Seventh Gathering of Union World Student yang diselanggarakan oleh teman-teman HMI MPO di University Club UGM, membuatku sadar bahwa menjadi orang besar, harus sanggup melewati hadangan demi hadangan. Anwar Ibrahim menjadi tersohor, karena sejak muda telah punya idealisme yang kuat. Tidak banyak berkeluh-kesah, kecuali terus berjuang meraih impiannya. Menjadi petinggi Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), terus menanjak menduduki posisi sebagai Menteri Keuangan. Sempat menjadi kandidat terkuat pengganti Mahatir Mohammad sebagai Perdana Menteri Malaysia, tetapi disingkirkan secara tragis lewat fitnah tuduhan rasuah dan skandal homoseksual.  Mendekam di penjara, dihajar oleh opsir rendahan hingga tulang lehernya patah, dan  karier politiknya dimatikan.

Tapi jatuh ketika hampir menggapai puncak kekuasaan, tidak membuat Anwar patah arang. Selepas keluar dari penjara, ia kembali bergelora lewat The People’s Justice Party, melejit sebagai tokoh oposisi yang getol menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, korupsi, dan menyerukan Democracy for Malaysia.

Jika teman-teman HMI MPO bisa menggalang sebuah acara besar yang berhasil mendatangkan tokoh hebat sekaliber Anwar Ibrahim, tentu sangat naif sekali sikap berkeluh kesah dan ketidakmampuan mengurus sebuah acara kecil. Terjebak pada hal-hal kecil, kemudian menyerah kalah, hanyalah alamat terus menjadi orang kerdil.

Dalam perjalanan menuju perubahan memang banyak rintangan yang mesti dihadapi. Tak jarang, memori masa lalu menarik diri kembali mundur ke belakang. Cibiran dan cemoohan ketika masih tertatih-tatih memperbaiki diri, kadang menjadi racun mematikan. Tapi apakah harus kalah dengan semua rintangan itu?

Ya, hadir sebagai pegawai baru di CRCS telah menyadarkanku akan banyak hal. Tidak saja dalam kontruksi memahami agama, tapi juga pada effort orang-orang hebat yang kutemui setiap hari di CRCS. Satu sosok yang kukagumi adalah Mas Endy Saputro. Senior yang hanya lebih tua 4 tahun dariku, tapi menjadi mesin penggerak CRCS. Ketekunannya dalam mencari dan mengumpulkan referensi-referensi berharga menjadi kekuatan atas publikasi-publikasi yang selama ini dikeluarkan CRCS. Jika minggu yang lalu Mas Endy menunjukkan beberapa link website tempat download buku-buku dan jurnal-jurnal berkualitas secara gratis, kemarin siang beliau bercerita banyak tentang pasar buku-buku bekas di Solo. Tahukah teman-teman bahwa kamus tebal Al Munawir dapat diperoleh dengan harga luar biasa murah di sana. Bukan karena mafia reproduksi tanpa izin oleh penerbit-penerbit tak jelas. Tapi karena kecendrungan santri-santri di beberapa pesantren di Solo yang menjual buku-buku setelah menyelesaikan studi.

Tidak hanya itu, CRCS telah memungkinkanku berkenalan dengan scholar-scholar dari luar negeri. Walaupun masih dibelit keterbatasan dalam Bahasa Inggris, tapi itu tidak menyurutkan untuk meneruskan perkenalan, meskipun masih lewat chating dan email.

Rasanya tidak ada lagi yang perlu kutangisi. Allah sudah terlalu baik dengan berbagai kenikmatan yang telah diberikan-Nya. Bukankah berkenalan dengan para akademisi hebat, punya hubungan dekat dengan ustadz-ustadz hebat, berkesempatan merintis jaringan dengan foreigners, punya keluarga yang terus mensupport, dan teman-teman inspiratif adalah anugerah yang begitu besar yang tak semua orang memperolehnya? Jadi, apakah pantas jika masih saja berkeluh kesah? Rasanya TIDAK…