Kita sudah sering mendengar kisah perjalanan para akademisi ke negeri Belanda untuk menemukan naskah-naskah sejarah berharga Indonesia. Suryadi misalnya, seorang peneliti naskah kuno (filolog) nusantara yang saat ini menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Leiden, mengungkapkan kegembiraannya mendapatkan kesempatan menetap di Belanda sejak 1998 yang lalu, “Saya beruntung studi di Belanda. Ide-ide penelitian tak habis-habisnya karena didukung perpustakaan yang lengkap dan memiliki koleksi langka.”[1]

Daya tarik yang sering disampaikan orang-orang yang pernah singgah di Belanda adalah perpustakaannya yang luar biasa. Baik itu dari segi koleksi yang dimiliki maupun jumlah perpustakaan yang ada. Koninklijke Bibliotheek atau Perpustakaan Kerajaan Belanda, Geheugen van Nederland atau Memory of the Netherlands, perpustakaan TU Delft, perpustakaan Universitas Tilburg, dan perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) merupakan perpustakaan terkemuka di Belanda.

MNC Publishing

Bicara soal perpustakaan tentu kita tidak bisa melepaskan dari koleksi yang dimiliki. Soal kelengkapan naskah-naskah kuno jangan ditanya lagi, Belanda memang jagonya. Tapi bagaimana dengan supply buku-buku terbaru untuk perpustakaan, tentu tidak bisa kita lepaskan dari kehadiran penerbitan. Selain mengoleksi publikasi dari berbagai belahan dunia, dunia penerbitan juga menjadi pemain utama dalam menggairahkan dunia literer di Belanda. Paling tidak tercatat 180 penerbit profesional perusahaan yang saat ini eksis di Belanda dan 90% publikasinya dipasarkan di Belanda. Mereka tergabung dalam Royal Dutch Publishers Association atau Koninklijke Nederlandse Uitgeversbond.   Dari jumlah tersebut, paling tidak ada 3 nama yang sudah mendunia dan berubah menjadi perusahaan publishing multinasional yang disegani: ELSEVIER, Wolters Kluwer dan VNU (Verenigde Nederlandse Uitgeverijen) .

ELSEVIER adalah penerbitan terkenal yang berkantor di Amsterdam. Penerbitan ini sudah melebarkan sayap ke Inggris, AS dan negara-negara lain. Mereka konsen dengan penerbitan literatur ilmiah dan kesehatan. Awalnya Elsevier hanyalah bisnis keluarga yang dimulai oleh Lodewijk Elzevir, (1542–1617) pada tahun 1580 di Leiden. Penerbitan melaju pesat karena publikasi mereka mendapatkan sambutan antusias, sehingga mereka mengukuh diri sebagai perusahaan pada tahun 1880. Saat ini mereka mampu menerbitkan 250 ribu artikel setiap tahunnya yang tersebar di 2000 jurnal dengan keuntungan ₤395 millions pada tahun 2006. Saat ini, Elsevier sudah bermetamorfosis menjadi  international multimedia publishing company dengan 20,000 products di bidang educational dan professional science serta healthcare.

Wolters Kluwer[2] merupakan kompetitor kuat ELSEVIER. Penerbitan yang berpusat di Alphen aan den Rijn ini konsen pada beberapa tema seperti: legal and tax publishing, business publishing, medical/scientific publishing, educational publishing/ professional training, trade publishing. Pada tahun 2010 Wolters mampu meraih angka penjualan €3.556 billion (2010) dan memperkerjakan 19,000 karyawan di seluruh dunia.

Verenigde Nederlandse Uitgeverijen (VNU)[3] adalah penerbitan yang berpusat di Haarlem. Saat ini mereka mempunyai 38 ribu karyawan yang tersebar di lebih dari 100 negara. Produktivitas VNU sangat luar biasa.  VNU didirikan pada tahun 1964 dengan core bisnis: publishing, printing and distributing consumer magazines, newspapers dan books,  yang menembus pasar Belanda dan Belgia. Pada tahun 2004 yang lalu, mereka mengukuhkan diri sebagai “the largest ‘yellow pages’ publisher” di Eropa.

Studi Publishing di Belanda

Setelah mengetahui dunia perpustakaan dan penerbitan, tentu kurang mantap rasanya jika kita tidak menelusuri pendidikan bidang publishing di Belanda. Program ini tentu tidak terlalu familiar bagi sebagian besar akademisi di Indonesia, karena memang jurusan Sejarah dan Teknik lebih diminati oleh mahasiswa/i Indonesia yang hendak melanjutkan studi di Belanda. Salah satu universitas terkenal yang membuka program publishing ini adalah Universitas Leiden dengan Master of Arts in Book and Digital Media Studies[4]-nya.  Ada 3 spesialisasi yang ditawarkan: Digital Access to Cultural Heritage, History of the Book, dan Publishing Studies. Secara umum, program MA ini akan membawa mahasiswa/i untuk mempelajari dinamika proses transfer ilmu pengetahuan dan informasi melalui print media dan elektronik media, sejarah penerbitan dari Gutenberg (tokoh yang berperan besar dalam teknologi percetakan hingga Bill Gates (sang pendiri Microsoft), dan fenomena industry penerbitan.

Kemajuan sebuah bangsa sangat tergantung pada tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan dipengaruhi budaya baca. Budaya baca terstimulus dengan kehadiran perpustakaan dan penerbitan. Perpustakaan dan penerbitan akan menjadi baik jika ada masukan dan studi kritis dari para akademisi dari universitas. Maka tak salah Belanda menjadi leading country di bidang pendidikan karena segitiga emas (Perpustakaan, Penerbitan, Perguruan Tinggi) ini mampu mereka kelola dengan baik.