Malam ini Allah kembali memperlihatkan kepadaku hikmah kehidupan. Capek sepulang kerja dan kursus Bahasa Inggris hilang seketika, ketika kabar bahwa Mami Quddus masuk rumah sakit disampaikan oleh pengurus asrama. Selepas sholat Isya, bersama teman-teman asrama, kupacu motor Grand tuaku menuju RS. Sardjito. Setelah sempat mutar-mutar, akhirnya ruangan tempat Mami dirawat ditemukan jua, Paviliun VVIP Ayodya, ruang inap paling mewah di RS. Sardjito.

Mami  tampak terbaring lemah. Teman-teman asrama berbaris berderet menyalami beliau. Langkah terhenti ketika hendak meninggalkan ruangan, karena Mami memanggil kami. Di bawah pengaruh obat tidur, beliau masih sempat menyampaikan sesuatu, “Nanti jan lupo datang ka rumah pas buko puaso hari partamo yo…” Sebenarnya masih ada kalimat yang mau disampaikan, tapi obat tidur terlalu kuat mengalahkan kesadaran beliau. Hingga kamipun mulai berangsur keluar ruangan karena memang sudah saatnya beliau beristirahat.

Ada kekuatan yang menghentikan niat untuk segera pulang. Teman-teman memilih bertahan sambil duduk di koridor. Beberapa anak Mami juga keluar. Dengan logat Minang yang kental, salah satu dari mereka menanyakan perihal asrama dan kuliah kami. Sapaan ramah itu kemudian membuka obrolan santai yang kemudian mengalir dalam suasana keakraban.

Setelah sekian menit terlibat perbincangan, akupun tahu bahwa orang yang sedang berbicara itu adalah sosok istimewa, anak mami yang tertua, alumni Fakultas Kedokteran UGM kemudian meneruskan Ph.D di Western University Australia. Tampilannya sederhana, tapi dari wajahnya terlihat aura intelektual. Omongan santun dan tak memperlihatkan kesombongan. Sangat berbeda dengan obrolan yang kulakoni hari Sabtu lalu bersama Manajer QC PT. Siemens Indonesia. Kesan yang membuatku semakin yakin bahwa salah satu typical alumni UGM adalah rendah hati. Berbeda dengan alumni ITB yang terkesan agak sombong dan terlalu percaya diri. Nama beliau, dr. Mahmud Ghaznawie PhD SpPA, ahli patologi yang sekarang menduduki jabatan Pembantu Dekan 4 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Sebenarnya siapakah Ibu Huda S Abdul Quddus yang sering  dipanggil dengan Mami itu, sehingga aku perlu menyempatkan membuat tulisan ini meski mata sudah terasa berat? Mami Quddus adalah salah satu pendiri asrama yang kutempati sejak tahun 2002 sampai detik ini. Tak hanya itu, beliaulah yang membuat para perantau Jogja begitu “takut” mengusik ketenangan anak-anak asrama. Konon, ketika Mami masih segar-bugar, sering diadakan acara kumpul bareng. Mulai dari makan durian di asrama sampai acara bakti sosial di desa-desa miskin sekitar Jogja. Sejak akhir 1990-an sampai aku datang di asrama, tradisi itu sudah tak ada, karena usia Mami yang semakin tua tak memungkinkan beliau bersenda gurau lagi dengan warga asrama. Baru pada kesempatan Hari Raya Qurban kemarin, teman-teman asrama mengulang kemesraan bersama Mami dalam bakti sosial di daerah Kulonprogo.

Kunjungan ke rumah Mami setiap lebaran menjadi agenda wajib bagi anak asrama sekaligus penawar sedih karena tidak bisa pulang kampung. Aku sendiri yang tidak pulang sejak lebaran 2007 selalu menyempatkan berhari raya di rumah Mami. Lebaran 2010 yang lalu adalah momen berkesan. Selama satu jam-an Mami bercerita tentang kedatangan beliau ke Jogja pada tahun 1951 dan sejarah berdiri asrama. Sempat juga kami sholat Dzuhur berjama’ah sebelum berpamitan untuk melanjutkan tour Lebaran ke tempat lain.

Bagiku Mami adalah sosok ibu yang luar biasa. Beliau berhasil mendidik 12 anak-anaknya menjadi orang-orang sukses. Sesuatu yang berat, apalagi setelah menjadi single parents sejak Pak Abdul Quddus meninggal pada tahun 1987. Demi mencurahkan kasih sayang secara penuh, Mami-pun memutuskan untuk berhenti kuliah dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Jogjakarta. Sebagai perantau Minang, beliau tak lupa mewariskan identitas Minang. Bukan pada aspek kesaklekan pemilihan jodoh buat anak-anaknya, tapi pada pewarisan bahasa. Ke-12 anak mami, bisa berbahasa Minang.

Sejak masuk Rumah Sakit hari Ahad lalu, semua anak Mami berkumpul di Jogja. Umur beliau memang sudah teramat tua. Aku tak tahu persis, mungkin sekitar 90-an tahun. Seandainya Tuhan berkehendak, tentu banyak orang akan merasa kehilangan. Sosok sederhana, tapi begitu peduli kepada sesama. Seorang Ibu rumah tangga biasa, tapi menjadi luar biasa lewat keberhasilan mendidik anak-anaknya. Apakah aku akan menemukan lagi sosok perempuan istimewa seperti Mami??? Entahlah…