Aku tak menyangka, seorang Bapak berusia 40-an yang berbincang denganku dan beberapa teman asrama ketika bersilaturahim ke rumah Uda Roviza Utama (alumni asramaku) malam minggu kemarin adalah Manajer Quality Control PT. Siemens Indonesia. Baru tadi malam lewat clue yang diberikan oleh Qusthan (temanku yang mau berangkat ke Australia lewat beasiswa ADS), kemudian kuteruskan lewat pecarian internet, mengungkap itu semua, Lukman Jamaludin, alumni Teknik Mesin ITB, asal Balai Selasa Pesisir Selatan.

Selama 2 jam kami suntuk dalam obrolan santai. Pertama, beliau menanyakan dimana kami kuliah, yang ternyata menjadi kartu As-nya untuk melanjutkan pembicaraan.

“Jika anda mau melamar kerja di tempat saya, kira-kira posisi apa yang pantas saya berikan kepada anda?”

Pertanyaan yang beliau arahkan kepadaku membuat aku harus memutar otak untuk menjawab. Maklumlah, pertanyaan itu yang tak mampu kujawab ketika mengalami kegagalan dalam tes wawancara ODP Bank Mandiri setahun yang lalu.

“Perusahaan besar yang memperkerjakan banyak karyawan tentu membutuhkan keterikatan yang membuat mereka sama-sama mendukung sistem. Apalagi yang bekerja secara mekanis seperti perusahaan Siemens. Berbagai macam latar belakang, tentu harus dipadukan, agar semua lini berjalan dengan baik. Di sanalah keberadaan saya yang belajar filsafat diperlukan.”

“Okey, jika anda menjadi motivator, berarti anda harus bisa memotivasi diri anda dulu. Selain itu, anda juga harus tahu dengan seluk-beluk perusahaan agar encouragement anda tidak sia-sia.”

“Tentu saja Pak. Sebelum memotivasi orang, tentu saya juga harus mengetahui penyebab  membuat pekerja mengalami penurunan produktivitas.”

Setelah memotong jawabanku yang beliau anggap terlalu teoritis, beliaupun mulai menjelaskan dinamika dunia kerja.

“Seorang interviewer perusahaan hanya punya waktu 15 sampai 30 menit bagi setiap job seeker.  Anda harus membuat summary tentang kemampuan diri sehingga sang interviewer menilai anda layak diterima. Mereka tidak butuh narasi panjang dari anda. Mereka juga tidak butuh orang-orang kritis yang berpotensi merusak sistem kerja yang sudah terbangun. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mampu memecahkan persoalan dan bekerjasama dalam satu kesatuan untuk kepentingan perusahaan.”

“Cuba anda bedakan dua contoh kasus ini. Ada 2 staff yang diminta oleh atasannya untuk memecahkan satu persoalan. Yang satu, karena punya kepercayaan diri yang tinggi dan merasa pintar, langsung ke toko buku dan perpustakaan untuk mencari literatur agar bisa memecahkan persoalan yang disampaikan oleh sang atasan. Staf kedua, langsung menemui orang-orang yang dianggapnya bisa membantu memberikan solusi…. Anda tahu apa perbedaan di antara dua orang ini???? MINDSET… Dalam perusahaan, yang dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan. Staf pertama, tidak akan memenuhi kualifikasi itu, karena dia butuh membaca berhari-hari untuk menemukan solusi, bahkan bisa jadi dia tidak menemukan jawaban dari referensi yang ia miliki. Tapi staf kedua, sangat mungkin memberikan masukan brilian, karena dia bertanya kepada banyak orang, dan itu cukup dalam hitungan jam saja untuk mendapatkan berbagai masukan dari beberapa pakar… Itulah perbedaannya.”

Tak hanya memberikan insight tentang bagaimana menjadi pekerja yang baik, beliau juga membongkar sudut pandang kami tentang kesuksesan mengoalkan proposal. Banyak aktivis mahasiswa yang fokus pada dana ketika menemui donatur dan sponsor. Menurut beliau, terfokus pada budget anggaran, hanya berujung pada kegagalan mendapatkan dana. “Cubalah anda mulai dengan uraian, kenapa acara ini penting, apa manfaatnya untuk masyarakat dan kenapa donatur/sponsor yang bersangkutan perlu membantu anda untuk menyelenggarakan acara?”

Beliaupun mengkritik hobi para akademisi mengadakan berbagai seminar dan workshop yang menghabiskan dana sekian puluh/ratus juta, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Uang habis, sementara semua wacana yang sudah berbuih-buih disampaikan pembicara terbang dibawa angin tanpa bekas. Bukankah lebih baik uang yang sedemikian banyak itu dialokasi untuk hal-hal yang aplikatif untuk memberdayakan masyarakat? Di titik ini aku kembali menemukan teguran berarti bahwa sudah saatnya para aktivis mulai mengurangi program-program diskusi-diskusi melangit dan demonstrasi-demonstrasi tanpa visi. Beliau menyarankan agar mahasiswa turun ke Sekolah-Sekolah untuk menularkan semangat, tidak sekedar memberikan motivasi, tapi turut membantu mereka mewujudkan mimpi. Tak sekedar mengadakan simulasi masuk perguruan tinggi, tapi memperjuangkan mereka agar mendapatkan beasiswa.

Berbincang dengan beliau semakin menguatkan stigma “pragmatis” kalangan teknokrat. Hampir setiap berdiskusi dengan alumni teknik, aku menemukan sebuah logika sistematis yang cukup sederhana tapi benar-benar mengena. “Kuliah-lah yang baik, lulus cepat, dapat kerja di perusahaan terkenal dengan gaji besar, membangun rumah tangga dan membantu keluarga, syukur-syukur dengan rizki dan posisi yang ada bisa berkontribusi kepada masyarakat.” Tak perlu banyak berteori, jika akhirnya tanpa aplikasi. Perjuangkan nasib diri sendiri, barulah setelah mandiri kita bisa berbagi.

Di satu sisi aku membenarkan apa yang dikatakan oleh Pak Luqman. Toh, beliau sudah membuktikan apa yang dia utarakan. Masuk ITB sebagai mahasiswa berprestasi tingkat Sumatera Barat, sudah diterima bekerja sebelum wisuda, dan menjadi Manajer Quality Control sebuah perusahaan energi besar di dunia, menginjakkan kaki ke berbagai belahan dunia, mewujudkan mimpi-mimpi anak-anak SMA miskin untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di tengah keputusasaan karena masalah biaya, dan menolong banyak anak-anak muda untuk mendapatkan kerja.

Namun, pertanyaan besar yang mengelayuti pikiran, apakah semua permasalahan akan selesai hanya dengan cara berpikir teknis dan bekerja aplikatif? Dimanakah kita akan meletakkan posisi Tan Malaka yang lebih banyak menulis dan beragitasi dari gubuk-gubuk persembunyiannya, tapi bisa menggerakkan semangat banyak anak-anak di negeri ini untuk memperjuangkan harga diri sebagai bangsa yang besar? Bagaimanakah kita melihat Buya Hamka yang kesehariannya lebih banyak dihabiskan untuk menulis dan berceramah dari masjid ke masjid, sehingga masyarakat tercerahkan dengan cahaya kebenaran Islam? Mereka tidak bergelimang harta bahkan melarat secara ekonomi, diserang dari berbagai sisi, tapi jasa mereka selalu dikenang oleh history.

Ketika aku menyampaikan, “Banyak anak-anak negeri ini yang sudah belajar di Eropa, Amerika, Australia dengan berbagai titel, tapi mengapa kita tidak bisa mandiri mengelola kekayaan luar biasa yang sudah dianugerahkan Allah untuk negeri ini? Sehingga kekayaan yang ada tidak menjadi sarana untuk menyejahterakan rakyat, tapi malah menyengsarakan rakyat, karena kita mempersilahkan bangsa lain mengambil apa yang kita miliki?”, Pak Lukman hanya menimpali, “Kita tidak punya sumber daya manusia untuk mengelola itu semua.” Sebuah jawaban miris, yang juga pernah ku dengar dari beberapa petinggi negara ketika ladang-ladang tambang baru diserahkan kepada perusahaan-perusahaan asing.

Aku teringat dengan obrolan beberapa bulan yang dengan Uda Rio, alumni Teknik UGM yang saat ini mengelola sebuah lembaga pendidikan GCM Ednovation. Saat kutanyakan, “Kenapa uda tidak bekerja di perusahaan multinasional saja, gaji besar dan peluang belajar ke luar negeri lebih terbuka.” Jawaban Da Rio cukup singkat, “Ya, itu masalah pilihan saja. Uda memilih jalur pendidikan agar bisa berkontribusi bagi pencerdasan anak-anak bangsa. Lagian, buat apa bekerja buat perusahaan-perusahaan asing yang menjarah kekayaan kita.”  Da Rio adalah aktivis HMI. Sejak SMA sudah terkenal, karena sering menjuarai lomba-lomba mata pelajaran tingkat Sumatera Barat.

Apakah Pak Luqman salah dengan cara pikir pragmatisnya? Apakah orang-orang idelalis seperti Da Rio kita cibirkan sebagai orang yang terlalu banyak bermimpi?

Menurutku tidak ada yang perlu disalahkan. Semuanya berjuang untuk sebuah cita-cita dan turut berkontribusi bagi orang-orang di sekitarnya.  Kita tidak bisa mencap Pak Lukman sebagai agen asing yang sejahtera lewat eksploitasi “kebodohan” orang di negeri sendiri. Kitapun tidak bisa menyalahkan Da Rio yang memilih jalan tak lazim bagi seorang lulusan teknik yang biasanya bekerja sebagai teknokrat. Tapi fenomena ini semakin menjelaskan kepada kita, bahwa situasi negeri ini saat ini, tidak jauh berbeda dengan ketika kita dijajah oleh Belanda dulu. Ada orang-orang yang menjadi antek Belanda untuk menguatkan hegemoni penjajahan, ada juga orang-orang yang berdarah-darah di medan perang, dan ada kelompok tercerahkan lewat pendidikan kolonial kemudian berjuang bersama-sama rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sekarang, terserah kita memilih jalan ya mana….

Iklan