That’s irony, fella! But you’ve to do your chosen job. There’s no enemy, just irony.”

Sore mendung, sambil menanti gelap menuju pergantian hari, kumulai membaca lembaran-lembaran “Declare: Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)”, sebuah buku yang mengungkap seluk-beluk dunia penerbitan di Jogja. Kata-kata di atas kukutip dari pengantar yang disampaikan oleh sang penulis (Adhe), yang dia kutip dari perkataan Brent pada kesempatan obrolan di sebuah kafe shisha di Jalan Solo.

Libur panjang sejak Kamis sore yang lalu sampai pergantian hari menuju Senin untuk memulai kembali rutinitas kerja, tak mampu kumaksimalkan untuk mengedit sederetan naskah yang masih menumpuk. Aku lebih suka menghadiri berbagai acara di luar, daripada duduk diam suntuk di depan komputer untuk menyelesaikan editan. Dimulai dari diskusi buku “Mereka Bilang Aku China”, Kamis sore dihiasi hujan lebat, bertempat di Jendhelo Cafe Toko Buku Toga Mas. Diskusi keren yang menguraikan teror demi teror terhadap komunitas China di Indonesia. Sabtu pagi, ketika teman-teman asrama sibuk dengan persiapan menuju Pantai Siung, akupun sudah melaju menuju Masjid UII Condong Catur, menghadiri kajian “Sunni dan Syiah” dengan pembicara Ustadz Alfi Syahar, alumni IIU Sudan dan IIU Malaysia, yang kukenal sejak ngekos di Wisma Al Madinah Pogung. Setelah dipusingkan dengan studi komparasi Sunni dan Syiah, 2 kabar kematian (Pak Joko Pitoyo, dosen MMF yang terkenal galak, namun begitu kunikmati perkuliahannya di semester akhir berada di Filsafat UGM dan Pak Sahid, dokter bedah sekaligus anak salah satu tokoh Permesta yang kukenal pertama kali di Ramadhan tahun lalu, ketika kami bersilaturahim ke rumah Buya Syafi’i Ma’arif lewat ajakan Uda Zulharnen -dosen Geografi UGM yang aktif di Gebu Minang-).

Ironi kembali kutemui, ketika kedatangan jenazah pak Sahid berbarengan dengan akad nikah alumni asramaku (Da Roviza Utama), dimana rumah beliau berdua saling berhadapan, cuma dipisahkan oleh jalan. Sebuah ujian toleransi yang luar biasa bagi dua keluarga. Pernikahan yang sudah direncanakan jauh hari harus bergesekkan dengan suasana duka yang datang tiba-tiba, meskipun dari sudut agama, kematian lebih jauh direncanakan oleh Allah. Dua suasana kontras yang kujalani secara beriringan.

Pagi tadi, giliran Masjid Pesantren Takwinul Muballighin yang kudatangi untuk mengikuti kajian “Teror Bom dan Umat Islam”, dengan pembicara Ustadz Faturrahman Kamal, Lc., M.Si, tokoh Muhammadiyah yang sekarang konsen dengan gerakan perlawanan terhadap pemikiran-pemikiran Liberal lewat Institut Pemikiran Islam (IPI). Aku begitu terkejut dengan pemaparan ustadz Fatur bahwa Soekarno dan Iqbal berpendapat bahwa Ahmadiyah itu sesat. Padahal Soekarno dikenal dengan status Islam Abangan dan Iqbal lebih terkenal dengan puisi-puisinya. Tapi kenapa kedua tokoh ia cukup “tegas” dengan keberadaan Ahmadiyah?

Fenomena Sunni-Syiah, Kematian-Pernikahan bersamaan pada 2 keluarga yang bertetangga, dan penyesatan yang didasarkan pembelaan terhadap agama, telah membuatku semakin binggung. Seolah-olah aku meletakkan kaki di sisi yang berbeda, tanpa kejelasan posisi. Mungkin sebagian teman-teman akan mengatakan aku munafik dengan keberadaanku sebagai pegawai CRCS yang dicap sebagai agen perusak Islam di Indonesia. Bisa jadi aku dianggap tidak loyal oleh atasan di kantor yang telah bersedia memberikan pekerjaan dan gaji yang lumayan. Berpindah dari suasana duka sekedar melepas kewajiban selepas sholat jenazah, kemudian menikmati hidangan pada resepsi pernikahan pada rentang waktu yang berdekatan, tentu semakin menguatkan kesan oportunis kepada diriku. Tapi itulah yang benar-benar terjadi dan kulakoni.

Heroisme tentu akan memandang perjuangan pada satu “kebenaran” lebih terhormat daripada mati di jalan pragmatis. Siapa yang tak ingin menjadi Maximus yang tetap loyal kepada Aurelius? Siapa yang tidak ingin mati seperti Wales demi kemerdekaan Scotland? Siapa yang tak ingin menjadi Shalahuddin Al Ayyubi yang mati lewat perjuangan jihad untuk Islam? Siapa pula yang tak ingin dikenang seperti Tan Malaka yang mati demi sebuah Indonesia Merdeka Seratus Persen?

Tapi bukanlah semua kematian itu mengharuskan kehadiran “enemy” yang menjadi pahlawan bagi orang-orang yang mendukung mereka? Maximus tak lebih dari pengkhianat bagi Julius Cesar, Wales hanyalah pemberontak oleh Raja Inggris, Shalahuddin tak lebih seorang pembunuh bagi Tentara Salib, dan Tan Malaka hanyalah antek  Komitren yang dibenci oleh para Nasionalis Diplomatis. Pertanyaan besarnya adalah SIAPA SEBENARNYA SANG PAHLAWAN?

Bagaimanan kita memposisikan sosok seperti Lucilla, adik Julius Cesar yang terpaksa mengikuti kehendak sang kakak ketika merebut tampuk pimpinan dari sang ayah (Marcus Aurelius), kemudian penyesalannya membuat ia berbalik arah memihak Maximus, Jenderal yang diutus ayahnya untuk berjuang di Ostia? Bukankah posisi Lucilla lebih dilematis. Ia harus mendampingi Cesar, agar keamaan anaknya yang merupakan pewaris Roma tetap terjaga. Sementara ia muak dengan tingkah laku Cesar yang rakus  kekuasaan dan pengagungan… IRONIS…

Ironis, itulah kata yang tepat untuk mengambarkan semua. Yang dalam level lebih rendah, juga sedang kuhadapi saat ini. Aku binggung, SEDANG BERJUANG UNTUK APA???