Satu fakta yang membuatku tercenggang adalah 67% penduduk asli di Propinsi Papua Barat saat ini beragama Islam. Sekitar 47% penduduk asli di Propinsi Papua adalah muslim. Angka ini akan semakin bertambah jika kita akumulasikan dengan para pendatang dari Jawa ataupun Sulawesi dan daerah lain.

Sebagaimana yang mafhum kita ketahui selama ini, Papua adalah daerah yang  sukses ditaklukkan oleh misionaris Kristen selain daerah Sumatera Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Sejarah mencatat tanggal 5 Februari 1855 sebagai hari pertama masuknya misionaris Jerman ke tanah Papua lewat bantuan Sultan Tidore. Umat Kristiani di Papua bahkan memperingati hari bersejarah itu setiap tahunnya.

Namun, jauh sebelum itu, para pendakwah Islam sudah menjejaki kaki di bumi Cendrawasih. Adalah Sultan Iskandar Syah (Putra Mahkota Kerajaan Melaka yang kemudian menikahi Putri Kerajaan Samudera Pasai) pada abad ke 15 sudah mengirimkan para mubaligh untuk menyebarkan Islam di Papua. Seiring kejatuhan Melaka ke tangan Portugis, maka misi itu akhirnya tergantikan oleh gencarnya gerakan para misionaris.

Secara agama mereka memang telah berubah dari penganut animisme-dinamisme menjadi Kristen. Tapi kehidupan mereka tak pernah berubah meskipun sudah menjadi wilayah Indonesia merdeka. Saudara-saudara kita itu tetap dibiarkan hidup dalam keterisoliran dan keprimitifan. Dibiarkan telanjang tanpa balutan pakaian yang pantas. Dibiarkan meminum arak dan miras yang meracuni akal sehat. Dibiarkan melumuri badan dengan lemak babi dan anjing sebagai penganti mandi. Membiarkan para Ibu melahirkan di kandang babi kemudian menyusui bayinya di sisi kanan dan anak babi di sisi kiri. Semua kita biarkan dengan dalih PELESTARIAN KEBUDAYAAN.

Sementara mereka bertumpah darah karena perang suku dan melanggengkan keterbelakangan, kekayaan bumi yang mereka miliki bisa kita ambil sepuas-puasnya. Tak cukup dengan sendiri, kita ajak para expatriat, para sohib kulit putih kita, bersama-sama menindas saudara sendiri. Pertanyaan besarnya adalah TIDAKKAH KITA MERASA BERDOSA???

Untunglah ada seorang Fadlan Garamatan, anak Papua asli yang telah melepaskan kita dari dosa dan kemurkaan Allah. Ustadz Fadlan dengan segala keterbatasan mulai membuka tabir kebodohan itu sejak tahun 1980-an. Melanjutkan perjuangan Iskandar Syah, yang terhenti karena kekalahan di Malaka. Beliau bukanlah alumni Al Azhar ataupun Universitas Timur Tengah yang begitu banyak meramaikan Indonesia. Bukan pula alumni sekolah agama. Beliau hanyalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makasar.

Kedatangannya sebagai “orang aneh dari Papua” di Makasar pada tahun 1978 pertama kali untuk kuliah-pun disambut sinis. Suatu hari, Ustadz Fadlan masuk kelas “Agama Islam”. Baru saja dosen masuk, seorang mahasiswa langsung berdiri. “Pak, sebelum kuliah hari ini dimulai agaknya kita harus mempersilahkan tamu tak diundang untuk meninggalkan ruangan ini”. Sontak saja seluruh ruangan kaget. Sang dosen menoleh ke Fadlan, “Karena ini kuliah Agama Islam, Anda dipersilahkan keluar.” Sontak saja Fadlan muda kaget. Seolah tak percaya, ia mencoba memastikan, “Saya Pak???”. “Ya Betul…”, ujar Pak Dosen. “Baik Pak, sebelum saya keluar izinkan saya menyampaikan 2 pertanyaan dan 1 permintaan.. Apakah Islam hanya untuk orang Sulawesi dan Arab saja? Siapakah sosok berkulit hitam legam, kemudian diminta menjadi pengumandang adzan oleh Rasulullah karena kemerduan suaranya? Terakhir, izinkan saya meminta seluruh yang ada di ruangan ini untuk membaca Al Qur’an, termasuk saya, dan mari kita dengar bacaannya baik-baik.” Maka gegerlah seluruh kelas. Permintaan pembacaan Al Qur’an diamini Pak Dosen. Setelah 47 Mahasiswa-i yang ada di ruangan itu termasuk Fadlan, selesai membaca Al Qur’an, maka Pak Dosenpun berujar, “Hanya 7 orang di antara kalian yang benar membaca Al Qur’an barusan. Salah satunya pemuda hitam ini…”.

Beberapa waktu yang lalu, ketika heboh pembahasan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, Ustadz Fadlan bersama dengan 600 akhwat pribumi Papua yang berjilbab melakukan longmarch di Jakarta sambil membawa poster besar yang bertuliskan, “Kasihan deh Loe. Sekarang ribut-ribut mau telanjang. Sedangkan kami sudah berpengalaman telanjang.” Sebuah pukulan telak buat para penentang RUU itu karena dalil mereka dengan kondisi tanah Papua hancur berantakkan.

Sempat menjadi PNS di Jayapura, tapi kemudian memilih berhenti karena atasannya menyuruh melakukan manipulasi dana negara. Apalah artinya uang sejuta, dua juta, tiga juta, atau bahkan ratusan juta jika meletakkan kaki di neraka? Maka, dengan tekad bulat ia putuskan berjuang di jalan dakwah. Perdebatan dengan Para Pendeta sudah hal biasa. Berjalan berhari-hari menembus hutan-hutan ganas Papua juga sudah biasa. Bahkan sambutan panah dan tombak tak sedikitpun melemahkan semangatnya untuk menyebarkan Islam

Saat ini, Ustadz Fadlan bersama 600-an da’i sedang berjuang menyebarkan indahnya Islam di tanah Papua. Melepaskan kebodohan dan berhala-hala keyakinan-pemikiran yang sengaja disebarkan oleh orang-orang yang ingin masyarakat Papua tetap menjadi orang-orang pinggiran dan tak berperadaban. Dengan sebuah cita-cita, tahun 2020 nanti Papua akan menjadi SERAMBI MADINAH, melengkapi SERAMBI MEKKAH di ujung barat Indonesia. Jika di ujung timur telah terbit cahaya Islam dan di ujung barat cahaya Islam semakin terang benderang, Insya Allah, akan turun rahmat dan keberkahan buat Indonesia. Hilanglah kesengsaraan, penderitaan, dan keterjajahan yang saat ini melanda, lewat pertolongan Allah karena kita berjuang untuk Islam… Amien.. ALLAHU AKBAR…