“Penghujung Cintaku” yang dibawakan oleh Pasha feat Adelia, menemaniku melawan sakit yang menyerang tubuhku sejak 2 hari yang lalu. Aku masih bisa bertahan sampai kemarin sore. Sudah agak baikan ketika mengikuti uraian Prof. Judith Schlehe di Wednesday Forum CRCS UGM. Namun, setelah Ashar, panas mulai meninggi. Puncaknya tadi malam, ketika 2 lapisan jaket dan selimut tak mampu meredam dingin yang menyerang tubuhku.

Aku berterima kasih kepada Bu Lina yang telah memberikan izin tak masuk kantor hari ini. Meski sudah agak mendingan dari tadi malam, tapi tubuhku masih lemah, konsentrasi pecah. Mudah-mudahan dengan istirahat seharian ini, bisa membuatku segera pulih dan besok sudah bisa masuk kantor, mengerjakan tugas-tugas yang mesti kuselesaikan.

Tak ingin sakit terus menjalar ke kepala, akibat terlalu banyak berbaring, kuputuskan untuk habiskan waktu di depan komputer. Entah kenapa, aku kepengen sekali membaca tulisan uda Iwan Piliang tentang Rosihan Anwar, yang sempat menjadi headline di Kompasiana beberapa hari yang lalu. Sebulan ini, Pak Rosihan terbaring di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta.

Lewat bantuan google books, aku menemukan terbitan terakhir Pak Rosihan, “Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid IV”. Meski tak lengkap, namun berhasil memutar memoriku ke belakang sambil mereka-reka situasi yang sedang beliau ceritakan.

Banyak cerita menarik yang diceritakan buku itu. Tentang advise Pak Rosihan kepada Anwar Ibrahim muda untuk merubah haluan perjuangan. “If can’t beat them, join them, jika tak bisa mengalahkan UMNO bergabung saja dengan UMNO”. Termasuk cerita “belajar sholat” Prof. Soedjatmoko sebelum berangkat ke Washington sebagai Dubes RI. Tulisan Rosihan tentang Soedjatmoko ini, mengingatkanku akan uraian Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif pada kesempatan Diskusi Great Thinkers di Gedung Pasca Sarjana UGM beberapa waktu yang lalu. “Soedjatmoko menemukan kesholehan di hari tuanya. Berbeda dengan tutornya, Sjahrir, yang tak sholat hingga kematiannya di Zurich Swiss pada usia 57 tahun.”

Nama Rosihan Anwar, sudah lama kudengar. Tapi belum sempat aku membeli buku-buku beliau. Baru sebatas membaca artikel-artikel beliau yang pernah dimuat di berbagai media. Setelah melihat status Uda Abraham Ilyas yang melink-an sebuah berita di Kompas, aku tercenung. Segera kumatikan speaker yang masih saja mengalunkan lagu “Penghujung Cintaku”. ROSIHAN ANWAR BERPULANG.

Sebagai manusia, kematian adalah keniscayaan yang tak bisa ia hindari. Namun, catatan-catatannya teramat berharga, bagi anak bangsa yang mau peduli dengan sejarah.

Pak Rosihan telah meninggalkan warisan teramat berharga, yang melebihi segunung emas, BUKU. Torehan yang akan terus dibaca oleh anak bangsa sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki kesalahan dan melempar jauh kebodohan yang telah membuat bangsa ini menjadi kerdil.

Semua yang pernah beliau tulis, tentu akan menjadi sejarah, seiring kepergiannya pagi ini (08.15) di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center Jakarta. Maka sudah seharusnya mulai detik ini kita berburu 30-an buku yang telah Pak Rosihan tinggalkan sebagai warisan.

Rosihan Anwar, wartawan 5 zaman, semula hanyalah anak kampung. Dilahirkan di sebuah kampung kecil yang dikelilingi Bukit Barisan, Kubang Nan Dua, Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922. Sebuah nagari hanya beberapa kilometer dari kediamanku di Solok. Tapi terus terang aku belum pernah bersilaturahmi ke rumah kelahiran beliau. Perantauan ke Jogja untuk meneruskan pendidikan di AMS, telah membuka gerbang baginya menjelajahi dunia. Merambah Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Dari Anak kampung kemudian berubah menjadi Maestro Jurnalistik yang disegani banyak orang.

Kenapa Rosihan begitu disegani? Lewat uraian Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif pula, aku baru mengerti tentang kelebihan beliau. “Pak Rosihan Anwar itu punya daya ingat yang luar biasa.” Tentu saja pergaulan beliau dengan tokoh-tokoh penting di negeri ini, menjadi kekuatan lain sebagai jurnalis, karena menulis lewat interaksi langsung dengan tokoh yang diceritakan menjadi catatan lebih hidup, tak sekedar teori.

Jika kita rujuk dari silsilah keluarga, Rosihan memiliki darah sastra dan aktivis. Berikut penuturannya di Petite Histoire: “Kakek saya bekerja sebagai kepala stasiun kereta api pada zaman kolonial. Dia Paman Marah Roesli pengarang roman Siti Noerbaya dan Roestam Effendi putra Indonesia yang terpilih jadi anggota Parlemen Belanda (Twede Kamer) yang mewakili Partai Komunis Belanda.”

Sisi romantis tak akan lepas dari seorang maestro. Menjelang kepergiaannya, Rosihan tengah merampungkan “Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida”. Sebagai prasasti cinta yang menjadi pelajaran buat para petualang cinta yang tak pernah puas dengan satu kekasih hati. Aku berharap naskah itu telah selesai beliau tulis, dan segera diterbitkan.

Sayang, tak seperti Taufik Ismail yang sudah “berpikir jauh” dengan mendirikan “Rumah Puisi” Taufik Ismail di kampung halamannya, Bukittinggi, Rosihan belum sempat mendirikan sebuah “museum” yang bisa kita kunjungi. Mudah-mudahan saja ada orang-orang baik yang rela hati mengucurkan donasi untuk menghimpun dan menjaga kerja besar selama 5 zaman yang beliau lakukan. Agar generasi mendatang tetap diliputi rasa bangga, bahwa negeri ini pernah melahirkan orang hebat seperti Rosihan Anwar di tengah kondisi bangsanya yang terus tercabik-cabik oleh immoralitas dan keterjajahan.

Selamat jalan Pak Rosihan. Setelah ini, karyamu akan mengelegar mengalahkan halilintar, terus mengusik anak bangsa yang tuna hati dan tak lagi punya nurani.

Iklan