Kenapa Aku Menulis???


Aku sadar sepenuhnya, aku hanyalah pemuda biasa yang tak punya apa-apa. Seringkali menghibur hati dengan lamunan-lamunan indah yang jauh dari kenyataan. Memang ketika menghadapi realitas, hadir rasa sakit karena semua hanya ilusi belaka. Tapi apa yang bisa kujadikan sebagai pengobat rasa sakit, selain meletakkan harapan bahwa esok akan lebih cerah?

Mungkin atas dasar itu pula, aku tertarik untuk membuat skripsi tentang “Messianik Yahudi”, yang bercerita tentang pengharapan bangsa Yahudi akan masa messiah, dimana Tuhan membuang segala duka, dan merubahnya dengan suka cita. Itulah yang membuat bangsa Yahudi bertahan di tengah penderitaan bertubi-tubi dari zaman sebelum masehi, sampai abad kontemporer ini. HANYA SEBUAH HARAPAN, tidak lebih.

Menjadi bangsa tersisih, menjadi orang yang tersisih di tengah pergaulan, tentu amat menyakitkan di tengah kondisi eksistensi manusia sebagai social animal. Sama seperti Yahudi, agaknya begitu juga nasib yang kualami. Menjadi pemuda sunyi yang banyak menghabiskan waktu dalam kesendirian. Upaya untuk terlibat dalam hiruk-pikuk keramaian, hanya membuatku semakin luka karena banyak wajah-wajah tak suka. Maka tak jarang aku begitu gembira ketika bertemu dengan orang-orang hebat yang mau meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol ataupun mendengarkan curhat tak jelasku.

Tak jarang aku menangis akan perhatian mereka. Orang-orang yang menyapa karena ikhlas, merajut persahabatan karena kasih. Tapi hanya sedikit sosok-sosok spesial seperti itu. Daripada terjebak dalam canda tawa penuh kemunafikan dengan orang-orang yang tak jelas punya tendensi apa, bukankah lebih baik menikmati kesunyian???

Kesunyianlah yang membuatku punya waktu untuk menuliskan apa yang kurasakan. Mungkin hanya sekedar cerita biasa yang sangat personal dan subjektif. Tapi bagiku, itu sudah cukup untuk meringankan belitan irrasionalitas kehidupan.

Ekspresi kemarahan, sedih, gembira dan bahagia mengalir seiring gejolak hati yang tak menentu. Tapi menuliskan itu semua, memperlihatkan sisi kemanusiaan secara lebih jelas. Karena omongan teoritis yang tak punya pijakan, hanya menjadi tumpukan keangkuhan dan kesombongan. Orang belajar dari kisah hidup, bukan belajar dari teori.

Dendam ataupun fanatisme menjadi konsekuensi atas semua itu. Manusia harus terus mengingat sejarah hidupnya, agar tak menjadi amnesia. Manusia yang melupakan sejarah, hanya akan menjadi sosok hipokrit yang tak punya pendirian. Dendam bukan berarti tak memaafkan. Karena sifat dasar manusia adalah khilaf. Tapi bukan berarti kita menjadi kehilangan sensitifitas memori. Kepahitan dan kegelapan menjadi pelajaran untuk kita melangkah ke depan tanpa terseret pada kesalahan di masa lalu.

Dengan apa sejarah dikekalkan? Memori manusia hanya bertahan sepanjang usia. Jika sudah meninggal, hilanglah semua kisah. Maka perlulah sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh generasi setelah kita. Mungkin kisah kita hanyalah “kisah biasa”. Tapi tetaplah menuliskannya. Karena sesuatu yang biasa bisa menjadi begitu inspiratif jika kita menuliskannya dengan hati. Bukankah tulisan berhati, akan mampu menyentuh manusia yang punya hati?

Atas dasar itulah, sampai hari ini aku tetap menulis. Tanpa ambil pusing dengan komentar-komentar miring dari orang-orang yang merasa hebat. Buat pemuda sunyi sepertiku, menulis telah hadirkan kegembiraan, mengobati sakit, dan melanggengkan optimisme untuk melanjutkan kehidupan.

Pria sunyi, tetaplah sepi. Bukanlah tersingkir dari kehidupan yang ia takutkan, tapi hilangnya inspirasi dan kesempatan berkontemplasi yang menjadi hantu mengerikan baginya. Sakit karena cinta, tetap membuatnya menangis. Tapi tak akan membuatnya berhenti melambungkan asa. Hingga maut, akan menghilangkan semua perih yang pernah ada di hatinya. Sampai akhirnya, semua yang pernah dia tulis, mengalahkan dentuman halilintar, meski tubuhnya sudah bersatu dengan tanah.

Iklan

2 thoughts on “Kenapa Aku Menulis???

  1. Eh? da anggun galau.. :D
    bagus sih galau dan sunyi memberi peluang untuk menulis.. tapi bukankah “sunyi” dan “galau” itu kebiasaan?
    Sama seperti orang bilang bahagia itu ada karna kita terbiasa berbahagia, karena kita terbiasa ‘menerima’. Ikhlas yang bikin kita berkurang penyakit hatinya, bikin jiwa tentram.. Hehe.. Ndak usah galau da! Mari membiasakan berbahagia. Kalau da punyo kesempatan sobok urang-urang hebat itu karna uda pantas. Hehe.. Masa generasi muda minang ndk pnyo prcya diri? :)

  2. tulisan Mas yg satu ini berat, ..
    “jalani apa yang ada saja”, itu old wisdom Jawa yg seringkali dicekokkan pada saya. tapi mungkin itulah adanya yg terbaik buat kita, Maz.

    kita sama, Mas.
    sbg wong jowo, saya bisa rasakan apa yang Mas rasakan.
    Wassalam, :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s