Malam minggu buat pria sunyi sepertiku, tentu tak semeriah teman-teman yang punya pasangan. Hanya mengotak-atik komputer ataupun duduk berjam-jam di depan tv. Tayangan EPL yang biasanya menjadi tontonan wajib, malam tadi tak begitu menarik minatku. Aku lebih suka mengalihkan chanel ke Metro TV, karena ada program inspiratif yang sayang jika dilewatkan, Earth From Above. Sebuah film dokumenter yang menceritakan nasib bumi yang kita tempati ini. Kampanye besar untuk pelestarian bumi agar tetap menjadi tempat hunian yang nyaman buat kita dan generasi mendatang. Meski keyakinan agama mengatakan bumi pasti akan hancur lebur (kiamat), tapi itu tidak menjadi justifikasi kita untuk semena-mena mengeksloitasi alam mumpung masih belum kiamat?

Di sisi yang lain, aku menemukan argumen yang kuat atas pilihanku bekerja di CRCS. Memang banyak orang yang mencibir lembaga yang konsen di bidang lintas agama dan budaya itu sebagai gerakan sistematis menghancurkan Islam. Tapi, banyak yang belum paham akan  misi perdamaian yang dibawa CRCS. Darah telah menghiasi sejarah umat manusia karena ego kebenaran, baik itu yang dimotivasi oleh agama, ras, maupun politik. Perang Salib menjadi bukti paling terang buat kita. Lagi-lagi keyakinan agama mengatakan sebelum kiamat akan terjadi Perang Armageddon yang melibat 3 agama Abrahamistik (Yahudi, Islam, dan Kristen). Namun apakah itu menjadi justifikasi buat kita untuk melanggengkan permusuhan dan kebencian?

Adzan Shubuh membangunkanku dari tidur yang diawali keresahan. Resah sakit karena cinta. Resah dalam kebimbangan apakah aku akan mengasingkan diri dari cinta, ataukah tetap memperjuangkannya.

Motor grandku melesat menuju Masjid Kampus UGM, setelah kewajiban kerja bakti di asrama ku selesaikan. Menghadiri kajian rutin Tafsir Al Qur’an yang sudah kuikuti sejak tahun 2003, seiring keaktifanku di lembaga dakwah kampus Jama’ah Shalahuddin UGM. Diampu oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc. M.Ag, alumni Universitas Al Madinah Saudi Arabia, seorang ustadz yang begitu kukagumi karena keluasan ilmu dan ketawadhu’an yang tampak jelas dari ucapan-air mukanya. Meski tak memiliki gaya mentereng ala ustadz-ustadz yang seringkali tampil di tv, namun setiap kali mendengarkan uraian beliau ada kesejukkan yang hadir dalam hati. Ada semangat untuk terus memperbaiki diri, ada penyadaran akan dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan. Yang paling penting adalah penyandaran kepada dalil-dalil sahih baik itu dari Alqur’an, Alhadist, maupun dari kitab-kitab para ulama.

Jam 8 lewat 10 menit pengajian diakhiri. Akupun berjalan ke sayap utara sambil melihat papan pengumuman, tempat berbagai pamplet ditempelkan. Aku dikejutkan oleh sapaan seseorang yang lagi bersandar di tiang. Ah, ternyata Mas Widodo, teman satu angkatan di filsafat UGM. Beliau sekarang jadi advokat di sebuah lembaga hukum yang dikelola oleh uda Iwan Satriawan, MCL (alumni IIUM Malaysia), salah satu tokoh Minang yang dihormati di Jogja. Selain itu, Mas Widodo mengajar di program internasional fakultas Hukum UMY, lewat ijazah SH yang ia peroleh dari UMY juga. Ya, temanku satu ini memang kuliah doble dan aktif di english speaking klub. Rencananya, beliau mau berangkat ke IIUM, melanjutkan S2 di bidang Hukum Perbankan.

Sedang asyik-asyik ngobrol, lagi-lagi aku dikejutkan oleh sapaan teman lama, Rahmat Hasibuan, orang Medan yang dulu satu angkatan Batra HMI MPO denganku. Ya, sebelum pindah haluan ke IMM, aku sempat aktif aktif di HMI lewat saran dari da Riki Ferdian, alumni asramaku yang sekarang bekerja di Bank Indonesia. HMI menghadirkan pergulatan intelektual yang hebat bagi mahasiswa baru sepertiku. Namun, jiwa yang masih labil membuatku tak tahan mengikuti alur para seniorku, hingga aku menonaktifkan diri sambil memperbanyak menghadiri kajian-kajian Islam dari masjid ke masjid.

Ketika sudah mau pamitan menuju pasar pagi UGM (Sunday Morning Market), Rahmat memberikan sebuah suprise, “Hei, mau kenalan dengan Mas Chozin ngak? Beliau ada di sini sekarang, bareng istrinya.” Aku langsung tersenyum dan mengiyakan. Tak disangka aku bisa bersalaman dan ngobrol dengan Ketua PB HMI MPO, Chozin Muhammad, alumni Ohio University, plus berkenalan dengan istri beliau. Selama ini, aku hanya tahu dari media dan facebook tentang sosok orang nomor 1 di HMI MPO ini. Tadi pagi Allah mengizinkanku untuk bersapaan langsung.

Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar. Itulah kalimat yang pantas kuucapkan. Betapa  sayangnya Allah kepadaku. Diperkenankan merantau ke Jogja, kuliah di UGM, aktif di organisasi-organisasi terkenal, berkenalan dengan orang-orang hebat, dan dianugerahi pekerjaan sebagai pegawai Pascasarjana UGM. Sesuatu yang tak mungkin kudapatkan apabila hanya kuliah di Padang. Loncatan intelektual yang merubah jalan hidup, dari anak kampung menjadi pemuda kosmopolitan yang sedikit tahu tentang perkembangan zaman. Meski kuakui masih banyak kekurangan diri, tapi semua pengalaman di Jogja telah membuatku merasa berarti. Saatnya terus berjuang untuk menjadi diri yang lebih baik dari hari ini… Semangat…