Allah punya rahasia, yang akan dibuka pada waktunya. Terkadang kita dibiarkan dulu melalui kesulitan, bahkan tak jarang bergelimang airmata, hingga Dia merasa sudah saatnya menukar kesedihan itu dengan kegembiraan.

Sebagai lulusan UGM tentu ada rasa bangga menyelinap di hatiku. Apalagi dengan status lulusan terbaik fakultas filsafat pada angkatan wisuda februari 2010, plus IPK 3,61. Dengan percaya diri, kumasukkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan terkenal. Berawal dari program pengkaderan manajer (ODP) Bank Mandiri. Aku lolos seleksi berkas, tapi gugur di wawancara Bahasa Inggris. Terpana dengan kegagalan itu, akupun langsung mendaftaran diri di Jogja English Dormitory. Kursus Bahasa Inggris intensif selama 4 bulan, satu minggu masuk 4 hari, satu hari belajar 3 jam.

Tawaran bekerja di Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah datang lewat Mas Arif, seniorku di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Tapi cuma dua minggu aku bertahan. Setelah itu, kembali kusandang status pengangguran sambil terus memasukan lamaran kerja. Sejak itu aku sering ke Jakarta, karena memang tes diadakan di Jakarta. Dimulai dari tes sebagai wartawan Republika (terhenti di psikotest), MDP Bank Syariah Mandiri (terhenti di psikotest), Pelabuhan Indonesia Indonesia II (terhenti di tes ke 3), Widyaswara Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta yang terakhir lamaran sebagai freelance journalist Kompas Online (terhenti di tes kedua). Tapi semua berakhir dengan KEGAGALAN.

Pertengahan Desember 2010, aku memutuskan tak lagi mengirimkan lamaran kerja. Mulai merintis usaha penerbitan yang kunamai “GRE PUBLISHING JOGJA”. Iklan ditebar di blog, milis, dan facebook. Orderan mulai berdatangan. Luar biasanya, meski sebagai pemula, yang mempercayakan naskah kepadaku adalah orang-orang hebat. Ada Dr. Nusyirwan, M.PH, dosenku di kampus yang menyerahkan disertasinya untuk dijadikan buku. Ada Mamak Zulharbi Salim, Lc. M.A, mantan wartawan Antara yang bermukim di Timur Tengah selama 33 tahun. Ada Buya Mas’oed Abidin, ulama kenamaan di Sumatera Barat yang merupakan sekretaris terakhir Mohammad Natsir. Ada Mas Gonda Yumitro, teman seperjuangan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM yang sekarang sedang menempuh studi di 2 program Master di India. Ada Dunsanak Qusthan Abqary, teman sesama orang Minang di filsafat UGM yang saat ini sedang siap-siap berangkat ke Australia setelah lolos seleksi beasiswa ADP. GRE PUBLISHING mulai berkembang. Bahkan aku mulai kewalahan mengurus naskah yang masuk.

Seiring dengan perkembangan penerbitan, akupun dinyatakan lolos seleksi untuk menjadi mahasiswa baru di program English Extention Course Universitas Sanata Dharma, sebuah program Bahasa Inggris terkenal di Jogja dengan durasi waktu 2 tahun. Aku menemukan semangat lagi. Mimpi mendapatkan scholarship membuatku tak pernah absen selama perkuliahan.

Memasuki minggu ketiga Maret, sebuah email dari Pak Sailal, dosen jurusan Sastra Indonesia UGM yang dikenalkan Pak Nusyirwan kepadaku beberapa bulan yang lalu, telah membawa perubahan baru. Email itu berisi lowongan kerja sebagai Web Admin di CRCS UGM, sebuah program S2 unggulan yang memfokuskan diri pada kajian Agama dan Budaya. Sambil iseng-iseng, kukirimkan aplikasi lamaran. Seminggu kemudian, datang email invitation untuk interview. Seperti biasa, dengan pakaian agak sedikit necis meskipun rambut telah mulai gondrong, kudatangi kantor CRCS. Di sela-sela menunggu panggilan, kusempatkan mengobrol dengan kandidat lain. Ada yang sudah lulus S2 Kajian Media dan Budaya UGM dengan pengalaman sebagai relawan saat Tsunami di Aceh. Ada lulusan Sastra Jerman Unpad Bandung, dengan traderecord sekian tahun bekerja di Insist, sebuah penerbitan terkenal di Jogja. Ada juga lulusan S2 CRCS sendiri.

Tibalah giliranku. Masuk ke ruangan, berhadapan dengan 3 wanita hebat di CRCS: Dr. Fatimah Husein (MA Mc Gill Kanada – PhD Melbourne), Linah Khairiyah Pary, M.Pd, M.A, dan Najiyah Martiam, M.A. Selama 20 menit aku diberondong dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari strategi mengembangkan web CRCS, kenapa aku pantas dipilih, dan apakah aku sanggup bekerja di bawah atasan seorang wanita. Sebuah tugas untuk membuat report lanching buku yang akan diadakan CRCS, mengakhiri interview yang berlangsung santai itu.

Rabu malam 29 Maret 2011, aku kembali mendapatkan email dari CRCS. Aku diminta untuk datang kembali ke CRCS untuk interview lanjutan. Kali ini aku hanya berhadapan dengan Buk Martiam. Pertanyaan yang beliau ajukan lebih kepada apa yang telah kukerjakan selama ini, terutama terkait bidang website dan publishing. Panjang lebar aku menjelaskan kiprah sebagai blogger sejak tahun 2006 dan isi buku “Messianik Yahudi” yang kukonversi dari skripsi. Setengah jam, aku menguraikan semua. Tiba giliran Buk Martiam mengambil kendali. Beliau mulai menjelaskan visi dan misi CRCS, serta menyerempet pada job description web admin yang berada di bawah Bidang Pendidikan Publik CRCS.  Aku heran, kok sudah masuk pada penjelasan job description. Akupun angkat bicara, “Buk, status saya sekarang apa ya?”. Dengan tersenyum Buk Martiam menjawab, “Selamat, anda telah diterima sebagai pegawai CRCS.” Aku agak terkejut, karena kupikir, ini adalah interview lanjutan yang diikuti oleh kandidat yang lain. Eh, tenyata yang dipanggil hari itu hanya aku sendiri. Kata Buk Martiam, saingan terkuatku adalah kakak kelasku sendiri, alumni S2 Filsafat UGM dan CRCS memilihku karena pengalamanku berkiprah di Kompasiana.

Beberapa menit kemudian, Buk Linah masuk ke ruangan interview, membawa selembar kertas yang berisi penjelasan mengenai status kepegawaianku dan gaji yang akan kuterima. Selama 3 bulan aku akan menjalani masa percobaan. Jika kinerjaku dinilai baik, mau CRCS akan memperpanjang kontrakku. Besaran gaji sebagai pegawai training-pun cukup lumayan untuk diriku yang masih single. Cuma yang jadi kendala soal jam kerja. Aku harus masuk full-time, 8 jam sehari. Ya, terpaksalah aku harus mengorbankan semua kuliah jam pertama di EEC Sanata Dharma. Teramat berat ketika harus berpisah dengan Mr. Risang di kelas Reading, Mrs. Diana di kelas Speaking, Mrs. Ucy di kelas Vocabulary, dan tentunya Mrs. Nora di kelas Listening. Padahal dengan Miss Nora, aku sudah janji untuk terus jadi mahasiswa yang pertama kali datang. Tapi, mau gimana. Aku hanya berharap, semester depan dapat bertemu dengan dosen-dosen hebat itu lagi. Mudah-mudahan saja, suasana “internasional” di CRCS bisa mengonversi semua.

Harapan kembali bersinar, setelah meredup tertutup awan. Tiga kegiatan rutin akan menggiringi hari-hariku: kerja di CRCS, kuliah Bahasa Inggris di Sanata Dharma dan tetap mengibarkan Gre Publishing. Memang tak mudah untuk membagi waktu. Namun, jika kita mau tentu semua bisa dikerjakan. Tetap semangat, karena Allah tak membiarkan hambaNya yang bersungguh-sungguh berjuang.