Menjelang tengah malam. Aku kembali mengetikkan deretan kata di blog ini. Setelah suntuk di ruang TV lebih dari 2 jam, menonton sebuah film historis Braveheart yang menceritakan perjuangan rakyat Scotlandia bersama pahlawannya, William Wallace. Gerakan bersama rakyat yang dituding oleh Kerajaan Inggris sebagai pemberontakan. Tapi bagi Wallace, itu adalah sebuah perjuangan untuk kemerdekaan. Meski harus bernasib tragis karena pengkhianatan beberapa bangsawan yang haus kekuasaan, tapi tak merubah pendiriannya, hatta menjelang detik-detik kematian. Padahal tawaran untuk hidup berulang kali diucapkan oleh hakim. Mulai dari sekedar “pengakuan terhadap raja Inggris”, “mencium lambang kerajaan”, sampai sekedar mengucapkan kata “mercy”. Tapi ketika penyiksaan semakin berat, satu teriakan “FREEDOM”, bersambut dengan ayunan kapak sang algojo memenggal kepala Wallace. Tragis, tapi begitulah kematian terindah bagi seorang pejuang. Lebih baik meregang nyawa di tangan musuh, daripada mati mengkhiati bangsa sendiri.

Meskipun berlatar culture Britania Raya, sesungguhnya Braveheart membentangkan kepada kita potret kemanusiaan. Ada bangsawan yang rela menjual tanah airnya, sekedar meraih kehormatan dari penjajah. Ada orang-orang biasa yang mengorbankan nyawanya demi sebuah kebebasan, berjuang bersama sang pahlawan yang tak mengenal rasa takut demi sebuah cita-cita kemerdekaan.

Kitapun bisa menilai, dimanakah kita berada? Di pihak para pragmatis yang rela menjual harga diri demi gelar, pangkat, jabatan, dan materi? Atau di barisan para idealis yang tak lagi memikirkan kesenangan dunia demi kejayaan tanah air tempat kita dilahirkan?

Menjadi idealis di zaman yang serba abu-abu saat ini, memang sebuah pilihan gila. Tak saja dicibir oleh massa, tapi juga harus menemui berbagai kesulitan hidup. Seringkali dicap radikal, berpikiran sempit, dan tak paham dengan realita. Bahkan tak jarang nyawa menjadi taruhan.

Tapi bukankah kematian itu akan datang juga. Entah itu, ketika terbaring di ranjang di tengah perut yang kenyang, ataupun ketika berdarah-darah di medan juang. Semua itu pilihan. Tapi kematian seperti apakah yang kita inginkan?

Hidup tanpa cita-cita hanyalah hidup yang sia-sia. Pertanyaan besar yang mesti dijawab adalah CITA-CITA APA YANG INGIN KITA PERJUANGKAN? Sebelum melangkah lebih jauh, tetapkanlah dulu CITA-CITA itu dulu. Timbang lewat perenungan mendalam, tentukan lewat pemikiran yang matang. Karena hidup hanya sekali, dan tak bisa diulang kembali. Salah memilih jalan, sama saja mati dalam kesesatan.

Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita yang haq itu haq, dan diberikan kemampuan untuk memperjuangkannya. Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita yang batil itu batil, dan diberikan kekuatan untuk menjauhinya. Amien….

Iklan