Tak terasa, sebulan sudah aku kuliah Bahasa Inggris di English Extention Course Universitas Sanata Dharma (EEC Sadar). Banyak pengalaman menarik yang kualami. Berinteraksi dengan dosen-dosen EEC yang ramah-ramah meskipun banyak teman-teman yang sering telat dan tak mengerjakan homework. Bergerombolan menuju salah satu ruang kecil di belakang Sadar untuk sholat Ashar selepas mata kuliah pertama selesai. Status Sanata Dharma yang notabene adalah Universitas Katolik, tentu fasilitas sederhana untuk sholat ini, cukup membuat teman-teman muslim/ah merasa dihargai. Ya, begitulah Jogja mengajarkan toleransi antar umat beragama. Tak seperti di kampungku, dimana letupan-letupan antar pemeluk agama sangat mudah disulut.

Aku mulai menikmati suasana yang damai di Sanata Dharma. Menikmati kembali dunia kampus yang selama setahun ini kutinggalkan selepas menyelesaikan kuliah di UGM. Menemukan gairah baru belajar Bahasa Inggris lewat materi-materi mengasyikan yang diberikan oleh dosen-dosen di kelas. Menambah deretan list teman baru dari berbagai kampus dan latar belakang pendidikan. Ada yang lebih tua, tapi kebanyakan lebih muda dariku. Ada yang berasal dari Jawa, Sumatera, bahkan ada juga yang dari East Timor. Ada mahasiswa/i UGM, Sanata Dharma, UPN, UII, dan UIN Sunan Kalijaga. Ada anak Biologi, Ekonomi Fisipol, Syariah, Pasca Sarjana, dan juga Kedokteran.

Semua itu memberikan aku dorongan motivasi, hingga tak ingin bolos satu mata kuliahpun. Padahal godaan cukup banyak. Latihan bola dan pertandingan persahabatan bersama teman-teman Sinar Oetara (klub divisi utama PSIM Jogja) yang digelar setiap Rabu dan Jum’at sore terpaksa kukorbankan. Letih mengedit naskah-naskah buku yang kukerjakan baik pagi maupun malam, harus kusingkirkan jauh-jauh.

Beberapa hari ini, aku menemukan seorang Bidadari di EEC. Tanpa kusadari, ia menggelorakan semangatku berkali-kali lipat. Dia teman satu kelasku di 1A. Debaran rasa tak biasa hadir kala pertemuan kedua di kelas Speaking. Mrs. Diana kala itu membagi semua mahasiswa/i dalam beberapa kelompok. Kelompok-ku terdiri dari 3 cowok (termasuk aku sendiri) dan satu cewek. Kami diminta untuk mempraktekkan list dialog yang telah dibagikan. Aku terpesona dengan suara gadis itu. Ya Tuhan, lembut sekali suaranya.

Sejak momen itu, entah mengapa aku pengen banget mengenal dia lebih jauh. Malam hari selepas sholat Isya, aku langsung bergerilya di internet. Lewat bantuan google dan database website UGM akhirnya aku menemukan facebook gadis yang telah membuatku terpesona itu. Esok harinya, invitation-ku diapprove. Mulai detik itu, setiap kali dia online, kusapa dia lewat fitur chat di facebook. Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sms kepadaku. Memberitahukan bahwa tugas kelompok Speaking sudah dikirim lewat email. Akhirnya tanpa harus bersusah payah, aku mendapatkan nomor handphonenya.

Aku mulai sering memperhatikannya. Acap kali sholat jama’ah bareng. Aku selalu terkaget-kaget ketika mengucapkan salam dan menoleh ke belakang, mataku menemukan wajah manisnya. Tapi tak pernah beradu pandang karena dia selalu menunduk selepas mengucapkan salam.

Aku selalu menantikan kehadirannya di kelas. Dari 8 mata kuliah yang diambil semester pertama ini, dia terpaksa meng-cancel beberapa mata kuliah karena bertabrakan dengan jadwal kuliahnya di UGM. Kala dia tak datang karena kesibukan di kampus, entah mengapa ada rindu nan membelit hati ini.

Kemarin adalah momen indah yang tak mungkin kulupakan. Di kelas Vocabulary dia tiba-tiba duduk di belakangku. Padahal biasanya dia duduk berjauhan dari kursiku. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, sambil menanyakan jawaban dari tugas yang diberikan oleh dosen. Suaranya yang lembut kembali menghanyutkanku. Jam pertama selesai. Akupun memberikan handout yang minta dia bawakan lewat sms pagi sebelumnya untuk difotokopi.

Selepas sholat Ashar, akupun menuju kelas Fluency. Dosen belum datang. Sementara dia sudah duduk manis di dalam kelas bersama teman-teman cewek yang lain. Kuberanikan diri masuk ke ruangan. Ambil posisi persis di belakangnya. Dia serahkan handout yang tadi dipinjam. Beberapa menit kemudian, teman-teman cowok yang lain ikutan masuk. Suasana jadi riuh, karena obrolan hangat yang disertai bayolan membuat tawa lepas mengalahkan hujan yang tak mau berhenti turun sore itu. Dia tak terlalu banyak bicara. Namun, ikutan tertawa ketika Mas Kris dan Pak Na’im bikin lelucon yang benar-benar lucu.

Di sela-sela obrolan ramai itu, aku sempat menanyakan tentang proposal PKM-nya yang lolos seleksi DIKTI dan keterlibatannya di Kepengurusan Pusat AAI UGM. Jawabannya yang merendah, membuat aku semakin kagum.  Ya Tuhan, pesonanya telah membuatku tak berdaya.

Dia hadir ketika aku kecewa. Dia hadir bawakan semangat baru. Sejak awal pertemuan dengannya, hati ini sudah bergetar. Dan tenyata memang benar. Dia, gadis penuh talenta. Tuhan, aku yakin sanubariku tak salah memilih. Hatiku tak buta ketika kagum dengan pesonanya.

Mar 23, 2011 @ 20:31

 

Dan siang ini semua berubah menjadi duka. Seperti mendung yang menyelimuti Jogja. Kebahagiaan ini lagi-lagi hanya euforia. Siang ini Bidadari itu mengirimkan sebuah sms kepadaku,

“Maaf mas, sebaiknya mas nyari yang lain. Saya sudah ada dan saya sangat mencintainya. Ni lagi dikenalin ke keluarganya.”

Sakit, jelas sakit. Kecewa, jelas aku kecewa. Harapan kembali sirna. Tapi aku tak dapat berbuat apa-apa…