Teman-teman salafi yang saya hormati. Tiada maksud saya melecehkan teman-teman dengan beberapa tulisan saya akhir-akhir. Bukan pula terbesit kebencian kepada teman-teman semua. Kita sama-sama Islam, sama-sama sedang belajar mencari kebenaran, dan berjuang untuk kejayaan Islam.Kebanyakan kita adalah pemuda-pemuda yang baru mengenal Islam secara lebih baik ketika memasuki bangku kuliah. Ketika masih SMA dulu, kita hanyalah remaja-remaja labil yang larut dengan berbagai hura-hura. Beberapa di antara kita terjebak dalam pacaran. Beberapa di antara kita asyik menghabiskan waktu dengan musik. Beberapa di antara kita sibuk nongkrong sampai saban malam, sambil menghisap rokok yang terkadang dilengkapi dengan ganja dan minuman keras. Beberapa di antara kita sibuk dengan berbagai genk dan sesekali terlibat dalam keributan yang berakhir dengan perkelahian. Saat mulai mengenal Islam, sedikit demi sedikit kita merubah perilaku. Perlahan, sambil terus mengaji dan menghadiri berbagai majelis ilmu. Hingga berubahlah kita menjadi sosok baru yang berputar haluan mendekati 180%. Tentu saya tidak memungkiri ada di antara teman-teman yang memang sudah baik sejak SMA. Kemudian menjadi lebih baik lagi ketika memasuki bangku kuliah berkat berbagai kajian Islam yang teman-teman ikuti.

Tidak pula saya ingin berdebat dengan ustadz-ustadz terkait dengan berbagai dalil seputar beberapa hal yang saya angkat (isbal, jenggot, demokrasi, safar dan yang lain). Karena saya tidak ingin membentrokkan antar ustadz yang berbeda pemahaman. Bukan saja tak berakhlak, tapi juga akan memperlihatkan tontonan yang membuat orang-orang yang benci dengan Islam akan tertawa terbahak-bahak karena kita berperang satu sama lain. Meski sudah lama meninggalkan majelis ilmu, tapi saya masih ingat cerita Imam Empat Mazhab. Walaupun berbeda pendapat, para Imam itu tetap beradab dan menghomati pendapat masing-masing. Sungguh saya menginsyafi bahwa menerakan pertentangan dalil, hanya semakin memperuncing keadaan dan hanya menambah ruwet persoalan.

Sesungguhnya niatan saya untuk menuliskan beberapa tulisan yang mengkritik salafi bukanlah bertendensi memojokkan teman-teman dan para ustadz salafi. Saya cukup mengagumi semangat dan keistiqomahan teman-teman dalam menjaga diri dari berbagai kemaksiatan. Teman-teman bisa menyingkirkan televisi yang menayangkan berbagai kemaksiatan, meskipun harus bertarung dengan fitnah internet. Teman-teman begitu bersungguh-sungguh mengikuti sunnah nabi, hatta itu membuat teman menjadi sosok yang tampak aneh bagi kebanyakan orang. Bahkan tak jarang teman-teman dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat karena pilihan itu.

Saya mengagumi semangat teman-teman menuntut ilmu dari pagi hingga malam. Sementara para mahasiswa kebanyakan masih terlelap ketika adzan shubuh sudah berkumandang, teman-teman sudah bersiap menerobos dinginnya pagi menuju ke masjid. Ketika sebagian mahasiswa sibuk nongkrong sampai tengah malam, teman-teman bergulat dengan kitab-kitab para ulama. Saat sebagian mahasiswa sibuk dengan pacaran, teman-teman mencoba melawan godaan nafsu dengan membaca Al Qur’an. Ketika sebagian mahasiswa sibuk dengan konser-konser musik, teman-teman berpikir keras untuk merumuskan strategi dakwah. Sungguh saya mengagumi semua itu.

Bagiku, teman-teman bukanlah orang-orang aneh. Tapi pemuda-pemuda hebat yang membuatku iri karena cahaya kesholehan yang teman-teman miliki. Karena hidayah Allah telah membuat teman-teman terhindar dari berbagai fitnah dunia yang melenakan kebanyakan para pemuda.

Ketika remaja labil sepertiku mulai mengenal kajian-kajian yang lebih dulu teman-teman ikuti, akupun mulai merasakan kesejukan. Perlahan, akupun mulai menyesuaikan diri, baik sikap maupun penampilan. Hingga pada satu titik, kita telah sehati dan se-perjuangan. Ketika teman-teman mulai mengenalku sebagai mahasiswa jurusan filsafat, serta-merta semua berubah. Bahkan ustadz-ustadzpun dengan begitu mudahnya menyampaikan kata-kata haram di pengajian ketika menyampaikan materi “hukum filsafat dalam Islam”. Aku menjadi terpojok, menjadi orang asing, padahal kita satu pengajian. Tidak sekali dua kali aku dipermalukan di depan forum oleh ustadz. Apakah aku tidak pernah terpikir olehku untuk pindah jurusan? Bukannya tidak pernah, malahan sering. Hingga di titik kegamanganku, aku berangkat sendirian ke Surabaya untuk mendaftar di Ma’had Al Isyad. Aku lulus seleksi dan kukabarkan berita baik itu kepada orangtuaku di Sumatera Barat sana. Masih lewat telepon di wartel, karena kala itu handphone tidak semarak sekarang. Kucuba rangkai kata dengan baik. Dengan tutur lemah-lembut. Tapi tahukah teman-teman apa yang kuterima? Bapak uring-uringan di rumah karena keinginanku untuk berhenti kuliah. Piring-piring dan gelas beterbangan di rumah. Adik-adikku yang masih kecil-kecil tak luput dari kemarahan Bapak. 3 hari kemudian Ibuku datang ke Jogja. Setelah menempuh perjalanan melelahkan 2 hari 2 malam dengan bis. Sesampai di asramaku, tak ada senyuman kecuali tangisan beliau yang pertama kutemui. Dengan mengiba beliau memintaku untuk tetap kuliah di UGM. Anak mana yang tak perih melihat Ibunya sendiri menangis sambil memohon? Kala itu, SPMB sudah berakhir. Peluangku untuk ikut ujian seleksi sudah tertutup karena sudah lewat masa 3 tahun ijazah SMA yang merupakan persyaratan ikut ujian. Kalaupun harus masuk universitas swasta dengan uang kuliah jutaan, duit darimana? Pernah juga terbesit masuk IAIN, tapi bukankah ustadz-ustadz kita bilang, IAIN bukan tempat yang baik untuk belajar agama???

Hingga akhirnya aku tetap meneruskan kuliah di Filsafat UGM sambil terus ikut pengajian. Suara lantang ustadz yang mengharamkan filsafat tak pernah berhenti. Semakin memojokkanku, padahal seringkali aku curhat dengan ustadz terkait dengan posisiku yang dilematis sehingga harus tetap bertahan kuliah di filsafat. Tapi beliau tak mau ambil pusing. “Kebenaran harus selalu disampaikan”, mungkin itu yang menjadi argumen beliau.

Singkat cerita, aku mulai bosan dengan semua pemojokkan itu. Aku mulai ngaji di Muhammadiyah. Sampai akhirnya di tahun 2008 akhir kuputuskan untuk memotong jenggot dan tak lagi memakai celana-celana di atas mata kaki yang kumiliki. Tapi kerinduan akan kajian salafi, membuatku sesekali tetap hadir menghadiri majelis dan kajian-kajian salafi.

Ketika telah lulus dari filsafat UGM di awal tahun 2010 yang lalu, aku merasa lepas dari beban yang selama ini kupikul. Aku telah memenuhi amanat orang tuaku untuk mempersembahkan ijazah UGM, sekaligus bebas dari cibiran teman-teman salafi yang selama ini dialamatkan kepadaku.

Sepulang dari kampung halaman kemarin, semangatku untuk kembali mengikuti kajian salafi begitu kuat. Hingga aku sempatkan jua menghadiri majelis taklim, meski dengan pakaian kusam dan rambut acak-acakan. Aku bisa menerima tatapan aneh dari teman-teman salafi. Tapi dipermalukan di depan umum oleh ustadz dengan sebuah perkataan, “Tidak mungkin seorang menjadi muslim yang baik, jika mencukur jenggot dan membiarkan pakaiannya melebihi mata kaki”, telah menghadirkan traumatik masa laluku.

Lama aku tercenung memikirkan ungkapan ustadz. Apakah tak ada peluang bagiku untuk kembali menjadi baik, setelah lama terjerat dalam berbagai kemelut yang membuat aku jauh dari agama? Apakah tidak ada peluang bagi orang-orang yang memotong jenggot dan memakai celana di bawah mata kaki, untuk menjadi muslim yang baik? Apakah tidak ada kesempatan bagi alumni filsafat sepertiku untuk memperbaiki diri dan mendalami agama lagi? Jika ada, kenapa kata-kata yang begitu menyakitkan keluar dari lisan ustadz?

Itulah membuatku kecewa. Begitu amat kecewa. Keinginanku untuk kembali ngaji disambut dengan kata-kata pedas dari ustadz yang teramat kucintai. Siapa yang tak sakit, ketika percaya bahwa ustadz yang sudah tahu latar belakang kita selama ini, kemudian berbalik melontarkan kata-kata teramat sakit? Bukankah itu teramat perih?

Aku tidak ingin memperpanjang persoalan ini lebih jauh dan menjerat banyak orang atas pengalaman pribadiku. Tokh, dikucilkan, dibenci, ditatap sinis sudah biasa bagiku. Tak masalah jika teman-teman merasa lebih benar dan mengikuti sunnah nabi. Aku sangat menghargai dan mengangumi keteguhan teman-teman untuk berjenggot dan memakai celana di atas mata kaki. Aku sangat menghargai, akhwat-akhwat yang memakai cadar, sambil memberikan penjelasan yang jernih kepada teman-temanku yang agak sinis dengan wanita bercadar. Aku salut ketika teman-teman bisa kuliah di jurusan halal, tak sepertiku yang akhirnya hanya bisa lulus dari jurusan “haram”, meskipun itu sangat simplikistis karena teman-teman tidak mengetahui pengaruh filsafat kepada seluruh ilmu-ilmu yang ada dan akhirnya teman-teman bekerja di perusahaan-perusahaan hebat yang notabene juga dilingkupi berbagai ideologi yang bertentang dengan Islam. Okeylah, aku bisa menerima semua itu, karena aku sadar teman-teman butuh uang untuk terus hidup. Tapi jangan hina pekerjaan orang tua kami yang terlanjur bekerja di institusi-institusi demokrasi yang teman-teman haramkan. Karena, bukankah selama ini teman-teman juga mendapatkan bantuan dari pejabat-pejabat publik yang terpilih lewat mekanisme demokrasi yang teman-teman haramkan itu.

Permintaan cukup sederhana, akuilah bahwa siapapun berhak untuk menjadi muslim yang baik, tanpa harus meletakkan jenggot dan celana di atas mata kaki sebagai ukuran segala hal. Aku hanya ingin, teman-teman salafi lebih arif melihat perbedaan dalam berIslam. Tanpa klaim-klaim kebenaran yang menyudutkan orang lain secara menyakitkan. Aku hanya ingin teman-teman melihat pengalaman orang secara arif dan memahami latar belakang seseorang, sebelum membabi buta mengatakan haram, bid’ah dan lain sebagainya. Cuma itu saja.