Menjadi muslim yang baik merupakan impian semua orang Islam. Tidak terkecuali bagi diriku.. Tapi ketika berbagai macam serangan terkait pilihanku untuk mencukur jenggot, memakai pakaian melewati mata kaki, dan kuliah filsafat yang kutekuni, sungguh membuatku menghadapi dilema. Apalagi ditambah dengan ungkapan yang cukup menyakitkan: “Seseorang tidak akan bisa menjadi mukmin yang baik, ketika tidak memelihara jenggot dan tidak memakai celana di atas mata kaki”?

Serangan ini dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku berpaham salafi. Mereka selalu menyandarkan argumennya sebagai kebenaran agama yang mesti dipatuhi oleh setiap muslim. Cap “ahlul bid’ah”, “ahlul maksiat”, “tak paham agama” selalu mereka lontarkan untuk membungkam orang-orang yang tak sepemahaman dengan mereka. Jangan orang biasa sepertiku, tokoh-tokoh hebat seperti Al Ghazali, Sayyid Quthb, Hasan Al Banna, Yusuf Al Qardhawi, pemuka-pemuka NU dan Muhammadiyah-pun sering menjadi bulan-bulanan mereka.

Untuk konteks Sumatera Barat, ajaran salafi ini pernah dibawa oleh kaum paderi yang terpengaruh dengan revolusi Ibnu Su’ud dan Muhammad Bin Abdul Wahab di negeri Hijaz, sehingga menimbulkan prahara berdarah di bumi ranah Minang. Jeffrey Hadler, sejarawan dari Berkeley University dalam bukunya “Sengketa Tiada Putus: Matriakat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau” mencatat berbagai kekerasan yang dilakukan Kaum Paderi dalam “mengislamkan” ranah Minang. Pembakaran rumah gadang sebagai berhala adat, pembunuhan Bundo Kanduang sebagai pemimpin matriakat, dan pembunuhan penghulu-penghulu adat menjadi catatan kelam perjalanan revitalisasi wahabi-salafi di Sumatera Barat. Ketika diasingkan di Menado oleh Belanda, Tuanku Imam Bonjol yang menjadi pemimpin Kaum Paderi, membuat sebuah memori yang mengungkapkan penyesalan atas tindakan kekerasan yang dia lakukan ketika “mengislamkan” Minangkabau.

Dewasa ini, paham salafi kembali mengeliat di Indonesia. Dibawa oleh para alumni Timur Tengah khususnya yang belajar di Saudi Arabia dan Yaman. Mereka memiliki tanda-tanda khusus yakni berjenggot panjang, dan memakai celana di atas mata kaki. Sementara yang perempuan berpakaian serba gelap dan kebanyakan memakai penutup wajah (cadar). Geliat mereka mendapat sokongan dana dari berbagai funding Timur Tengah. Sehingga mereka bisa membangun berbagai pesantren dan sekolah, serta menerobos berbagai kampus lewat berbagai pengajian. Untuk memperkuat dakwah, tak jarang mereka menghadirkan syaikh-syaikh dari Timur Tengah demi menarik minat para jama’ah untuk mendengarkan ceramah agama yang “otentik”.

Tak seperti salafi-wahabi yang dibawa oleh Kaum Paderi di Minangkabau, salafi kontemporer ini tak mengambil cara-cara kekerasan. Bahkan mereka mengharamkan demonstrasi dan penghujatan terhadap pemerintah di ruang-ruang publik. Mereka lebih lembut meskipun sering mengeluarkan fatwa-fatwa keras yang terkadang membinggungkan. Mereka mengharamkan demokrasi, tetapi tetap senang tinggal di negara yang menjalankan demokrasi. Mereka membuat berbagai larangan untuk wanita, tetapi tidak memberikan solusi bagaimana seharusnya wanita berinteraksi. Mereka sangat keras dengan orang kafir, tetapi sangat menyukai produk-produk yang dibuat oleh orang kafir. Mereka memberikan berbagai fatwa haram, tetapi tetap membiarkan para pengikutnya bekerja di perusahaan asing milik para kapitalis (yang merupakan musuh utama ekonomi Islam). Mereka mengkritik Nahdatul Ulama, tetapi kamus Al Munawwir yang notabene ditulis oleh ulama kenamaan Nahdatul Ulama tetap mereka pakai. Hasil rukyat yang kebanyakan merujuk kepada hasil penelitian para ilmuan NU tetap mereka pakai dengan dalil, itu merupakan keputusan pemerintah.

Mereka tidak mau dikatakan sebagai kelompok dalam Islam. Karena mereka berpandangan ajaran yang mereka anut adalah islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh rasulullah. Namun, mereka menumpuk pada daerah-daerah tertentu dengan ciri khas tertentu. Bukankah itu secara sosiologis merupakan sebuah kelompok?

Secara terbuka lewat media ini, saya ingin bertanya kepada teman-teman penganut salafi untuk menjawab 3 pertanyaan sederhana:

  • Jika jenggot dan isbal (memakai celana di bawah mata kaki) adalah indikasi baik/tidaknya keislaman seseorang, berarti Natsir dan ulama yang telah berjasa dalam dakwah dan mendirikan NKRI ini, karena tidak memelihara jenggot dan isbal berarti bukanlah muslim yg baik??
  • Jika demokrasi itu haram, kenapa tidak pindah saja dari negara Indonesia ini, kemudian mencari negara yang Islami??
  • Jika wanita bepergian tanpa mahram itu haram, berarti mari kita pulangkan saja para wanita-wanita salafi yang merantau untuk kuliah tanpa ditemani mahram itu??

Jika ketiga pertanyaan ini terjawab dan kemudian direalisasikan, saya akan memuji setinggi langit keteguhan pendirian teman-teman salafi yang selama ini (disadari atau tidak) mendapatkan kebebasan berekspresi karena kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar di Indonesia.