Siang ini terasa syahdu. Sepoi angin tentramkan jiwa yang masih sisakan gelisah. Akupun keluar dari kamar. Kutatap langit biru nan dihiasi awan. Ingin rasanya terus menikmati kesejukan ini. Perlahan membuang putus asa yang sejak kemarin sore menguasai hati. Aku tak tahu kenapa selalu tak bisa melewati ujian percintaan ini. Ketika kegagalan kutemui, kekecewaan mendalam menghampiri jiwa. Dalam perasaan tak menentu, sempat aku menuliskan beberapa bait kalimat ini:

“Tuhan… Aku tak tahu apa salahku… Setiap kali cuba untuk melabuhkan hati, setiap itu juga kecewa yang kutemui. Aku tak ingin menyalahkan Engkau atas nasib yang menimpa diriku. Tidak pula aku menyalahkan “wajah” yang telah anugerahkan kepadaku. Sungguh aku tak ingin menjadi hamba yang kufur atas nikmat-nikmat yang telah berikan.

Namun, satu tanya yang sampai hari ini tak mampu kujawab telah membuatku terpuruk dalam jurang keputusasaan. Kenapa cinta yang kuperjuangkan berakhir dengan tangisan? Kenapa semua berbalik arah ketika aku menyatakan perasaan ini. Apakah karena semua lahir bukan sanubari, tapi hanya bisikan syetan?

Tapi, aku yakin rasa ini begitu jujur. Mengalir dari lubuk hatiku. Bukan sekedar permainan dan untuk gagah-gagahan. Engkaupun tahu, betapa aku merindukan kasih dari hambaMu. Ingin merasakan cinta suci sebagaimana pemuda yang lain.

Apakah aku yang tak bisa bersabar dalam menunggu keputusan-Mu Ya Allah? Hingga ketegesa-gesaan ini telah membuatku berburuk sangka kepada Engkau.”

Kutumpahkan semua kecewaku dengan bermain bola di bawah derasnya hujan. Letih memang bisa membuatku tidur sejenak. Tapi, ketika terbangun kembali, resah lagi-lagi menganggu pikiranku. Sampai tengah malam, mataku tak mau terpejam. Tak tahu apa yang mesti dikerjakan.

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan nikmat kepadaku untuk mendengarkan adzan Shubuh. Meskipun setelah selesai sholat, aku tertidur lagi. Persis jam 6.30  jam alarm yang kusetel dari handphone berbunyi. Cuci muka, gosok gigi terus hidupkan Grand tua-ku menuju Masjid Kampus UGM.

Wajah teduh Ustadz Ridwan Hamidi, serta ceramahnya yang lembut, perlahan tenangkan jiwaku nan masih gelisah. Seiring pengajian selesai, hati inipun telah tentram kembali.

11.25, sebuah sms mampir di handphone. Ternyata dari Buya Mas’oed Abidin, seorang ulama kenamaan di Sumatera Barat yang beberapa waktu lalu mempercayakan buku karangan beliau “Pesan-Pesan Mohammad Natsir” ke penerbitanku. Aku sempat was-was, karena sudah 5 hari beliau tidak membalas sms-ku yang mengabarkan bahwa editan layout buku itu sudah selesai kukerjakan. Ternyata, Buya Mas’ed lagi umrah. Jadi baru siang ini beliau sempat mengirimkan sms balasan.

Hari ini kembali aku melangkah melalui sepiku. Meskipun sendiri tanpa ada yang menemani. Allah pasti punya rencana lain untukku. Hingga Beliau menghendakiku tetap menjadi pria sunyi hingga detik ini. Liku hidup yang mesti kuhadapi dengan sabar. Karena lewat kesabaranlah semua akan berakhir dengan kebahagiaan yang sempurna.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, semua salah dan khilafku. Aku hanyalah hamba yang lemah, yang seringkali tersungkur melalui takdir-Mu. Namun, jangan biarkan aku terpuruk dalam kebencian, dendam dan keputusasaan. Anugerahkan senyuman dan kesabaran dalam hatiku ini. Ya Allah, jangan biarkan aku melewati semua ini sendiri. Karena tak sanggup rasanya hidup tanpa bimbingan dan kasih sayangMu. Ya Allah tunjukkan jalan yang terbaik untukku… Amien…