Solusi Mengatasi Pengangguran dan Loss Generation di Indonesia


Salah satu masalah krusial yang sampai hari ini belum tertangani secara baik oleh pemerintah adalah masalah pengangguran. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Badan Statistik Nasional  edisi 8 Januari 2011 menyebutkan jumlah penganggur pada Agustus 2010 sebanyak 8,319,779 orang atau 7,14 persen dari 116,527,546 orang dari total angkatan kerja. Dimana 710,128 orang pengangguran mempunyai ijazah S1 dan 443,222 orang memiliki ijazah diploma. Artinya, perebutan satu kursi karyawan baik itu di instansi pemerintah, maupun sektor swasta sangat ketat. Secara kasat mata kita dapat menyaksikan perjubelan ini pada acara-acara job fair, penerimaan karyawan BUMN, dan tes cpns. Bahkan untuk perusahaan-perusahaan dan departemen-departemen tertentu, persaingan telah menembus skala 1:1000 (satu kursi diperebutan oleh 1000 pelamar).

Sampai sekarang pemerintah kelihatan masih binggung untuk mengatasi masalah ini. Tidak ada terobosan sistematis-solutif, kecuali kampanye-kampanye entrepreneuship yang belakangan mulai massif. Itupun masih dilakukan setengah hati karena tidak ada regulasi kepada bank-bank untuk menaikan jumlah pinjaman lunak dan berbunga rendah kepada para wisausahawan/ti baru. Sehingga usaha-usaha baru yang dibuat oleh para lulusan universitas dan diploma lebih banyak mengandalkan dana pribadi/bantuan sanak famili.

Di sisi lain, orang yang sudah bekerjapun banyak yang tidak digaji secara layak. Dalam artian, gaji yang mereka terima tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, sehingga tetap harus berutang.

Kenyataan ini semakin runyam untuk konteks rumah tangga. Ketika suami hanya bergaji 2 juta/bulan, sementara dana operasional keluarga yang mesti ditanggulangi sebesar 3 juta, tentu terdapat defisit 1 juta. Pilihan berutang sama saja menambah persoalan. Karena akumulasi utang bulanan plus bunga akan membuat keluarga itu semakin terpuruk. Maka mau tak mau istripun turut bekerja membantu suami yang bergaji rendah.

Secara normatif, suami berkewajiban memberikan nafkah. Sementara istri adalah guru pertama bagi anak-anak sekaligus manajer operasional di rumah. Ketika istri harus bekerja agar ekonomi keluarga tetap stabil, maka rumah menjadi sepi. Syukur masih bisa mengajak keluarga terdekat untuk membantu. Tapi kalau tidak ada, terpaksa memakai jasa pembantu.

Dalam beberapa kasus, gaji yang didapatkan oleh istri lebih tinggi suami. Tak jarang disparitas ini menimbulkan cekcok. Kompetisi dalam keluarga mulai terbangun, sehingga pekerjaan di kantor lebih menjadi prioritas demi tambahan pemasukan lewat kerja lembur. Anak-anak yang mulai tumbuh dibiarkan diasuh oleh pembantu. Agar sibuk, anak-anak yang haus kasih sayang itu kemudian dimasukkan ke sekolah-sekolah terpadu yang berdurasi pagi sampai sore.

Dalam kasus yang lain, istri yang berinisiatif membantu keuangan keluarga mengambil jalan menjadi TKW. Suami dan anak ditinggalkan dalam jangka waktu cukup lama. Memang uang yang didapatkan lumayan besar. Tapi tak jarang pengorbanan ini harus dibayar mahal karena perlakuan majikan yang tak manusiawi dan suami berselingkuh. Lagi-lagi anak menjadi korban.

Prof. Dr. Mashudi Muqorrobin, pakar Ekonomi Islam, lulusan Islamic Internasional University Malaysia dalam kesempatan ceramah di masjid asramaku tadi malam mengemukakan sebuah ide cemerlang yang menurutku layak dipikirkan secara serius oleh pengambil kebijakan di negeri ini. Beliau menjelaskan, pemerintah perlu membuat policy penarikan tenaga kerja perempuan yang bekerja di berbagai perusahaan dan instansi secara bertahap. Dari 108,207,767 orang yang bekerja, lebih dari separohnya adalah perempuan. Jika setiap tahun pemerintah berhasil mengurangi 1 juta saja tenaga kerja wanita, maka itu mengurangi total pengangguran lebih dari 10%.

Landasan logisnya adalah patron klasik ekonomi; “Semakin tinggi penawaran, sementara permintaan sedikit, maka harga menjadi murah. Jika penawaran rendah, permintaan besar, maka hargapun naik.” Dalam konteks pasar tenaga kerja, teori permintaan dan penawaran ini juga bisa diaplikasikan. Jika lowongan sedikit, sementara yang melamar banyak, maka perusahaan bisa menekan salary karyawan. Namun, jika perusahaan membutuhkan banyak karyawan dan yang melamar sedikit maka mereka tentu berani menawarkan gaji yang tinggi.

Ketika suami berhasil memenuhi kebutuhan rumah tangga berkat salary tinggi yang didapatkannya di kantor, tentu istri tidak perlu lagi bekerja. Sehingga istri bisa memainkan peran utama sebagai pendidik anak-anak. Maka konsep ideal rumah tangga bisa tercapai karena masing pihak memainkan perannya masing-masing secara maksimal.

Islam mengajarkan equilibrium rumah tangga untuk membangun sebuah peradaban. Suami berperan untuk generasi di masanya. Sementara perempuan menyiapkan generasi mendatang. Ketika peran-peran ini berlangsung dengan baik, maka potensi kegagalan generasi bisa dicegah lebih dini. Bukankah loss generation akibat kurangnya kasih sayang bisa menjadi bom waktu bagi kita semua?

Tentu saja, Islam tidak melarang perempuan bekerja. Pada bidang-bidang tertentu, perempuan lebih capable daripada laki-laki, seperti dokter kandungan atau guru di pendidikan anak usia dini. Namun, secara umum kehadiran perempuan sebagai Ibu rumah tangga adalah tugas mulia yang seharusnya menjadi acuan kita dalam membangun sebuah peradaban.

Tawaran ini memang harus dikaji lebih mendalam lagi. Banyak prasyarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar tidak berubah arah menjadi persoalan baru. Namun, sebagai sebuah pemikiran alternatif, penulis menilai gagasan Prof. Dr. Mashudi Muqorrobin membuka wacana baru kita untuk memecahkan problema pengangguran dan berbagai masalah sosial yang melanda Indonesia saat ini.

Iklan

One thought on “Solusi Mengatasi Pengangguran dan Loss Generation di Indonesia

  1. ya memang perlu kajian lebih dalam. ada beberapa point yang ingin saya tekankan.
    1. argumentasi tentang urgensi kebijakan penarikan tenaga kerja perempuan, sangat-sangat lemah dan menurut saya tidak bertanggungjawab
    2. argumentasi yag diajukan lebih merupakan sebuah masalah bagi saya. bagaimana tidak, jumlah pelamar lebih sedikit belum tentu membawa konsekuensi gaji lebih tinggi bagi masyarakat. penduduk dunia lebih dari 6 milyar bung. semua teknologi sudah menjadikan dunia dalam “satu kampung”. jika tak ada tenaga di indonesia, bisa ambil dari malaysia ato negara lain. jika jogja kurang tenaga kerja, bisa ambil dari kebumen, dsb. contoh paling enak untuk kita liat ya sudan. berapa tenaga terdidik dan tak terdidik kemudian berapa pelamar kerja dan kesempatan kerja yang ada. kondisinya sama seperti argumentasi yang profesor dan atau anda berikan bahkan lebih buruk, dan hasilnya rumus yang anda berikan tdk berlaku.
    3. sebuah kajian akademis atau katakanlah ilmiah, pasti akan lemah dan useless jika berdiri dibelakang nama agama. setidaknya itu yang masih cukup saya percayai. disini, anda menyajikan argumentasi tentang equilibrium rumah tangga yang diajarkan islam yang menurut saya kemudian bertentangan dengan argumentasi anda bahwa perempuan tidak dilarang bekerja dalam islam. kedua argumentasi ini anda tambahkan bidang kerja yang sangat membutuhkan perempuan. kesan yang saya tangkap bahwa anda mendukung domestifikasi peran perempuan dan memberikan sedikit kebebasan untuk perempuan bekerja. saya harap anda tidak mempunyai maksud demikian.
    jika boleh berpendapat, tugas laki-laki dan perempuan dalam peradaban adalah sama. sama dalam rumah tangga maupun dalam bermasyarakat. baik laki-laki dan perempuan wajib menjaga martabat keluarga dan pasangan masing-masing. karena kepala rumah tangga umumnya adalah suami, maka suami berperan lebih banyak dalam hal pengambilan keputusan dan jalannya sebuah rumah tangga.
    tugas untuk penyiapan generasi mendatang adalah tugas bersama antara laki-laki dan perempuan atau ayah dan ibu. keduanya tidak boleh meninggalkan keluarga karena dari situlah mereka berpijak untuk mendapatkan rahmat dan barokah, hidayah dan ianah, dalam dunia dan akhirat. nabi Muhammad SAW dan Siti Khodijah RA adalah contoh bahwa perempuan juga berperan untuk masanya tanpa melupakan keluarga pun sebaliknya. nabi Muhammad SAW beserta istri-istrinya menunjukkan bahwa Nabi tidak hanya berperan dalam masanya tetapi menyiapkan juga generasi mendatang. anda mungkin akan ingat siti fatimah, Zaenab, dan anak perempuan nabi lain. khulafaur Rosidin tidak pernah pula melarang seorang perempuan berperan dalam masanya seingat saya. hanya para sahabat yang lainlah yang keberatan jika seorang wanita ikut berperan dalam masanya. dengan argumentasi tradisi dsb.
    menurut saya loss generation adalah kesalahan ayah dan ibu. bagaimanapun, seorang anak akan meniru/mencontoh ayahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s