Para feminis tentu sangat percaya bahwa domestifikasi wanita merupakan bagian dari dominasi budaya patriarkhi yang telah berurat-berakar dalam berbagai komunitas. Bahkan agama-pun ikut dibawa-bawa sebagai institusi yang melanggengkan kondisi “unfair” ini. Salah satu desakan keras yang mereka suarakan adalah “Mari kita tinggalkan pekerjaan rumah tangga, karena semua itu telah mengungkung kita untuk berkarier dan menghilangkan kesempatan kita untuk berkreatifitas. Bergulat dengan sumur, kasur dan dapur, hanyalah konstruksi patriarkhi yang dipaksakan bagi kaum wanita, yang kemudian berubah menjadi common truth untuk menindas kaum wanita.”

Saya dapat mengerti teriak kaum feminis ini. Karena banyak wanita di berbagai pelosok dunia menjadi “budak” dari tangan besi laki-laki. Seringkali saya terheran-heran dengan aliran-aliran agama yang secara radikal melarang wanita berkiprah di ruang publik dengan alasan “wanita adalah fitnah terbesar bagi laki-laki“. Menakut-nakuti wanita dengan ancaman neraka, sehingga mereka menjadi makhluk yang terasing dalam kehidupan. Namun, di sisi lain saya mengkritis sikap-sikap aneh yang diambil oleh kaum feminis, seperti membiarkan wanita menjadi komoditas seks kaum pria atau menjadi lesbian karena merasa tidak membutuhkan laki-laki lagi. Hampir tidak pernah terdengar teriakan kaum feminis terhadap berbagai media porno yang mengeksploitasi tubuh wanita dan  demontrasi kaum feminis untuk menutupa tempat-tempat lokalisasi.

Kali ini, saya ingin mengulas satu pertanyaan penting kaum feminis, yaitu apakah pekerjaan rumah tangga yang selama ini diwajibkan kepada kaum wanita murni berasal dari hegemoni budaya patriarkhi?

Beberapa hari yang lalu, di kelas reading English Extention Course Sanata Dharma yang diasuh oleh Mr. Risang, kami diminta membahas tema “Why men don’t iron” (Kenapa laki-laki tidak menyetrika). Tidak dibiarkan berpikir spekulatif, Mr. Risang memberikan kami 2 artikel ilmiah menarik. Yang secara telak meruntuhkan pandangan bahwa dominasi patriarkhi-lah yang membuat wanita terpaksa bekerja untuk urusan-urusan domestik.

Artikel itu menerangkan, “according to recent scientific research, gender differences exist because men’s and women’s brains work completely differently and their biological differences mean that they can never think or behave in the same way.” (Menurut penelitian ilmiah baru-baru ini, perbedaan gender terjadi karena otak laki-laki dan otak perempuan bekerja dengan cara yang sangat berbeda dan karena perbedaan biologis mereka, artinya,  mereka tidak pernah dapat berpikir atau berperilaku dalam cara yang sama).

Lebih lanjut, artikel itu menjelaskan, dua sisi otak perempuan (bagian untuk kemampuan verbal dan bagian untuk kemampuan spasial) berkoneksi secara baik. Hal ini membuat wanita menjadi lebih fluent in speech (Rata-rata, wanita bisa berbicara dalam 6.800 kata per hari, sementara laki-laki hanya 2.400 kata) dan lebih baik melakukan pekerjaan dalam satu waktu dibandingkan laki-laki. Sementara, dua sisi otak laki-laki berada terpisah, sehingga mereka lebih cendrung fokus pada satu pekerjaan dan menghandle satu masalah dalam satu waktu.

Seringkali pekerjaan rumah tangga, adalah multiple task yang dikerjakan dalam satu waktu, seperti memasak sambil ngobrol, menyetrika sambil memperhatikan bayi bermain roda-rodaan. Pada sebuah experiment yang dilakukan oleh British TV, dimana 6 perempuan dan 6 pria diminta untuk membuat kopi, membersihkan ruangan, memasak roti panggang, menerima telepon, mengepak barang ke dalam tas dalam waktu 10 menit, ternyata kaum perempuan melakukan kesemuanya lebih baik dibandingkan laki-laki. Semua itu, bukan karena kebiasaan, tetapi karena kinerja otak perempuan memang lebih compatible melaksanakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Tulisan ini bukan bermaksud menjustifikasi  atas pengabaikan para pria terhadap tugas-tugas domestik rumah tangga. Namun, hanya ingin menunjukkan bahwa secara biologis memang wanita diberikan kelebihan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga lebih baik dibandingkan para pria. Karena tidak ada salahnya di waktu-waktu senggang para suami ikut mencuci, menyeterika, ataupun memasak. Mudah-mudahan uraian di atas bisa membuat kita mendudukkan isu-isu bias jender pada tempatnya. Amien…