Ini adalah tulisan kedua untuk mengklarifikasi berbagai komentar yang singgah di postingan saya yang berjudul “Kenapa Aku Meninggalkan Salafi?”. Klarifikasi pertama, saya buat beberapa bulan yang lalu dengan tajuk “Menjaga Nama Baik Salafi”.

Sebenarnya dah capek meladeni komentar-komentar terkait pengharaman filsafat. Bukan karena aku tak mau berdebat panjang tentang hal ini, tapi terus terang dalil-dalil yang mereka bawakan masih tak berubah dari apa pernah kubaca dulu ketika masih menjadi salafi. Sampai saat inipun majalah Al Furqon yang membahas tentang haramnya filsafat masih kukoleksi. Bahkan aku sudah membuat tulisan terkait masalah ini dengan title MEMBELA FILSAFAT (STUDI KRITIS TERHADAP FATWA “HARAMNYA FILSAFAT”) dan Haramnya Filsafat dan Bepergian Tanpa Mahram

Kesimpulan yang kudapatkan dari pembacaan berbagai literatur terkait pengharaman filsafat oleh Imam 4 Mazhab terpaku pada 2 tema besar. Pertama, terkait kedudukan akal dan naql. Kedua, terkait pengaruh filsafat Yunani pada abad pertengahan di dunia Islam. Terlihar indikasi pereduksian kekayaan filsafat. Kalau mau sedikit membaca, maka akan dipahami bahwa filsafat bukanlah ilmu kerdil yang terpaku pada 2 masalah itu saja. Memang 2 hal itu menjadi tema sentral dalam filsafat Islam. Tapi aliran yang ada dalam filsafat, tidak hanya filsafat Islam. Banyak varian, cabang, dan topik-topik yang dibahas oleh filsafat. Kalaupun mau jernih melihat sejarah ilmu, maka ilmu mana sieh yang saat ini tidak lepas dari filsafat? Kalau mereka mau lebih membuka mata, melepas kacamata kuda, maka tampaklah filsafat tidak sesempit yang mereka baca dari beberapa artikel agama.

Universitas Islam sekelas Al Azhar pun sampai hari ini masih memberikan pelajaran filsafat dan masih membuka jurusan Aqidah Filsafat. Memang benar, beberapa universitas di Saudi Arabia melarang pengajaran filsafat. Tapi indikasi politisnya lebih kentara, sebagaimana yang dikatakan Prof. Dr. Amer Yassen Mohamed El Naggar bahwa pelarangan filsafat di beberapa negara di Timur Tengah tak lebih dari ketakutan para penguasa feodal terhadap suara kritis yang dibawa oleh filsafat (silahkan baca pernyataan beliau secara lengkap di artikel yang penulis buat beberapa tahun lalu, Pengharaman Filsafat demi Eksistensi Penguasa Feodal.

Soal isbal dan jenggot, sudah terlalu panjang perdebatan ini berlangsung. Semua berakhir dengan saling menyalahkan dan saling melontarkan klaim-klaim sesat. Akhirnya cuma berujung kontraproduktif. Sibuk mengurusi isbal dan jenggot, tapi lupa dengan kewajiban lain yang lebih penting. Terlalu banyak korban berjatuhan jika kita memaksakan kehendak akan kewajiban dua hal ini. Banyak tokoh-tokoh Islam yang telah berjasa bagi umat yang akan dilecehkan ketika kita tetap berkukuh bahwa laki-laki yang isbal dan tidak berjenggot sebagai orang yang “kurang” dalam beragama. Mulai dari Syaikh Al Azhar, para petinggi di MUI, tokoh-tokoh pejuang Islam di negeri ini seperti Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi. Karena mereka isbal dan memotong jenggot.

Soal cara yang saya lakukan ketika meminta izin untuk pindah dari filsafat kepada orang tua yang anda salahkan, sungguh sangat tidak empatik. Saya berjuang sendirian, padahal telah berulang kali saya curhat dengan ustadz dan teman-teman di pengajian. Apa jawaban mereka? Saya diminta untuk berjuang sendirian. Anda tidak mengerti jarak Padang – Jogja yang ditempuh 2 hari 2 malam dengan bis. Anda tidak mengerti beban ongkos yang mesti saya keluarkan ketika harus pulang kampung. Anda tidak mengerti beban psikologis yang saya rasakan ketika harus berjuang melawan dilema ini sendirian. Anda tak pernah mengerti arti tangis seorang Ibu dan Ayah.

Mungkin anda akan berdalil dengan kaidah fiqh yang amat masyhur, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk, jika melanggar syariat Allah”. Tapi hati nurani saya mengatakan, pilihan saya untuk mengikuti kehendak orang tua adalah jalan terbaik saat itu. Mungkin anda adalah orang yang berani untuk menantang orang tua jika merasa perkataan mereka tidak sesuai dengan agama yang anda yakini. Tapi bagi saya tidak. Tersakitinya hati orang tua, bagi saya adalah dosa yang besar dan saya tidak sanggup melakukan itu.

Saya sebenarnya tak ingin memperpanjang persoalan ini. Karena tulisan “Kenapa Aku Meninggalkan Salafi?” hanyalah sebuah curhat yang murni berangkat dari pengalaman pribadi. Saya tidak sedang mengajak orang untuk membenci salafi. Tetapi saya hanya bercerita tentang kisah yang saya alami.

Ya, memang sulit untuk berempati. Karena lebih mudah memberikan cap dan  justifikasi. Terserahlah anda, jika ingin mengatakan saya orang yang tersesat. Saya tak ambil pusing dengan itu. Karena saya akan tetap berIslam sekuat kemampuan yang saya miliki.

Iklan