Baru jam setengah sepuluh lewat sepuluh aku terbangun. Setelah tadi mengulang tidur sepulang dari jam’ah shubuh di masjid asrama. Maklumlah, baru jam 2 aku bisa tidur karena mengerjakan orderan editan. Terdengar suara sayup-sayup dari ruang tv yang persis berada di depan kamarku. Segera aku bangkit dari pembaringan, melangkah ke sumber suara, meski masih hoyong karena belum sadar sepenuhnya. Ternyata ada berita baru, Pak Dien Syamsudin yang 7 bulan lalu ditinggal oleh istri tercinta, ahad kemarin melangsungkan pernikahan dengan Ibu Novalinda yang tak lain sepupu almarhumah istri pertamanya.

Sebenarnya pas tidur tadi aku bermimpi bertemu dengan Greaty. Wajahnya masih cantik seperti 9 tahun lalu. Senyum manisnya masih seperti dulu. Aku selalu heran dengan kehadiran Greaty dalam beberapa mimpiku yang terjadi di saat aku terpuruk dalam keputus-asaan pengembaraan cinta. Aku kembali dibawa pada memori indah masa lalu.

Mimpi tadi pagi memang hadirkan semangat baru, tapi bukan justifikasi untuk kembali menjalani penantian untuk Greaty. Sudah cukup waktu 13 tahun. Lagian sejak wisuda di pertengahan Februari tahun lalu, tidak ada lagi kontak aku dengan Greaty.

Aku ingin menjalani kehidupan baru. Jauh dari bayang-bayang masa laluku. Berjuang bersama sosok baru, demi masa depan yang lebih baik dari hari ini. Maafkan aku ya Great. Bukan karena aku tak lagi suka denganmu, tapi memang jalan hidup kita tak sama. Jauh di lubuk hati ini, namamu sudah abadi. Tak bisa lagi kuhapus dari goresan takdirku.

Teman-teman, pengunjung setia blogku. Memang blog ini didominasi oleh kisah percintaan yang pernah kualami. Terkesan seolah-olah hidupku hanya dipenuhi oleh cinta dan cinta. Tak bisa kupungkiri, aku tak bisa melepaskan diri dari cinta. Karena cinta memberikan aku kekuatan agar tetap teguh melewati lika-liku dunia. Memang cinta seringkali hadirkan rasa sakit yang tak terperi. Tapi, bukankah lewat rasa sakit kita bisa lebih menyadari betapa berartinya kebahagiaan?

Sempat juga terpikir olehku untuk menjadi pria tanpa cinta. Menjauhkan diri wanita. Tapi sungguh aku tak bisa. Tanpa cinta, hidupku serasa hampa. Memang pernah sieh, aku memutuskan hubungan dengan seseorang ketika memasuki semester akhir kuliah. Karena hubungan itu sangat menganggu keseharianku. Tapi, itu bukan berarti aku bisa lepas dari cinta. Selama semester terakhir, termasuk ketika berhasil mengerjakan skripsi dalam waktu 3 bulan, lamunan akan Greatylah yang memberikan aku kekuatan.

Kini Greaty telah pergi. Satu per satu gadis yang cuba kudekati untuk mengantikan Greaty, perlahan menjauh. Aku benar-benar rapuh saat ini, karena kehilangan cinta.

Sungguh aku butuh cintaMu Ya Allah, dan cinta dari hambaMu. Tak sanggup rasanya melewati hari-hari sunyi ini. Lewat kasihMu kupinta, temukanlah aku dengan bidadari itu….