Sungguh berat rasa untuk menerima kenyataan ini. Karena terlalu besar harapanku untuk bisa dekat denganmu. Tapi, obrolan kita tadi malam, telah memberikan jawaban.

“Maaf, ngak bisa. H**** sayang banget sama dia”. Itulah pengakuanmu yang membuat aku tersentak. Ternyata, engkau masih mencintai dia, seseorang di masa lalumu.

Aku bisa mengerti. 6 tahun menjalin kasih adalah waktu yang panjang, penuh dengan momen-momen spesial antara engkau dan dia. Setahun bubaran, tidak akan cukup untuk melebur rasa yang pernah ada.

Sementara aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanmu. Orang baru yang dikenalkan oleh Mbak Fina, yang juga belum pernah engkau temui, kecuali lewat dunia maya dan kekagumanmu akan cerita-ceritanya.

Aku binggung saat ini. Semangatku hilang. Aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat.

Kutuliskan bait demi bait kata ini, untuk meringankan sedikit perih di hati. Aku harus balik memutar langkah seraya mencoba melupakan rasa yang pernah ada. Bukannya aku tak mau untuk bersabar. Tapi, percuma saja aku mempertahankan harapan, karena engkau memang tak memberi ruang hatimu untukku.

Perih… Berat… Tapi itulah kenyataan yang kuhadapi. Aku tak boleh menangis. Terhempas badai asmara memang membuatku terluka. Tapi aku tak boleh hancur karena semua ini.

Aku harus kembali berdiri. Meneruskan perjalanan. Mungkin engkau bukan untukku. Aku harus mencari pelabuhan lain yang dengan rela hati menerima kehadiranku.

Maafkan atas khilafku selama kita saling bercerita. Karena mungkin ada selipan kata yang tak berkenan di hatimu. Tiada kebencian. Malah aku berterima kasih karena engkau telah bersedia menjadi teman kala sunyiku beberapa bulan ini. Tapi, aku harus pergi. Biar kita sama-sama kembali berjalan melalui takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita. Takdir yang berbeda, mungkin…