Sudah lebih satu jam melewati tengah malam. Tapi mataku belum jua mau terpejam. Telah kucuba membaringkan tubuh nan letih selepas kuliah dari siang hingga menjelang magrib tadi. Namun, tetap saja resah mengelayuti pikiran.

Tak ingin larut dalam gelisah, kuambil “Titik-Titik Kisar di Perjalananku”, sebuah autobiografi Prof. Syafi’i Ma’arif yang kubeli seharga Rp. 20.000 di stand promosi Mizan di Toko Buku Toga Mas Gejayan hari Sabtu yang lalu. Halaman demi halaman kubaca seksama. Aku hanyut dalam cerita yang disampaikan oleh Buya. Sambil mengenang nasib diri dan memutar memori akan kampung halaman.

Baru 2 minggu yang lalu aku balik dari kampung. 10 hari, ternyata belum mampu melepas rindu setelah 4,5 tahun bertahan di Jogja. Hingga, beberapa kali aku bermimpi dengan latar ranah Minang dan pertemuan dengan Bapak-Ibu.

Minggu ini, adalah minggu ketiga aku melewati kuliah Bahasa Inggris di Sanata Dharma. Meski sering keseleo lidah ketika berucap dalam Bahasa Inggris dan seringkali binggung dengan penuturan-handout yang diberikan oleh dosen, tapi aku begitu menikmati suasana baru ini. Kesalahan seringkali menjadi biang lelucon yang membuat seisi kelas tertawa.

Perlahan, aku mulai dekat dengan teman-teman satu kelas. Di sela-sela kuliah kita sering ngobrol tentang hal-hal ringan. Ada yang lebih muda, dan ada juga yang berumur 30-an. Semua bersama dalam satu semangat, belajar bahasa Inggris untuk masa depan yang lebih baik. Tak ada kompetisi, kecuali keinginan untuk sama-sama maju dan saling mengisi.

Salah satu “angkatan tua” yang cukup akrab denganku di kelas adalah Pak Naim. Dosen STAIN Tulungagung yang saat ini sedang menyelesaikan S2 di UIN Sunan Kalijaga. Kita sering ledek-ledekan. Aksi yang menarik perhatian teman-teman satu kelas yang heran melihat tingkah “orang-orang tua” yang “kekanak-kanakan”.

Baru kemarin aku terpikir untuk mencari akun Pak Naim di facebook. Aku lumayan terkejut melihat sedikit profilnya. Ternyata Pak Naim adalah penulis produktif. Sudah 4 bukunya yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkenal di Jogja: [1] Menjadi Guru Inspiratif, Pustaka Pelajar, 2009], [2] Rekonstruksi Pendidikan Nasional, [Teras, 2009], [3] Pengantar Studi Islam [Teras, 2009], [4] Pendidikan Multikultural [Ar-Ruzz, 2008]. Dalam hati aku berujar, “Ya Allah, begitu sayang Engkau kepadaku, hingga selalu saja ada sosok-sosok istimewa yang Engkau hadirkan di sekitarku.”

Suasana baru di Sanata Dharma, paling tidak membuatku sedikit bisa melupakan berbagai kekecewaan hidup yang seringkali membuatku rapuh. Terima kasih Ya Allah atas nikmat yang telah Engkau berikan. Mudah-mudahan perjuangan ini akan bermuara dengan kemanisan. Amien Ya Rabbal’alamin…