Persis seminggu yang lalu, hari terakhirku di kampung halaman. Jam 9.30 mobil Avanza milik kantor yang dikemudikan Bapak mulai bergerak meninggalkan kota Solok. Ada Ibu, Titin (adikku yang paling bungsu), Rani (anak Mak Pik, kakak Ibu, yang kuliah di Universitas Islam Sumatera Barat kampus Solok), Ria dan Zaki (anak tek Af, adik Ibu, yang disekolahkan di Solok) di dalam mobil. Sejak beberapa waktu ini sepupu-sepupuku itu tinggal di rumah kami di Solok. Ya, sejak dulu rumah kami selalu ramai. Ibu selalu membawa keluarga terdekatnya yang bisa dibantu baik dicarikan kerja ataupun disekolahkan.

Aku selalu kagum dengan Ibu.  Walaupun sudah menjadi guru golongan IV, Ibu tak malu untuk berjualan. Apapun dijual oleh Ibu asal laku. Dulu saat masih SD, Ibu sering ke Batam. Beli karpet dan keramik murah untuk dijual di kampung. Keuntungannnya lumayan. Pas SMP, kita jualan makanan ringan yang dititipkan di kedai-kedai sekolah. Menguliti ubi kayu menjadi pekerjaan rutin setiap sore. Sering aku kena marah karena lebih sibuk main bola daripada membantu beliau. Tahun 2004 yang lalu saat aku pulang, Ibu membuka kedai nasi dekat Masjid Lubuk Sikarah. Kemarin saat aku pulang, Ibu bisnis kelinci. Anak kelinci dibeli di Solok, kemudian diangkut ke Jambi untuk dijual di sana.

Aku pernah dapat cerita, sewaktu masih gadis, Ibu bahkan lebih “gila”. Bertarung dengan kecepatan kereta agar bisa menumpang ke Kayu Tanam atau Sicincin untuk berjualan. Di depan rumah kami yang di Pariaman ada lintasan rel kereta api. Meski bukan anak sulung dan masih ada kakak yang laki-laki,  Ibu yang paling bersemangat membantu Nenek untuk menambah pendapatan keluarga.

Berbeda dengan Bapak, yang lahir dari keluarga petani. Beliau pernah cerita tentang keahliannya mengasah parang untuk menyabit rumput. Seringkali Bapak dimintai tolong oleh tetangga untuk mengasah parang ataupun pisau. Sekarang di sela-sela kesibukan sebagai Sekretaris  KPUD Kota Solok, beliau masih sempat berkebun, menanam kakao dan cengkeh.

Menjadi pegawai negeri tak mencukupi untuk menutupi kebutuhan keluarga. Bapak dan Ibu harus menyekolahkan 3 anaknya di universitas, 1 di SMA, dan 1 di SMP. Belum lagi kewajiban untuk mengirimkan uang kepada nenek dan kakek serta membantu keluarga yang didera kesulitan ekonomi.

Mobil kami terus melaju. Memasuki Sumani (daerah menjelang Danau Singkarak), aku tak mau melepaskan pandangan dari sebelah kiri. Pada sebuah belokan di dekat Rumah Gadang tua yang kelihatannya tak lagi dihuni. Di sanalah tabrakan maut yang menimpa kami sekeluarga (kecuali Ibu dan Adikku paling kecil) 13 tahun yang lalu saat aku masih duduk di kelas 2 SMP. Beberapa meter dari belokan itu, berdiri sebuah rumah dengan arsitektur gaya lama  yang masih asri seperti 4,5 tahun lalu. Ya, itulah rumah Greaty, gadis pujaan hati yang menjadi inspirasiku selama belasan tahun. Mobil terus bergerak, hingga melewati jembatan Sumani yang di bawahnya mengalir Batang Lembang (bermuara di Danau Singkarak). Satu lagi tempat spesial yang tak mau kulepaskan dari tatapan mata adalah rumah Ririn, sahabat SMA-ku yang saat ini bekerja di PLN Riau. Aku masih ingat saat menjenguk ketika Ayah Ririn meninggal dunia. Kala itu, aku didaulat teman-teman untuk memimpin do’a ta’ziyah.

Tikalak, Ombilin, Tanjung Mutiara, Batipuh, Padang Panjang sudah terlewati. Mobil terus melaju menuju jalan ke arah Padang. Saat memasuki daerah Lembah Anai, aku merasakan nuansa damai yang begitu berbeda. Begitu nyaman, sejuk ketika dikelilingi hamparan hutan hujan tropis nan asri. Air terjun Lembah Anai, meski tak lagi deras seperti dulu, tetap menimbulkan rasa kagum di hati ini.

Malibo Anai, Kandang Ampek, Kayu Tanam, hingga akhirnya sampai juga di kampung tanah kelahiranku, Kepala Hilalang. Amak (Nenek) dan Suami Mak Pik sudah menunggu di depan rumah kami. Selang beberapa menit kemudian, rumah semakin riuh. Ada Rian (anak Mak Pik yang paling bungsu), Tari (anak Ande, adik Ibu), Mak Uwo (kakak nenek), Buk Nil (anak Mak Uwo) dan Ni Del (anak Pak Sofyan, tetanggaku di Solok).

Setelah menjamak sholat Dzuhur dan Ashar, perjalananpun dilanjutkan menuju Bandara Internasional Minangkabau Padang. Lamunan semakin kuat. Belum cukup rasanya 10 hari berada di kampung. Belum sempat bersilaturahmi ke tempat keluarga besar Bapak di Payakumbuh. Belum sempat bertemu dengan teman-teman SMA. Tapi apa hendak dikata, aku harus kembali ke Jogja.

Hari ini, persis seminggu aku berada di Jogja. Ada semangat baru yang menaungi beberapa hari ini. Mulai mengurus percetakan buku Mamak Zulharbi Salim, mengedit beberapa naskah buku, bertemu dengan dosen-dosen dan teman-teman baru di Sanata Dharma, menyaksikan seminar pak Nusyirwan di perpus Filsafat, menyempatkan bergabung dengan jama’ah di masjid untuk mendengarkan ceramah malam Rabu dan malam Jum’at, bertemu lagi dengan adik-adik IMM sekaligus dipercaya untuk mengisi materi DAD, dan ditelpon oleh Qusthan tadi sore yang semuanya berikan motivasi berharga bagiku.

Sungguh, sangat pantas rasanya aku bersyukur kepada Allah atas kehadiran orang-orang hebat di sekelilingku dan pengalaman-pengalaman berharga yang membuatku semakin dewasa dalam menyikapi dinamika hidup. Semua berikan kekuatan agar aku bisa bangkit dari kerapuhan diri atas kegagalan-kegagalan dan sakit karena cinta. Mereka semua membuatku tersenyum dan merasa begitu istimewa.

Terima kasih buat Bapak – Ibu, adik-adikku, keluarga besarku, teman-teman seperjuangan. Aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaan dan inspirasi yang telah mereka berikan. PadaMU Ya Allah aku mengucap syukur. PadaMu Ya Allah aku bertafakkur. Bimbinglah jalanku agar bisa membuat bangga mereka semua… Amien…