Kucuba kembali mengetikkan beberapa bait kata di blog ini dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Hari ini sungguh melelahkan. Dimulai dari kunjungan ke almamater tercinta, SMAN 1 Kota Solok. Beberapa guru masih mengenal wajahku dengan baik. Bahkan masih ingat dengan jurusan yang kuambil di UGM. Meskipun ada kecewa karena tak bisa masuk ke dalam kelas untuk  memberikan motivasi kepada adik-adik SMA, tapi aku cukup senang karena bisa melepaskan rasa kangen setelah kunjungan terakhir pada tahun 2006 yang lalu.

Kemudian, aku melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Bertemu mamak Zulharbi Salim untuk kedua kalinya. Banyak cerita yang beliau utarakan. Terutama pengalaman beliau di Timur Tengah selama 33 tahun. Ada manuskrip-manuskrip tulisan beliau sewaktu masih aktif sebagai wartawan, plus gambar-gambar jadul yang tentunya memiliki nilai sejarah tak ternilai. Sempat juga aku bertemu dengan Bunda Rahima yang beberapa kali mengomentari tulisanku di rantaunet dan kompasiana. Bunda Rahima adalah kandidat Doktor Tafsir Hadist di Universitas Al Azhar Mesir. Sebenarnya, Dr. Rifyal Ka’bah (Hakim Agung MA) juga akan bertamu ke rumah Mamak Zulharbi tadi sore. Tapi berhubung beliau masih ada acara keluarga di Pariangan Tanah Datar, sampai aku pamitan menjelang Magrib tadi, Dr. Rifyal belum datang di rumah Mamak Zulharbi.

Di tengah perjalanan menuju rumah Mamak Zulharbi, aku sempat singgah di Rumah Puisi Taufik Ismail. Sebuah tempat yang didedikasi oleh Pak Taufik untuk kemajuan sastra di Minangkabau. Kedatanganku disambut oleh seorang penjaga yang cukup ramah. Setelah sedikit ngobrol, akhirnya ku tahu sang penjaga itu bukanlah orang biasa. Namanya, Muhammad Subhan. Beliau juga rajin menulis dengan pengalaman 11 tahun sebagai wartawan. Tadi aku sempat diperlihatkan novel karangan beliau yang akhirnya kubeli sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Jogja. Rumah Puisi Taufik Ismail memang didirikan di tempat yang sangat strategis. Dari dalam atau pekarangannya, kita bisa menyaksikan dua Gunung kebanggaan masyarakat Minang, Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Suasananya sejuk yang membuat kita nyaman membaca 7000-an koleksi buku Pak Taufik Ismail yang ada di Rumah Puisi itu. Bagi yang ingin menginap, bisa langsung ke Cottage Aia Angek yang dibangun persis di sebelah Rumah Puisi. Kata Uda Subhan, cottage ini merupakan kepunyaan politisi Gerindra, Fadli Zon.

Menembus gelapnya malam, motorku melaju melintasi jalan Padang Panjang Solok. Alhamdulillah, aku bisa sampai di rumah dengan selamat. So, kayaknya letih ini terasa makin berat. Agaknya aku mesti istirahat. Demikian dulu postinganku kali ini. Aku ingin istirahat sambil menikmati malam terakhir di kampung halaman sebelum take off besok sore dari Bandara Internasional Minangkabau…