Menjelang magrib tadi, hujan turun. Hujan pertama selama aku berada di kampung. Di pintu musholla aku berpapasan dengan mamanya Elsa. Beliau langsung tersenyum dan menanyakan perihal kedatanganku. Sejenak aku tercenung, teringat seseorang yang mengisi lamunanku seminggu ini. Ya, aku teringat dengan Elsa. Terakhir, kita bertemu di Jakarta. Di bulan Juni tahun lalu, ketika aku melewati tes kerja di Pelindo II Jakarta.

Tinggal 2 hari lagi aku di kampung. Ahad sore besok aku harus kembali ke Jogja. Karena hari Senin, kuliah pertama di English Extension Course Sanata Dharma sudah dimulai. Sebenarnya banyak tempat yang belum kukunjungi; Rumah Puisi Taufik Ismail di jalan menuju Bukittinggi yang direkomendasikan sama Nadia (adik asrama Bundo Kanduang Jogja yang sekarang mengajar di Thawalib Padang Panjang), kunjungan ke tempat keluarga Bapak di Payakumbuh, dan bertemu dengan teman-teman SMA. Tapi apa hendak dikata, kayaknya memang tak sempat lagi mengadakan perjalanan ke luar kota. Agenda besok adalah pergi ke SMA tercinta (SMAN 1 Kota Solok) dan hari Ahad siap-siap berangkat ke Bandara Internasional Minangkabau di Perbatasan Padang dengan Pariaman.

Tadi sore, Bu Wid (teman Da Febri yang lagi ambil S3 di Filsafat UGM) menelponku. Menanyakan perihal literatur Minang yang kumiliki. Dengan agak berlebihan, Da Febri bilang sama Bu Wid bahwa aku punya seabrek referensi Minang. Ah, ada-ada saja. Padahal, cuma beberapa buku Minang yang kumiliki. Tapi tak apalah. Kebetulan, kemarin aku membeli beberapa buku tentang Minang di Sari Anggrek Padang. Siapa tahu bisa membantu Bu Wid.

Aku sudah sampai pada tahap kepasrahan soal pernikahan. Pikiranku sekarang hanyalah, bagaimana cara mendapatkan beasiswa S2. Bukan karena aku sudah putus asa soal cinta. Tapi, mana ada gadis yang mau dengan status pengganguran sepertiku. Wajarlah, pertimbangan kemampanan finansial merupakan hal penting yang menjadi kriteria seorang gadis mencari pasangan. Sulit untuk mencari yang mau memulai bersama-sama dari nol. Sangat Sulit…

Kepulangan kali ini, kembali membuatku menyadari akan kelemahan diri. Membuatku paham kenapa dulu aku menjadi seseorang yang sangat introvert hingga berpengaruh pada situasi psikologis. 9 tahun di Jogja sedikit mengubah jalan hidupku. Bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh hebat. Bisa belajar banyak hal-hal baru. Bisa mengantungkan mimpi-mimpi baru. Tapi kisah masa lalu, memang sesuatu yang sulit kulupakan.

Segitu dulu yang mampu kutuliskan malam ini. Mungkin terasa tulisan kali ini melompat-lompat tak jelas dari satu cerita ke cerita lain. Tapi mudah-mudahan pengunjung blog-ku nan setia bisa sedikit terhibur lewat tulisan ini…