Setelah istirahat sejenak, tur pertamaku dimulai pada hari Sabtu (12/02/2011), mengunjungi Mamak Zulharbi Salim di Pondok Pesantren Al Harbi Rambatan Tanah Datar. Baru pertama kali kami bertemu, dimana sebelumnya interaksi lebih sering di handphone dan facebook.

Hari Senin (14/02/2011) giliran kota Padang yang kudatangi. Di daerah Kayu Aro (komplek Kantor Bupati Kabupaten Solok), tiba-tiba Qusthan (Adik kelas di Filsafat UGM) menelponku. Dia menyampaikan sebuah kabar gembira, lulus seleksi program beasiswa ADS ke Australia. Benar-benar berita suprise. Aku turut senang lewat keberhasilannya itu. Karena ku tahu Qusthan sudah lama menantikan beasiswa ke luar negeri.

Sesampai di Padang, langsung kucari angkot ke Siteba, tempat kediaman Buya Mas’oed Abidin. Kunjungan ini merupakan silaturahmi ekslusif  untuk membicarakan penerbitan buku “Pesan-Pesan Mohamad Natsir”. Banyak hal yang beliau sampaikan kepadaku. Hingga hampir dua jam kami ngobrol berdua. Satu hal yang membuatku terharu adalah ketika Buya mengatakan,

“Sebenarnya Buya bisa saja mengirimkan naskah Pesan-Pesan Mohamad Natsir ke Mizan. Mereka pasti menerima. Tapi, apa untungnya Buya mengirimkan ke penerbit besar? Oleh karena itu, Buya percayakan buku ini kepada Ananda. Jadikanlah ini sebagai jihad fi sabilillah. Kalau Buya menyerahkan ke penerbit besar, itu hal biasa. Tapi ketika ketika buku ini bisa membesarkan penerbit Ananda, barulah itu kerja luar biasa. Kalau itu tercapai, ada 2 kebahagiaan yang Buya rasakan. Pertama, tersampaikannya pesan-pesan Natsir kepada bangsa ini. Kedua, Buya telah merealisasikan pesan Natsir yakni memberdayakan orang-orang lemah.”

Mengapa aku tidak jadi terharu? Penerbitanku hanyalah sebuah penerbitan kecil yang baru berjalan tertatih-tatih. Tapi kepercayaan yang diberikan begitu luar biasa. Buya Mas’oed Abidin adalah ulama besar di Sumatera Barat. Beliau adalah sekretaris terakhir Mohamad Natsir. Sejak tahun 1958, beliau sudah mendampingi Natsir dalam perjuangan dan dakwah. Sementara, aku hanyalah pemuda biasa. Tak punya kelebihan apa-apa, kecuali mimpi besar untuk menjadi orang besar.

Menjelang adzan Ashar aku pamit kepada Buya. Setelah sholat di Masjid Al Munawarah Siteba, perjalananpun dilanjutkan menuju rumah Da Iqbal (Dosen Unand yang dulu kuliah di program Doktoral UGM). Dalam pertemuan itu, Da Iqbal memperlihatkan naskah bukunya kepadaku. Naskah etnografi yang bagus, terkait perbandingan pola-pola migrasi antara berbagai suku bangsa di Indonesia.

Haripun beranjak malam. Akupun diantar oleh Da Iqbal ke rumah Onang di Balimbiang Mangga Raya. Menumpang menginap semalam.

Selasa Pagi (15 Februari 2011), sejuknya udara Padang membangunkan dari tidur. Setelah sholat Shubuh, mandi, sarapan dan ngobrol sebentar dengan Onang sekeluarga, akupun pamitan ke Sari Anggrek (toko buku terkenal di kota Padang). Lima buku bertemakan Minangkabau plus vcd berisikan instumen Bansi menjadi buah tangan, sebelum aku kembali ke Solok.

Rabu Pagi (16 Februari 2011), saatnya kunjungan kampung halaman, Kepala Hilalang Pariaman. Di sepanjang perjalanan aku masih saja terpukau menyaksikan bukit barisan nan tetap hijau, sama seperti dulu kutinggalkan. Lembah Anai masih hadirkan nuansa kesejukkan meskipun air mancurnya tak deras seperti dulu. Kusempatkan juga menuju pantai Gandoriah di Pariaman. Mengejar momen matahari tenggelam. Sebenarnya, pingin balik malam itu juga. Tapi Anduang menahanku untuk bermalam. Ya, aku tak kuasa permintaan beliau.

Baru jam 11.20 tadi aku sampai di Solok. Ketika mengisi bensin di perbatasan kota, giliran Mas Gonda (teman di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM – Mahasiswa Jamia Islamia dan Annamalai University India-  yang sekarang liburan di Indonesia) yang menelponku. Dengan awalan yang agak aneh (karena mengaku sebagai polisi), akupun tersenyum lebar ketika dia mengaku sendiri. Ya, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Tapi suaranya yang khas masih begitu familiar bagiku.

Saat ini aku masih sibuk memutar kisah-kisah indah yang terekam di pikiran selama seminggu aku berada di kampung halaman. Aku benar-benar terharu. Ranah Minangku masih seperti dulu. Masih dengan keindahan dan kedamaiannya. Masih dengan keramahan dan saling tegur sapanya. Kondisi yang membuatku bertanya-tanya, apakah aku tidak ditipu oleh orang-orang yang mengatakan ranah minang sekarang berubah???

Tinggal 3 hari lagi aku menikmati liburan. Hari Ahad besok aku harus kembali ke Jogja. Tiket pesawat sudah dibooking. Kursus persiapan Bahasa Inggris sudah dimulai di hari Senin. Seabrek naskah harus segera dirampungkan untuk diterbitkan. Orderan buku harus segera dikirimkan. Ya, mudah-mudahan kepulangan kali ini memberikan semangat baru bagiku. Karena begitu besar harapan yang diberikan orang kampung kepadaku. Tidak hanya untuk menjadikan diri lebih baik dari hari ini, tapi juga kontribusi pemikiran untuk ranah Minang yang lebih baik…