Kucuba ketikan kata lagi. Dari warnet sebelah rumah di Solok. Ya, kemarin pesawat Lion Air yang kutumpangi mendarat di Bandara Internasional Minangkabau Padang. Langit sore nan cerah Ranah Minang menyambutku setelah 4,5 tahun kutinggalkan.

Dari atas udara, sering aku menoleh dari jendela pesawat. Menyaksikan hamparan hujan tropis Sumatera yang masih bertahan di tengah serobotan perusahaan kertas dan pembukaan ladang-ladang sawit. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Beberapa momen pesawat yang kutumpangi mengudara di atas Samudera Hindia. Laut nan biru dan hamparan pasir putih di pinggir pantai, membuatku tercenung, Tuhan betapa indah negeri ini. Sempat juga aku melihat kemegahan stadion Agus Salim, tempat Semen Padang, melakoni laga tandang, dari ketinggian menjelang pesawat landing.

Di pintu keluar Bandara, Bapak sudah menungguku.Beliau ditemani oleh teman kantor, yang ternyata adalah Ayah sahabatku, Yossy. Naik mobil APV Arena milik kantor, kami langsung melaju menuju Solok. Perjalanan yang menyejukkan mata. Karena di sepanjang perjalanan, terhampar pohon-pohon nan hijau. Ranah Minangku ternyata masih asri. Apalagi ketika memasuki kawasan hutan raya Bung Hatta yang terkenal dengan tanjakan Sitinjau Lauik yang seringkali membuat mobil-mobil pengangkut barang meraung karena harus melaju dengan porseling satu.

Baru jam 7 malam aku sampai di rumah. Disambut oleh Ibu, adik-adik, Mak Uncu, dan sahabat kecilku, Affan yang dulu kuliah di Unibraw Malang. Rumah baru yang dibeli bapak setahun yang lalu.

Setelah makan malam, kusempatkan ke musholla dekat rumah. Aku terpaksa sholat sendirian, karena sholat  jama’ah sudah selesai. Masih tampak wajah-wajah lama, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang dulu menjadi teman obrolanku sewaktu masih SMA. Dan satu berita yang tak kusangka, ternyata sekarang Bapak mengisi kajian di Musholla. Aktivitas yang sudah lama beliau karena terjun di dunia politik. Aku masih ingat alasan Bapak meninggalkan dakwah,”Politik yang kotor tak bisa dicampuri dengan agama yang suci”, begitu argumen beliau kala itu.

Ternyata udara malam di Solok, jauh lebih dingin dari Jogja. Aku harus mendoble jaket dengan selimut untuk mengusir dingin yang menembus tubuhku. Untunglah aku bisa terjaga kala adzan Shubuh berkumandang. Sholat Shubuh yang panjang, karena setiap Jum’at di musholla dekat rumahku itu biasa membawakan surat As Sajadah.

Selesai sholat, sesama jama’ah saling bersalaman. Kebiasaan yang tak hilang meski sudah hampir 9 tahun aku tak di kampung. Aku begitu menikmati kehangatan jama’ah lewat obrolan ringan sambil menunggu langit sedikit cerah. Dan spesialnya adalah, teman obrolanku tadi pagi adalah Papanya Elsa, Pak Syawal, yang dulu sering memotivasiku ketika masih SMA. Ah, kalau saja Elsa ada di sini, sungguh aku teramat bahagia.

Eh sebelum lupa, aku ingin menceritakan 2 telpon istimewa yang singgah di handphoneku ketika menunggu jadwal keberangkatan dari Jakarta ke Padang. Pertama, dari Mbak Shinta, staf Koran Jepang Kedubes Jepang di Jakarta yang meminta nomor pak Nusyirwan kepadaku karena beliau menemukan resensi Buku “Manusia Minangkabau” di internet. Kata Mbak Shinta, Koran Jepang akan melansir theme tentang matrilineal Minangkabau. Kedua, adalah telepon dari staf Penerbit Tiga Serangkai yang memberitahukan GM Marketing Tiga Serangkai ingin bertemu denganku.

Besok, aku diundang oleh mamak Zulharbi Salim ke Batusangkar untuk penandatanganan mou penerbitan buku. Nanti malam Adel dan Yolli, teman SMA-ku, mengajak kumpul di depan Telkom Solok.

Ingin kuucap syukur padamu Ya Allah. Ternyata ranah Minang masih menyambutku dengan senyum cerianya…:)