Pertengahan tahun 2004, kala liburan semester genap. Aku lebih banyak termanggu di kamar. Resah dalam dilema. Kuliah berantakan karena mulai membenci filsafat, sementara tak boleh ikut ujian SPMB lagi sama Bapak. Aku disuruh bertahan kuliah di filsafat UGM. Ceramah demi ceramah tentang haramnya filsafat dari para ustadz salafi semakin membuatku bimbang. Hingga akhirnya aku nekat berangkat ke Surabaya dengan kereta untuk mengikuti tes penerimaan mahasiswa program I’dad Du’at Ma’had Al Irsyad Surabaya.

Setelah menempuh perjalanan 5 jam aku sampai di Surabaya. Kemudian naik angkot menuju Ma’had. Setiba di Ma’had, sholat Dzuhur dan  langsung mengisi lembar jawaban. Setelah Ashar akupun diantar ke asrama. Ditempatkan di sebuah kamar besar bersama teman-teman dari berbagai daerah yang juga ikut tes seleksi mahasiswa baru. Mulai lulusan SMA, sampai pedagang keliling yang tertarik untuk belajar agama. Aku seperti orang kebinggungan. Lebih banyak melamun sendiri. Sampai lelahpun membelit tubuhku. Jam 2 dinihari aku tersentak, terbangun dari tidur. Kulihat beberapa teman-teman baru yang kukenal tadi sore, menukar pakaian. Mereka tampak rapi. Terdengar takbir lirih di tengah kesunyian malam. Ya, mereka lagi sholat malam.

Adzan Shubuh berkumandang. Akupun melangkah ke masjid dekat asrama. Selesai sholat, akupun menemui pengurus Ma’had. Pamitan, pagi ini mau kembali ke Jogja. Setelah mendapat gambaran trayek angkot ke stasiun Gubeng, akupun bersalaman dengan beberapa teman dan diberitahu oleh ustadz pengawas asrama bahwa hasil tes akan dikabari beberapa hari lagi.

Kembali kuhirup segarnya udara Jogja. Sampai di stasiun Tugu sekitar jam 12-an. Namun, resah belum juga menghilang. Tibalah hari pengumuman tes seleksi Ma’had. Menumpang di wartel Da Ut, kupencet nomor telepon Ma’had lengkap dengan kode wilayah Surabaya. “Antum lulus Akh. Silahkan datang ke sini untuk registrasi…” Aku melonjak girang, impian lamaku untuk belajar agama sudah di depan mata. Kubulatkan tekad untuk berhenti kuliah dengan alasan buat apa kuliah yang mempelajari ilmu “haram”. Kuberanikan diri menelpon ke kampung. Ke nomor tetangga karena di rumah tidak ada sambungan telpon. Menunggu beberapa saat, ku dengar suara Ibu dari ujung sana. Setelah menghela nafas panjang, dan menahan debaran jantung yang tak beraturan, kusampaikan pada ibu bahwa aku lulus tes Ma’had di Surabaya, dan ingin berhenti kuliah di UGM.

Beberapa jam kemudian, Ibu balik menelpon ke Jogja. Beliau bilang Bapak ngamuk. Piring di dapur dilempar semua ke lantai. Beliau kecewa dengan keputusanku berhenti dari UGM. Terdengar isak tangis Ibu. Sambil memohon agar aku mengurungkan niat “gila” itu.

Beberapa hari kemudian dengan menumpang bis, Ibu datang ke Jogja. Sangat kentara wajah kusut dan lelah di wajah beliau setelah melewati perjalanan panjang 2 hari 3 malam dari kampung. Ibu terus saja menangis. Sementara aku masih kukuh dengan pendirianku, berhenti kuliah.

Di hari terakhir menjelang keberangkatan Ibu kembali ke kampung, beliau kembali memohon agar aku tetap melanjutkan kuliah di UGM. Airmata kembali membanjiri wajah beliau. Ah, aku tak kuasa melihat Ibu menangis. Hingga kukatakan sama Ibu,

“Iya Ma. Gun nurut sama yang Mama katakan. Gun akan melanjutkan kuliah dan akan membatalkan masuk Ma’had.”

Barulah wajah Ibu sedikit tersenyum. Sementara aku tetap saja bimbang karena harus kembali ke kampus yang telanjur kubenci. Aku sendirian menghadapi situasi dilematis itu. Kakak senior di asrama, hanya tertawa saja melihat kebinggunganku. Teman-teman di pengajian seolah tak mau tahu dengan masalahku.

Dalam kondisi demikian, tiba-tiba ada bisikan yang hadir. “Bukankah durhaka kepada orang tua lebih nista daripada sekedar kuliah di filsafat, meskipun diharamkan oleh para ulama? Ayo, kamu bisa bangkit Gun. Kamu bisa memulai lagi. Kembalilah kuliah. Jangan hiraukan lagi  sindiran para ustadz yang memojokkanmu. Yang penting engkau bisa membahagiakan orang tuamu…” Bisikan yang membuatku tersentak. Sadar akan satu hal bahwa aku tak boleh jadi anak durhaka.

Empat setengah tahun-pun berlalu. Aku sudah berada di tengah podium Grha Sabha Pramana. Rektor Universitas Gadjah Mada memasang senyum ketika memandangku sambil menyerahkan ijazah biru. Ya, akhirnya aku diwisuda dengan kehormatan sebagai lulusan terbaik filsafat periode wisuda Februari 2010. Penantian bertahun-tahun Ibu dan Bapak, terpenuhi sudah. Hanya kebahagiaan itu yang mampu kuberikan setelah tangis yang tertumpahkan beberapa tahun sebelumnya.

Wisuda ternyata bukan akhir dari semua polemik. Aku kembali menghadapi situasi pelik. 10 bulan mencari kerja, wara-wiri Jakarta – Jogja untuk mengikuti panggilan tes hanya berujung nihil. Untunglah Bapak selalu menyemangatiku bahwa semua kegagalan itu hal yang biasa. Yang penting harus tetap optimis.

Pertengahan bulan Desember 2010, kubulatkan tekad tidak akan memasukkan lamaran kerja lagi. Akupun memulai usaha penerbitan buku dengan modal apa adanya. Mulai mempromosikan jasa layanan penerbitan di blog, facebook dan milis. Alhamdulillah, beberapa email dan sms masuk menanyakan lebih lanjut tentang jasa yang kutawarkan. Hingga hari ini, alhamdulillah sudah 10 naskah buku dan novel yang dipercayakan kepada penerbitanku.

Kemarin (Rabu, 2 Februari 2011), akupun dinyatakan diterima English Extention Course Universitas Sanata Dharma setelah melewati seleksi ketat karena harus melewati standar nilai minimal kelulusan. Adik kelasku bercerita, ia baru lulus setelah percobaan kedua. Kekhawatiran tidak lulus kuat mengerogotiku menjelang keberangkatan ke Sanata Dharma untuk melihat hasil tes. Alhamdulillah, namaku tertera sebagai peserta yang lolos seleksi.

Kembali kulambungkan mimpi . Meski kutahu ini baru permulaan perjuangan meraih beasiswa s2 di luar negeri. Demi Bapak dan Ibu, aku akan semangat untuk mewujudkan mimpi ini. Karena aku ingin melihat senyuman beliau lagi, seperti senyuman kala aku diwisuda sebagai sarjana UGM.

Seiring dengan kegembiraan itu, akupun mulai berkenalan dengan seorang gadis baik yang dikenalkan oleh Mbak Alfina, penulis novel “Aura Cinta Naura”. Ia datang hadirkan bahagia. Ia datang hadirkan ceria. Entahlah, seiring aku mengenalnya, rasa cinta mulai merasuk dalam hatiku…

Dinginnya malam belai tubuhku. Di titik ini, kuselesaikan postingan. Tapi sebelumnya izinkanlah aku mengucapkan ribuan terima kasih kepada teman-teman pengunjung setia blogku. Yang selalu menyempatkan waktu untuk membaca dan mengunjungi laman sederhana ini. Kebersamaan teman-teman telah membuatku kuat menghadapi halang dan rintangan. Mudah-mudahan kebersamaan ini akan terus terjalin meskipun kita tak bersua di dunia nyata… Makasi semua….:)